MATERI LOKAKARYA PENERJEMAHAN FESTIVAL PEMBACA INDONESIA 2016

Menerjemahkan Idiom, Alih Bahasa dengan Rasa
Pengenalan penerjemahan fiksi secara umum serta latihan menerjemahkan dan memahami idiom.

Waktu: Minggu, 11 Desember 2016, pukul 10.00-12.00 WIB
Lokasi: Museum Nasional, Jakarta
Mentor: Barokah Ruziati, Dina Begum, Eka Budiarti, Lulu Fitri Rahman, Meggy Soedjatmiko, Melody Violine.

MAKALAH PENERJEMAHAN IDIOM

slide1

Continue reading “MATERI LOKAKARYA PENERJEMAHAN FESTIVAL PEMBACA INDONESIA 2016”

47. Interworld

I enjoyed translating this book. I didn’t find any annoying characters, the story is easy to chew – Tanti Lesmana

Tanti Lesmana's Weblog

*InterWorldby Neil Gaiman and Michael Reaves


I’m going to finish the last ten pages tomorrow. Meanwhile, here’s a brief summary about this book. Basically it’s a battle of power between worlds. HEX and Binary are two powerful forces in the Multiverse, and both are determined to be the one and only ruler of all. While HEX relies on magic, Binary depends on science. Interworld is some sort of guerilla forces, an unwanted mediator who tries, in vain, to enlighten both warring parties that peace and harmony can only be achieved when there is balance between science and magic. The protagonist, Joey Harker, is an ordinary kid who turns out to be not so ordinary after all, because he posseses the ability to Walk between worlds, a talent that he finds out quite unexpectedly one day, when he Walks into the In-Between unknowingly and meets Jay, a field officer…

View original post 87 more words

46. Recipes for…

Cerita Mbak Tanti Lesmana ketika menerjemahkan salah satu novel favorit saya

Tanti Lesmana's Weblog

* Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

Four more chapters and I’m done. Pheww. I like this book a lot, really. If there is anything or anyone I don’t like here it’s Tressa Nolan, one of the main voices in this book. She is too insecure, too fussy and superficial for my taste. I gritted my teeth when translating those chapters about her. She stalled me, unlike her grandmother, Bernadine. My fingers practically “flew” on the keyboards when translating her stories. Good old Bernadine, she’s one woman I could relate to. A lovable social butterfly in her time, strong, not without faults, of course, but a lot more admirable than her granddaughter. And many of her remarks made me laugh.
Well, these last four are about Tressa, clearly. Maybe I can finish them in…umm… say, two weeks? (Grimace)

And oh, by the way, here is one of my…

View original post 39 more words

Riset Penerjemah

“Dalam hal ini aku ingin menambahkan, curiga jugalah pada gelar, julukan, nama tempat, nama tumbuhan, juga nama hewan.” – Nur Aini

Zona Aini

Dalam naskah The Vampire karya Jan Neruda yang aku jadikan bahan untuk Klinik Terjemahan 2015, ada nama bergelar serta nama tempat yang perlu diselidiki kalau-kalau ada padanan Indonesianya.

The Vampire

Charles the Great itu gelar, sebaiknya dicari padanan Indonesianya atau diterjemahkan. Seperti Alexander the Great yang adalah Alexander Agung.

Cari Charles the Great di wikipedia berbahasa Inggris:

Charlemagne

Oke, jadi Charles the Great adalah Charlemagnedan nama latinnya Carolusatau Karolus Magnus. Bagaimana dengan padanan Indonesianya?

Cari “Charles the Great” di wikipedia berbahasa Indonesia atau bisa pakai Google dengan cara menambahkan ‘wiki id’ di belakangnya, seperti ini:google charlesHasilnya:
Karel yang AgungKarel yang agung wiki

Charles the Great = Charlemagne = Karolus Magnus = Karel yang Agung

Sudah? Belum. Coba kita cari di buku lewat Google Books, siapa tahu menemukan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan bahan terjemahan.
Karel yang agung buku

Eh, ternyata di buku Istanbul halaman 135 ada “… Prinkip,  pulau terbesar di Kepulauan …” itu seperti yang ada di bahan terjemahan, ya? Coba kita buka:
Eirene Prinkip, Istanbul 135 a

Wah, dapat…

View original post 149 more words

Tanggapan peserta Klinik Terjemahan 2015

Wah. Terima kasih! Senang rasanya melihat banyak masukan atas terjemahan saya, ternyata susah yaaaa menerjemahkan novel, hahaha… Ingin belajar lagi niiiiiih 🙂
–Shirley P

Terima kasih banyak atas masukan-masukannya yang tentunya sangat berarti buat saya. Semoga dengan pengalaman yang saya terima dari klinik penerjemah ini bisa membuat kemampuan saya lebih terasah dan menjadi penerjamah yang lebih baik.
Sekali lagi, saya ucapkan banyak terima kasih atas rekan-rekan penerjemah senior yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar memberi kami (para penerjemah junior) masukan dan motivasi untuk lebih maju.
–Daris

Terima kasih untuk informasinya. Terima kasih juga untuk koreksinya. Banyak ilmu di sana 🙂
Senang bisa jadi bagian dari kegiatan ini. Mudah-mudahan kontak kita bisa berlanjut 🙂
–Demi Melinda

Terimakasih banyak untuk para pengampu klinik ini, saya merasa dapat masukkan yang berharga.
Semoga saya bisa berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya!
–Imam

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memeriksa hasil terjemahan saya
semoga Ibu – ibu senior ini dapat mengadakan kembali latihan seperti ini dengan lebih sering.
–Bosnia

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 07

Teks sumber:

Prologue                                                  

The arguing had gone on most of the night. In her room just three doors down the hall from her parents’ master suite, Abby had been able to hear the sound of raised voices, but not the words. It wasn’t the first time they’d fought recently, yet this time something felt different. The noisy exchange itself and fretting about it kept her awake most of the night.

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she’d only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time—quite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

She tried to quiet her panic, reminding herself that her dad, Mick O’Brien, left all the time. An internationally acclaimed architect, he was always going someplace for a new job, a new adventure. Again, thoug, this felt different. He’d only been home a couple of days from his last trip. He rarely turned right around and left again.

“Abby!” Her mother sounded startled and just a little edgy. “What are you doing up so early?”

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard. Most teenagers, including Abby and her brothers, hated getting up early on the weekends. Most Saturday it was close to noon when she finally made her way downstairs.

Abby met her mother’s gaze, saw the dismay in her eyes and knew instinctively that Megan had hoped to be gone before anyone got up, before anyone could confront her with uncomfortable questions.

“You’re leaving, aren’t you?” Abby said flatly, trying not to cry. She was seventeen, and if she was right about what was going on, she was the one who was going to have to be strong for her younger brothers and sisters.

Megan’s eyes filled with tears. She opened her mouth to speak, but no words came out. Finally, she nodded.

“Why, Mom?” Abby began, a torrent of questions following. “Where are you going? What about us? Me, Bree, Jess, Connor, and Kevin? Are you walking out on us, too?”

“Oh, sweetie, I could never do that,” Megan said, reaching for her. “You’re  my babies. As soon as I’m settled, I’ll be back for you. I promise.”

Terjemahan dan suntingan:

Tiurida-1 Tiurida-2

Ulasan:

  1. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Meski kadang-kadang terkesan sepele, penerjemah yang baik, menurut saya, sangat disarankan untuk memahami kaidah EYD.

Misalnya, pemakaian huruf besar atau kapital. Secara umum, huruf kapital dipakai di huruf pertama sebuah kalimat, nama orang/bulan/tahun/hari, dan dalam petikan langsung. Kata sapa seperti ‘Ibu’ juga harus diawali huruf besar. Kata-kata seperti ‘arsitek’ (profesi) dan ‘beliau’ (kata ganti orang) tidak perlu diawali dengan huruf besar. Pengecualian terdapat pada kata ganti orang ‘Anda’ yang selalu diawali huruf besar.

Pelajari juga pemakaian kata depan ‘di’, ‘ke’, dan ‘dari’, yaitu terpisah dari kata berikutnya. Bedakan kata depan tersebut dengan imbuhan ‘di-‘, yaitu digabungkan dengan kata kerja berikutnya karena menandakan kata kerja pasif. Jadi, gunakan ‘di setiap’ alih-alih ‘ditiap’ dan ‘ke mana’ alih-alih ‘kemana’.

KBBI juga harus menjadi senjata penerjemah. Periksa selalu ejaan yang benar, misalnya untuk ‘air mata’.

  1. Rasa Bahasa

Dalam menerjemahkan, kita juga harus melihat genre dan konteks ceritanya. Kalau dialog terjadi antara ibu dan anak, pilih kata yang tidak terlalu kaku, misalnya ‘kenapa’ dan ‘aku’. Tidak perlu gunakan ‘Anda’ kalau hubungan kedua tokoh sudah akrab.

Kadang-kadang, pemakaian slang atau bahasa sehari-hari juga dibolehkan–dengan catatan, memang sesuai dengan gaya penulisan (disebut juga gaya selingkung) sang penulis.

  1. Logika

Saat menerjemahkan, lama-kelamaan kita akan melihat fakta-fakta yang disebarkan penulis di sepanjang bukunya. Penerjemah sebaiknya bisa merangkai fakta itu agar transfer informasi (dan budaya) berjalan mulus. Misalnya, di paragraf kelima, tertera:

Most teenagers, including Abby and her brothers…

Lalu, di paragraf ketujuh ada kalimat:

for her younger brothers and sisters.

Jadi, bisa disimpulkan Abby anak tertua dan punya beberapa adik. Bahasa Inggris cenderung menyebut ‘brother and sister‘, sementara budaya Indonesia cenderung memakai istilah ‘adik-kakak’. Gunakan fakta di paragraf ketujuh ke paragraf kelima dan gabungkan dengan budaya lokal sehingga lebih aktual dan membumi. Pemakaian kata ‘saudara laki-laki’ atau ‘saudara yang lebih muda’ tidakah salah, tapi kurang efektif sekaligus bisa berarti ganda, yaitu relative atau sanak-saudara.

  1. Tata Bahasa

Meski menerjemahkan ke bahasa Indonesia (bahasa target), kita juga harus cermat memahami bahasa asal (bahasa Inggris). Perhatikan tata bahasa untuk kalimat:

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard.

Abby tidak terkejut melihat ibunya tertangkap basah.

–> Abby bisa mengerti kalau ibunya tampak terkejut.

  1. Efektif dan Padu

Siapa bilang penerjemah tidak boleh mengubah susunan kata naskah asli pada terjemahan? Menurut saya, khusus untuk novel/fiksi, hal itu sah-sah saja. Anda bisa mengubah susunan kata, bahkan menjungkirbalikkan kalimat-kalimatnya demi mendapatkan kalimat yang koheren, padu, efektif, enak dibaca, dan sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Penting juga diingat bahwa pembaca harus paham dalam satu-kali baca dan Anda tidak merusak gaya penulisan sang penulis.

Misalnya, jika dalam satu kalimat ada terlalu banyak anak kalimat dan malah membuat pembaca bingung (mungkin karena terlalu banyak koma), bagi saja menjadi dua kalimat. Ini cara yang wajar dan jamak.

Pada paragraf pertama dan kedua, ada beberapa susunan yang ‘diputar’ agar lebih efektif dan padu.

Naskah asli:

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she’d only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time—quite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

Hasil suntingan terjemahan:

Abby berharap bahwa pertengkaran itu hanya imajinasinya, bahwa ketegangan yang terasa membelit di perutnya hanyalah rekayasa imajinasinya yang terlalu berlebihan padahal tidak terjadi apa-apa. Namun, saat menuruni anak tangga beberapa saat setelah fajar dan melihat koper-koper di lorong depan, dia pun mengerti. Kali ini, ada yang pergi—kemungkinan besar untuk selamanya, jika dilihat dari jumlah koper di pintu.

Tips-tips:

  1. Utamakan kalimat yang efektif dan padu agar pembaca mudah mencernanya. Coba posisikan diri Anda sebagai pembaca yang sibuk, pembaca yang tidak punya banyak waktu untuk membaca sebaris kalimat hingga tiga kali supaya paham betul maksudnya.
  2. Jadikan EYD dan tata bahasa (baik bahasa target maupun bahasa asal) sebagai panduan menerjemahkan.
  3. Terus latihan supaya rasa bahasa dan logika terasah. Coba posisikan diri Anda sebagai si tokoh dalam cerita itu. Tanyakan pada diri Anda, “Apakah saya akan berkata seperti itu ke ibu saya?” misalnya.
  4. Selalu periksa ulang fakta-fakta yang disebutkan penulis. Terutama untuk novel bertema sejarah: tahun, nama orang, nama kota, nama negara, dan sebagainya.

 

Silakan terus berlatih!

Riri

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 04 – The Horse Dancer

Teks asli diambil dari halaman pertama The Horse Dancer, Jojo Moyes.

***

He saw her yellow dress before he saw her, glowing in the fading light; a beacon at the far end of the stables. He stopped for a moment, unsure that he could trust his eyes. Then her pale arm reached up, Gerontius’s elegant head dipping over the door to take whatever treat she offered, and he was walking briskly, half running, the metal tips of his boots clicking on the wet cobbles.

“You are here!”

“Henri!”

His arms were around her as she turned; he kissed he, dipped his head to inhale the glorious scent of her hair. The breath that escaped him seemed to come from somewhere in his boots.

“We got here this afternoon,” she said, into his shoulder. “I’ve barely had time to change. I must look awful… but I was in audience and glimpsed you through the curtain. I had to come to wish you luck.”

Her words had become jumbled, but he could barely hear her anyway. He was shocked by the girl’s sheer presence; the feel of her in his arms after so many months absence. “And juts look at you!” She took a step back, allowing her gaze to travel from his black peaked cap all the way down his immaculate uniform, then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes. He noted, with gratitude, the reluctance with which she withdrew her fingers. There was no awkwardness, he marveled, even after so many months. No coquettishness. She was utterly guileless; the girl of his imagination made flesh again.

“You look wonderful,” she said.

“I… can not stay,” he said. “We ride in ten minutes.”

“I know… Le Carousel is so exciting. We’ve been watching the motorcyclists, and the parade of tanks,” she said. “But  you, Henri, you and the horses are definitely the big draw.” She glanced behind her towards the arena. “I think the whole of France is here to see you.”

Penerjemah #01

Sang Penari Kuda – Jojo Moyes

Gerontius melihat sang gadis setelah melihat gaun kuningnya terlebih dahulu, berkilauan di bawah cahaya lampu yang redup; Sebuah pelita di ujung kandang. Sesaat dia berhenti, memastikan bahwa matanya tidak menipunya. Lalu lengan pucat sang gadis terangkat, kepala Gerontius yang elegan menerobos pintu untuk menyambut apapun yang ditawarkan si gadis, dan dia ber jalan dengan cepat, setengah berlari, ujung sepatunya yang terbuat dari logam beradu dengan lantai batu yang basah.

“Kau di sini!”

”Henri!”

Lengannya memeluk sang gadis saat dia berbalik; dia menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup wangi rambutnya yang menyenangkan. Angin yg meloloskannya seperti berasal dari suatu tempat di sepatunya.

“Kami sampai disini siang tadi”, ujarnya pada bahu Gerontius. “Aku hanya punya waktu sedikit untuk berganti baju… tapi aku tadi sedang menonton dan sekilasmelihatmu melalui tirai. Aku harus kemari untuk mendoakanmu.”

Kalimatnya bercampur aduk, namun Gerontius hampir tidak bisa mendengarnya juga. Dia terkejut dengan kehadiran sang gadis; rasa rambutnya di lengan Gerontius setelah berbulan-bulan tak  bejumpa. “Dan lihatlah dirimu!” sang gadis mundur selangkah, pandangannya menelusuri dari ujung topinya yang hitam turun ke seragamnya yang sangat rapi, lalu mencapai sikat dan bintik imajiner terdapat di salah satu tanda pangkatnya yang terbuat dari emas. Dia memperhatikan dengan penuh rasa syukur, rasa segan saat dimana sang gadis menarik jarinya. Tidak ada lagi kecanggungan, dia terkagum, bahkan setelah berbulan-bulan lamanya. Tidak ada kegenitan. Dia benar-benar apa adanya; gadis dalam imajinasinya membuatnya sempurna lagi.

“Kau terlihat keren,” ujar sang gadis

“Aku… Tidak bisa menetap,” ujar Gerontius. “Sepuluh menit lagi kami berangkat.”

“Aku tahu… Le Carousel sangat menarik. Kami telah menyaksikan para pengendara sepeda motornya, juga parade teng,” ujar sang gadis. “Tapi kau, Henri, kau dan para kuda sudah pasti yang paling menarik perhatian.” dia melirik arena di belakangnya. “Kurasa seluruh Prancisdatang kesini untuk melihatmu”.

Catatan

Secara keseluruhan, masih banyak yang perlu dipelajari oleh penerjemah #01. Kosakata yang dikuasai belum terlalu banyak variasinya sehingga sering-sering mengecek KBBI bisa membantu agar terjemahan bisa lebih ringkas dan tepat makna. Untuk beberapa kalimat yang bersifat kiasan juga masih diterjemahkan mentah sehingga bacaan kurang mengalir. Mudah-mudahan masih bersemangat untuk terus membaca dan belajar agar hasil terjemahan bisa lebih apik.

Berikut catatan-catatan kecil yang saya temukan dalam terjemahan #01.

1. Ada dua kata “melihat” di kalimat pertama.

2. stables => kandang kuda => istal

3. Hindari penggunaan kata “yang” jika tidak diperlukan. Seperti “kepala Gerontius yang elegan” bisa diganti dengan “kepala elegan Gerontius”

elegant” di sini juga jangan diterjemahkan mentah-mentah.

4. Penulisan “pun” yang artinya “juga” selalu dipisah (siapa pun, apa pun, kau pun, dst),

kecuali dalam kata sambung: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, betapapun, biarpun, dll

5. Dalam satu paragraf, kata ganti tidak boleh merujuk ke orang/benda yang berbeda.

Contoh dalam paragraf pertama: “gaun kuningnya” => nya merujuk pada si gadis, sedangkan “matanya tidak menipunya” => nya merujuk pada Gerontius.

6. Inkonsistensi dalam menggunakan kata sandang => dalam paragraf pertama terkadang menggunakan sang gadis, terkadang si gadis.

7. Lengannya memeluk sang gadis saat dia berbalik; dia menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup wangi rambutnya yang menyenangkan.

  • Terdapat redundan, pengulangan yang tidak perlu, boros. “memeluk” sudah pasti menggunakan “lengan”. Sehingga “lengan” tidak perlu disebut lagi.
  • Dalam satu kalimat, terdapat ada 4 “nya” yang merujuk ke dua orang yang berbeda.

8. The breath that escaped him seemed to come from somewhere in his boots. => ini kiasan, jangan diterjemahkan mentah.

9. but he could barely hear her anyway => “hear” di sini bermakna bukan sekadar mendengar, tapi juga memperhatikan. Karena Gerontius sudah terkejut lebih dulu akan kedatangan gadis itu.

10. then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes.

– Reached up to brush => mencapai sikat => mencoba menggosok

imaginary fleck => bintik imajiner => noda khayalan => noda yang sebenarnya tidak ada

gold epaulettes => tanda pangkatnya yang terbuat dari emas => epolet emas. (rajin-rajin lihat KBBI untuk mencari istilah yang tepat dan ringkas)

then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes =>lalu mencapai sikat dan bintik imajiner terdapat di salah satu tanda pangkatnya yang terbuat dari emas => lalu mencoba menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya.

11. hindari penggunaan “di mana” (penulisan “di” dipisah ya, karena merupakan preposisi atau kata depan)

12. No coquettishness. She was utterly guileless => Selain kegenitan/keganjenan, coquettishness juga bisa berarti “sesuatu yang dilebih-lebihkan, dibuat-buat”. Jadi terjemahannya bisa menjadi => Tidak ada yang dibuat-buat. Dia benar-benar apa adanya.

13. stay => menetap => berlama-lama

14. tank => lebih baik tetap memakan tank dibandingkan teng

15. We ride in ten minutes => ride di sini dimaksudkan dengan “berkuda” bukan “pergi menggunakan kendaraan”, dan karena sedang membicarakan parade, apalagi melihat kalimat si gadis yang membandingkan Henri dan kuda-kudanya dengan parade motor dan tank, maka bisa dikatakan “berkuda” dengan “tampil” => Sepuluh menit lagi kami tampil

16. “Kami sampai disini siang tadi.” Penulisan “disini” seharusnya dipisah menjadi “di sini”. Pelajari lagi perbedaan “di” sebagai kata depan dan imbuhan.

Penerjemah #02

Sang Penari Kuda – Jojo Moyes

Baju kuning gadis itu lebih dulu terlihat oleh si laki-laki daripada sosoknya, yang bercahaya dalam remang-remang; lentera di sisi ujung kandang kuda. Dia berhenti sejenak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat lengan pucat si gadis menjulur, kepala elegan Gerontius merunduk melewati pintu untuk mendapatkan kejutan apa pun yang dia tawarkan, dengan berjalan cepat, setengah berlari, terdengar ujung logam sepatu botnya berbunyi ceklik-ceklik saat melangkah di atas batu-batu bulat.

“Kau di sini!”

“Henri!”

Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik, Henri menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup aroma mewah rambut miliknya. Napas yang Henri hembuskan tampak berasal dari suatu tempat di sepatu botnya.

“Kami tiba di sini tadi siang,” ucapnya, melalui bahu Henri. “Aku hampir tidak ada waktu untuk ganti baju. Pasti tampak mengerikan… tapi, saat duduk di kursi penonton, sekilas kulihat dirimu ada di balik tirai. Aku harus ke sini untuk mengatakan semoga berhasil.”

Kata-katanya bercampur aduk, tapi Henri masih dapat mendengarnya meski sedikit. Henri terperanjat oleh kehadirannya yang begitu tak terduga; tubuh yang dipeluknya setelah berbulan-bulan tak bersamanya. “Lihat dirimu!” (si gadis) mundur selangkah, agar dia dapat memandang menyusuri mulai dari topi hitam di kepalanya hingga seragam Henri yang rapi sekali, kemudian ke atas lagi untuk menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya. Henri memperhatikan dan mengucap terima kasih, sehingga dengan enggan si gadis menarik tangannya. Henri merasa heran, tidak ada rasa kikuk meski berbulan-bulan telah berlalu. Juga tak ada keganjenan. Dia sepenuhnya terus-terang; gadis dalam imajinasinya kini menjadi nyata.

“Kau tampak luar biasa,” katanya.

“Aku… tidak bisa terus di sini,” jawab Henri. “Kami akan berkuda dalam 10 menit.”

“Aku tahu… Le Carousel sangat menarik. Kami sudah menonton pengendara motor, dan pawai tank,” ujarnya. “Tapi  kau, Henri, pastilah kau dan kuda-kuda itu yang jadi pusat perhatian.” Si gadis melihat sekilas arena di belakangnya. “Aku rasa seluruh Prancis ada di sini untuk melihatmu.”

Catatan

Secara keseluruhan, terjemahan #02 ini sudah lumayan apik. Hanya perlu dibuat lebih mengalir dan sering dicek ulang agar makna teks asli tersampaikan dengan baik.

1. He saw her yellow dress before he saw her, glowing in the fading light; a beacon at the far end of the stables => Baju kuning gadis itu lebih dulu terlihat oleh si laki-laki daripada sosoknya, yang bercahaya dalam remang-remang; lentera di sisi ujung kandang kuda.

Fokus atau yang dibicarakan dalam teks asli ini adalah gaun kuning. Jadi yang berkilauan dan tampak bagai lentera adalah gaun kuningnya, bukan si gadisnya.

Sedangkan dalam kalimat terjemahan, pembaca digiring pada makna bahwa yang berkilauan dan tampak bagai lentera adalah sosok si gadis

2. stables => kandang kuda => istal

3. Gerontius’s elegant head dipping over the door => kepala elegan Gerontius merunduk melewati pintu

elegant head” jangan diterjemahkan mentah-mentah.

=> Gerontius dengan berwibawa merunduk melewati pintu.

head” nya ke mana? merunduk sudah bermakna menggunakan kepala (untuk manusia), jadi tidak perlu menuliskan kata “kepala” lagi.

4. Dalam satu paragraf, kata ganti tidak boleh merujuk ke orang/benda yang berbeda.

– Contoh dalam paragraf pertama: “sosoknya” => nya merujuk pada si gadis, sedangkan “dilihatnya“, “sepatu botnya” => nya merujuk pada Gerontius.

– Contoh dalam paragraf keempat: Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik, Henri menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup aroma mewah rambut miliknya.

5. Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik =>redundan, pengulangan yang tidak perlu, boros. “memeluk” sudah pasti menggunakan “lengan”.

Bisa disunting menjadi  => Gerontius memeluknya saat gadis itu berbalik.

6. He noted, with gratitude, the reluctance with which she withdrew her fingers.

Kalimat ini bisa juga diartikan menjadi:

Henri noted the reluctance with which she withdrew her fingers, and he is thankful for that.

Jadi, terjemahannya bisa menjadi => Gerantius menyadari, dan mensyukuri, keengganan saat gadis itu menarik tangannya.

7. No coquettishness. She was utterly guileless => Selain kegenitan/keganjenan, “coquettishness” juga bisa berarti “sesuatu yang dilebih-lebihkan, dibuat-buat”.

Jadi terjemahannya bisa menjadi => Tidak ada yang dibuat-buat. Dia benar-benar apa adanya.

8. hembus => embus

9. “Kami tiba di sini tadi siang,” ucapnya.

Di awal paragraf, jangan langsung menggunakan kata pengganti agar pembaca tidak bingung dan menebak-nebak, “nya” ini maksudnya siapa ya.

10. glorious scent => aroma mewah => wangi mewah.

Lihat lagi di KBBI untuk definisa aroma

Suntingan

Saya mencoba menggabungkan dua terjemahan di atas dan sedikit mengoreksinya. Tapi terjemahan itu sendiri bersifat subjektif dan tidak mutlak. Semua kembali pada kenyamanan pembaca (dan editor in-house yang mengurus novel tersebut, hehehe). Bisa jadi ada versi yang lebih baik dari suntingan ini. Tapi bagaimanapun, saya tetap berharap masih ada yang bisa dipelajari dari suntingan berikut.

Salam!

Selamat Hari Penerjemah Internasional!

***

Daripada sosoknya, Gerontius lebih memperhatikan gaun kuning gadis itu, yang berpendar dalam cahaya remang; bagai lentera di penghujung istal. Ia berhenti sejenak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Saat lengan pucat gadis itu terulur, Gerontius dengan elegan merunduk melewati pintu untuk menyambut kejutan apa pun yang gadis itu tawarkan, sambil berjalan cepat, setengah berlari, sampai ujung logam sepatu bot Gerontius beradu dengan jalan bebatuan yang basah.

“Kau di sini!”

“Henri!”

Gerontius merangkulnya saat gadis itu berbalik. Ia menciumnya, menenggelamkan kepala untuk menghirup wangi mewah rambutnya. Membuat Gerontius merasa napas yang ia embuskan bagai berasal dari suatu tempat di sepatu yang ia pakai.

“Kami tiba di sini tadi siang,” ucap gadis itu, melalui bahu Henri. “Aku hampir tidak sempat berganti pakaian. Aku pasti tampak mengerikan… tapi, saat duduk di kursi penonton, sekilas kulihat dirimu ada di balik tirai. Aku harus ke sini untuk menyemangatimu.”

Kata-kata gadis itu tidak beraturan, tapi Gerontius nyaris tidak menghiraukan hal tersebut. Ia terperanjat oleh kehadiran gadis itu yang begitu tak terduga; merasakan tubuh yang berbulan-bulan tidak dipeluknya. “Lihat dirimu!” Gadis itu mundur selangkah, agar dapat memandang menyusuri mulai dari ujung topi hitam hingga seragamnya yang begitu rapi, kemudian tangan gadis itu ke atas untuk menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya. Gerontius menyadari, sambil bersyukur, keengganannya ketika gadis itu menarik tangan. Ia merasa heran, tidak ada rasa kikuk meski berbulan-bulan telah berlalu. Juga tak ada yang dibuat-buat. Gadis itu benar-benar apa adanya; gadis dalam imajinasinya kini menjadi nyata.

“Kau tampak luar biasa,” kata gadis itu lagi.

“Aku… tidak bisa terus di sini,” jawab Henri. “Sepuluh menit lagi kami tampil.”

“Aku tahu… Festival Le Carousel sangat menarik. Kami sudah menonton para pengendara motor, dan pawai tank,” ujar gadis itu. “Tapi  kau, Henri, pastilah kau dan kuda-kuda tersebut pasti jadi pusat perhatian.” Dia melihat sekilas arena di belakangnya. “Kurasa seluruh Prancis datang ke sini untuk melihatmu.”

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 12 – Penerjemah 1_Nur Aulia Afina

Berikut ini naskah terjemahan 12 yang diambil dari buku kumpulan cerpen The Best Horror Stories of Arthur Conan Doyle, dari cerpen yang berjudul “Silver Hatchet.”

[teks asli] On the 3rd of December 1861, Dr. Otto von Hopstein, Regius Professor of Comparative Anatomy of the University of Buda-Pesth, and Curator of the Academical Museum, was foully and brutally murdered within a stone-throw of the entrance to the college quadrangle.

[teks terjemahan] Pada tanggal 3 bulan Desember 1861, Dr. Otto van Hopstein, Regius Professor of Comparative Anatomy di University of Buda-Pesth, dan Curator di Academical Museum, ditemukan terbunuh secara mengenaskan di dekat tempat masuk lapangan dalam kampus dengan jarak selemparan batu.

[teks suntingan]

Pada tanggal 3 Desember 1861, Dr. Otto van Hopstein, Profesor Regius bidang Anatomi Perbandingan di Universitas Buda-Pesth sekaligus Kurator Museum Akademik, dibunuh secara sadis dan brutal dalam jarak sepelemparan batu dari pintu masuk kompleks universitas.


Besides the eminent position of the victim and his popularity amongst both students and townsfolk, there were other circumstances which excited public interest very strongly, and drew general attention throughout Austria and Hungary to this murder. The Pesther Abendblatt of the following day had an article upon it, which may still be consulted by the curious, and from which I translate a few passages giving a succinct account of the circumstances under which the crime was committed, and the peculiar features in the case which puzzled the Hungarian police.

Selain kedudukan terkemuka korban dan popularitasnya di antara mahasiswa-mahasiswanya dan penduduk lokal, terdapat keadaan lain yang membuat masyarakat tertarik, dan mendapat perhatian seluruhnya dari Austria dan Hungary mengenai pembunuhan ini. Di hari berikutnya Pesther Abendblatt menerbitkan artikel mengenai itu, yang mungkin masih dibicarakan oleh beberapa orang yang penasaran, dan yang aku terjemahkan beberapa bagian secara ringkas mengenai kejadian pembunuhan tersebut, dan karakteristik aneh di kasus ini yang membingungkan polisi di Hungary.

Selain kedudukan terkemuka dan popularitas korban di mata mahasiswa serta penduduk lokal, terdapat kondisi lain yang membangkitkan minat publik, dan mendapat perhatian dari seluruh Austria serta Hungaria. Surat kabar Pesther Abendblatt yang terbit keesokan harinya memuat artikel mengenai kasus itu, dan mungkin masih dijadikan rujukan oleh beberapa orang yang penasaran. Berikut ini aku terjemahkan beberapa bagian secara ringkas mengenai kondisi saat pembunuhan terjadi, dan karakteristik aneh di kasus ini yang membuat polisi di Hungaria kelimpungan.


“It appears,” said that very excellent paper, “that Professor von Hopstein left the University about half-past four in the afternoon, in order to meet the train which is due from Vienna at three minutes after five. He was accompanied by his old and dear friend, Herr Wilhelm Schlessinger, sub-Curator of the Museum and Privat-docent of Chemistry. The object of these two gentlemen in meeting this particular train was to receive the legacy bequeathed by Graf von Schulling to the University of Buda-Pesth. It is well known that this unfortunate nobleman, whose tragic fate is still fresh in the recollection of the public, left his unique collection of mediæval weapons, as well as several priceless black-letter editions, to enrich the already celebrated museum of his Alma Mater. The worthy Professor was too much of an enthusiast in such matters to intrust the reception or care of this valuable legacy to any subordinate; and, with the assistance of Herr Schlessinger, he succeeded in removing the whole collection from the train, and stowing it away in a light cart which had been sent by the University authorities. Most of the books and more fragile articles were packed in cases of pine-wood, but many of the weapons were simply done round with straw, so that considerable labour was involved in moving them all. The Professor was so nervous, however, lest any of them should be injured, that he refused to allow any of the railway employés (Eisenbahn-diener) to assist. Every article was carried across the platform by Herr Schlessinger, and handed to Professor von Hopstein in the cart, who packed it away. When everything was in, the two gentlemen, still faithful to their charge, drove back to the University, the Professor being in excellent spirits, and not a little proud of the physical exertion which he had shown himself capable of. He made some joking allusion to it to Reinmaul, the janitor, who, with his friend Schiffer, a Bohemian Jew, met the cart on its return and unloaded the contents. Leaving his curiosities safe in the store-room, and locking the door, the Professor handed the key to his sub-curator, and, bidding every one good evening, departed in the direction of his lodgings. Schlessinger took a last look to reassure himself that all was right, and also went off, leaving Reinmaul and his friend Schiffer smoking in the janitor’s lodge.

“Terlihat,” tulis artikel yang bagus sekali itu, “bahwa Professor von Hopstein meninggalkan kampus sekitar pukul setengah lima sore, untuk mengejar kereta yang datang dari Vienna pada pukul lima lebih tiga menit. Ia ditemani oleh sahabat kesayangannya, Herr Wilhelm Schlessinger, sub-Curator di Museum and Privat-docent of Chemistry. Tujuan kedua pria terhormat tersebut bertemu di kereta khusus itu untuk menerima warisan dari Graf von Schulling untuk University of Buda-Pesth. Perlu diketahui bahwa bangsawan ini, yang nasib tragisnya masih segar di ingatan publik, meninggalkan koleksi unik berupa senjata dari abad pertengahan, dan juga beberapa buku berisi tulisan bergaya kuno yang tak ternilai harganya, untuk memperkaya museum almamaternya yang sudah terkenal. Professor yang sangat berjasa itu terlalu bersemangat dalam hal ini untuk mengamanatkan atau menjaga warisan berharga ini ke siapa pun bawahannya; dan, dengan bantuan Herr Schlessinger, ia berhasil memindahkan semua koleksi dari kereta, dan menyimpannya di kereta kuda yang dikirim oleh pihak universitas. Kebanyakan buku dan barang pecah-belah lainnya disimpan di dalam kotak kayu pinus, tapi banyak senjata yang hanya ditaruh di jerami, sehingga seharusnya terdapat pekerja yang diikutsertakan dalam memindahkan barang. Professor itu sangat gelisah, bagaimanapun juga, kalau-kalau salah satu barang rusak, hingga ia menolak mengizinkan pegawai kereta api untuk membantu. Semua barang diangkut melewati peron oleh Herr Schlessinger, dan diserahkan ke Professor van Hopstein di kereta kuda, untuk disimpan dengan benar. Ketika semua barang sudah di dalam, kedua pria tersebut, masih menjalankan tugasnya dengan baik, kembali ke universitas, dengan Professor itu berada dalam kondisi baik, dan tidak sedikit pun bangga terhadap penggunaan fisiknya yang ia tunjukkan pada diri sendiri bahwa ia mampu. Ia melontarkan lelucon mengenai itu pada Reinmaul, penjaga gedung, dengan temannya Schiffer, seorang Yahudi Bohemian, dan mereka menyambut kembalinya kereta kuda tersebut dan mengeluarkan semua isi di dalamnya. Setelah meninggalkan rasa keingin tahuannya di ruang penyimpanan, dan mengunci pintunya, ia menyerahkan kunci itu ke sub-kuratornya, dan, setelah mengucapkan selamat malam ke semua orang, ia berjalan ke arah penginapannya. Schlessinger menoleh untuk terakhir kali untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, dan juga beranjak pergi, meninggalkan Reinmaul dan temannya Schiffer merokok di ruang penjaga.

“Rupanya,” tulis surat kabar yang bermutu itu, “Profesor von Hopstein meninggalkan kampus sekitar pukul setengah lima sore, untuk menyambut kereta dari Wina pada pukul lima lebih tiga menit. Ia ditemani oleh sahabatnya, Herr Wilhelm Schlessinger, wakil kurator di Museum serta dosen privat kimia. Alasan kedua pria terhormat tersebut menunggu kedatangan kereta yang dimaksud adalah untuk menerima warisan Graf von Schulling kepada Universitas Buda-Pesth. Perlu diketahui bahwa bangsawan ini, yang nasib tragisnya masih segar di ingatan publik, meninggalkan koleksi unik berupa senjata dari abad pertengahan, dan juga beberapa buku kuno yang tak ternilai harganya, untuk memperkaya perbendaharaan museum almamaternya yang sudah terkenal. Profesor yang sangat berjasa itu terlalu bersemangat dalam hal ini untuk mengamanatkan serah-terima warisan berharga ini ke bawahannya; dan, dengan bantuan Herr Schlessinger, ia berhasil memindahkan semua koleksi dari kereta, dan menyimpannya di kereta kuda yang dikirim oleh pihak universitas. Sebagian besar buku dan barang pecah-belah lainnya dikemas ke dalam peti kayu pinus, tapi banyak senjata sekadar diselubungi dengan jerami, sehingga butuh kerja keras untuk memindahkan semuanya. Namun demikian, profesor sangat gelisah, kalau-kalau salah satu barang rusak, hingga ia menolak mengizinkan pegawai kereta api untuk membantu. Semua barang diangkut melewati peron oleh Herr Schlessinger, dan diserahkan ke Profesor van Hopstein di kereta kuda, untuk disimpan dengan benar. Ketika semua barang sudah di dalam, kedua pria tersebut, masih menjalankan tugasnya dengan baik, kembali berkendara ke universitas. Suasana hati profesor sangat baik, dan ia bangga terhadap kekuatan fisik yang masih mampu dikerahkannya. Ia melontarkan lelucon mengenai hal itu pada Reinmaul, penjaga gedung, dan temannya Schiffer, seorang Yahudi Bohemian, yang menyambut kembalinya kereta kuda tersebut dan membongkar muatannya. Setelah meninggalkan koleksi benda aneh tadi di ruang penyimpanan dan mengunci pintunya, profesor menyerahkan kunci itu ke wakil kuratornya. Kemudian dia mengucapkan selamat malam kepada semua orang, dan berjalan menuju pondokannya. Schlessinger melakukan pengecekan terakhir untuk meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, dan setelah itu dia pun beranjak pergi, meninggalkan Reinmaul serta temannya Schiffer merokok di ruang penjaga.


Berikut ini hasil screen-captured terjemahan yang telah disunting menggunakan track changes.

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__001

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__002

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__003

Catatan untuk penerjemah:

  1. Terjemahan sudah baik secara literal, tapi masih belum mengalir dan terasa betul “terjemahannya”. Ada beberapa kalimat yang salah diterjemahkan (karena memang katanya bermakna majemuk.) Tapi kembali lagi ke tugas penerjemah untuk mengalihbahasakan suatu kata/kalimat sesuai dengan konteksnya. Saran saya sih, jangan terlalu letterlijk.
  2. Penerjemah tidak menerjemahkan istilah-istilah/nama-nama negara ke bahasa Indonesia. Misalnya: Hungary, atau Regius Professor, sub-curator, University of Buda-Pesth dll.
  3. Berikut ini beberapa kalimat yang salah konteks/terjemah:
  • Naskah asli: It appears…
    • Terjemahan: Terlihat…
    • Suntingan: Rupanya…

Penjelasan: “it appears” dalam kalimat ini berarti apparently. It appears memang bisa juga diterjemahkan jadi “terlihat” atau “kelihatannya” atau “tampaknya”, tapi dalam konteks kalimat, akan lebih enak dibaca jika diterjemahkan sebagai “rupanya” atau “ternyata…”

  • Naskah asli: so that considerable labour was involved in moving them all.
    • Terjemahan: sehingga seharusnya terdapat pekerja yang diikutsertakan dalam memindahkan barang
    • Suntingan: sehingga butuh kerja keras untuk memindahkan semuanya.

Penjelasan: labour di dalam kalimat ini artinya work, especially hard physical work.

  • Naskah asli: curiosities…
    • Terjemahan: rasa keingintahuannya
    • Suntingan: koleksi benda aneh.

Penjelasan: curiosities maksudnya a strange or unusual object or fact.

  • Naskah asli: took a last look…
    • Terjemahan: menoleh untuk terakhir kali…
    • Suntingan: melakukan pengecekan terakhir

Terima kasih sudah bersedia mengikuti klinik terjemahan 2015.

Best regards,

Nadya

(Klinik Terjemahan 2015) City of Stars – Pengampu: Rini Nurul

 

Komentar umum:

Materi soal klinik ini saya ambil dari terjemahan buku fantasi remaja yang saya kerjakan enam tahun lalu dan batal terbit. Sengaja saya ambil dari salah satu bab di tengah untuk menyoroti permasalahan kata ganti yang kerap “menjebak”, terutama jika tokoh berjenis kelamin sama. Berikut ini materinya:

The brother that Falco loved best was Gaetano, the

closest to him in age, and he wasn’t handsome at all.

In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide

crooked mouth. He was supposed to look like their

grandfather Alfonso, who had built the great palace at

Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the

brothers, and the most interested in the libraries at

Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could

ride and fence and make up the most wonderful

games. The happiest hours of Falco’s childhood had

been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his

invented romances of knights and ghosts and hidden

treasure and family secrets of madmen and concealed

wills and maps. Their older sister Beatrice could

sometimes be persuaded to play the forlorn maidens

or warrior queens which Gaetano’s invention

required, but often Falco himself, with his delicate

features and huge dark eyes, had to submit to being

wrapped in scraps of muslin or brocade to take the

female roles.

His favourite romances, though, had been the ones

involving swordfights. He and his brother had started

with toy wooden weapons but graduated to bated

foils when Falco was ten. They had fought their way

up and down all the staircases of the palace from the

grand sweep of the main marble one to the mysterious

branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Mengamati hasil terjemahan tiga peserta buat saya mengandung daya tarik tersendiri untuk melihat variasi kosakata, menilik kekuatan masing-masing, ketepatan, rasa bahasa, suasana, dan konteks yang dihadirkan. Tentu saja sempat saya bandingkan dengan hasil sendiri yang sangat mungkin perlu diperbaiki mengingat dulu saya belum mengetahui beberapa hal dan ada kemungkinan ketidaktelitian pula.

Berhubung terjemahan adalah aktivitas yang cukup subjektif, saya tidak menerapkan aturan “terlalu ketat” pada ketiga peserta. Misalnya masalah padanan “pedang lentur” dan “anggar”. Keduanya masuk akal, sependek pengetahuan saya sewaktu berkomunikasi dengan pengarang. Maka saya hormati kedua padanan tersebut.

Jujur, saya bukan “penggemar” deskripsi yang terlalu cermat pula sehingga untuk penggambaran tempat, detail bangunan, dan sejenisnya cenderung leluasa selama hal itu tidak berperan dalam cerita secara keseluruhan. Namun ini bukan sikap yang layak diteladani tentu, sekadar mengutip seorang senior, “Mungkin saja kita berpikir pembaca tak memperhatikannya, tapi apeslah kalau sampai “tepergok” editor.” Saya menganut prinsip penyederhanaan, yang bisa jadi tidak disukai sebagian pembaca fantasi yang fanatik, terkait beberapa kata dan istilah yang hanya muncul satu kali serta lagi-lagi… tidak berpengaruh pada cerita secara keseluruhan. Yang penting logis dan tidak “mengarang” dari teks aslinya.

Ketiga peserta ini sudah mengerjakan sebaik mungkin, dan alangkah gembiranya saya karena rata-rata menguasai ejaan dan tatabahasa. Maka marilah kita tinjau satu demi satu. Oh ya, sengaja nama penerjemah tidak saya cantumkan supaya pengunjung blog ini tidak “salah fokus” dan tetap berkonsentrasi pada upaya belajar dari satu sama lain. Khususnya hasil terjemahannya.

Penerjemah 1

P1-I

P1-2

Catatan: mohon lebih berhati-hati, diusahakan membaca ulang dan membandingkan dengan teks asli supaya tidak terlewat.

Definisi romance dalam konteks di atas menurut TFD:

A long fictitious tale of heroes and extraordinary or mysterious events, usually set in a distant time or place.

Kalau tidak salah, Beatrice memang anak tertua. Karena itu saya biarkan terjemahan “kakak tertua”.

“Bagian masa kecil Falco” perlu ditekankan secara setia karena Falco tidak selalu bahagia.

Penerjemah 2

P2-1

P2-2Catatan:

Mohon perhatikan pemakaian “di”

Demi keterbacaan, hindari terlalu sering memakai kata penghubung “yang”, “adalah”, dll.

“Istana Papal” tidak dikoreksi karena alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Penerjemah 3

P3

Catatan:

Mohon berhati-hati dengan “perangkap” kalimat panjang. Dipenggal saja untuk mempermudah pembaca.

Makna suppose dalam konteks di atas menurut TFD:

To consider to be probable or likely

Koreksi atas koreksi saya sendiri: kain muslin, bukan muslim

Karena Falco dan Gaetano sama-sama pria, juga sering diceritakan dalam satu kalimat atau kalimat yang berdekatan, sebaiknya gunakan nama untuk memperjelas.

Demikian masukan-masukan saya, semoga bermanfaat. Perlu saya sampaikan, ada beberapa hal yang bisa jadi tidak seprinsip dengan editor lain (dan penerbit) karena selingkung berbeda-beda. Selain itu, pengampu pun tidak luput dari khilaf:)