Tanggapan peserta Klinik Terjemahan 2015

Wah. Terima kasih! Senang rasanya melihat banyak masukan atas terjemahan saya, ternyata susah yaaaa menerjemahkan novel, hahaha… Ingin belajar lagi niiiiiih 🙂
–Shirley P

Terima kasih banyak atas masukan-masukannya yang tentunya sangat berarti buat saya. Semoga dengan pengalaman yang saya terima dari klinik penerjemah ini bisa membuat kemampuan saya lebih terasah dan menjadi penerjamah yang lebih baik.
Sekali lagi, saya ucapkan banyak terima kasih atas rekan-rekan penerjemah senior yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar memberi kami (para penerjemah junior) masukan dan motivasi untuk lebih maju.
–Daris

Terima kasih untuk informasinya. Terima kasih juga untuk koreksinya. Banyak ilmu di sana 🙂
Senang bisa jadi bagian dari kegiatan ini. Mudah-mudahan kontak kita bisa berlanjut 🙂
–Demi Melinda

Terimakasih banyak untuk para pengampu klinik ini, saya merasa dapat masukkan yang berharga.
Semoga saya bisa berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya!
–Imam

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memeriksa hasil terjemahan saya
semoga Ibu – ibu senior ini dapat mengadakan kembali latihan seperti ini dengan lebih sering.
–Bosnia

Advertisements

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 07

Teks sumber:

Prologue                                                  

The arguing had gone on most of the night. In her room just three doors down the hall from her parents’ master suite, Abby had been able to hear the sound of raised voices, but not the words. It wasn’t the first time they’d fought recently, yet this time something felt different. The noisy exchange itself and fretting about it kept her awake most of the night.

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she’d only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time—quite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

She tried to quiet her panic, reminding herself that her dad, Mick O’Brien, left all the time. An internationally acclaimed architect, he was always going someplace for a new job, a new adventure. Again, thoug, this felt different. He’d only been home a couple of days from his last trip. He rarely turned right around and left again.

“Abby!” Her mother sounded startled and just a little edgy. “What are you doing up so early?”

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard. Most teenagers, including Abby and her brothers, hated getting up early on the weekends. Most Saturday it was close to noon when she finally made her way downstairs.

Abby met her mother’s gaze, saw the dismay in her eyes and knew instinctively that Megan had hoped to be gone before anyone got up, before anyone could confront her with uncomfortable questions.

“You’re leaving, aren’t you?” Abby said flatly, trying not to cry. She was seventeen, and if she was right about what was going on, she was the one who was going to have to be strong for her younger brothers and sisters.

Megan’s eyes filled with tears. She opened her mouth to speak, but no words came out. Finally, she nodded.

“Why, Mom?” Abby began, a torrent of questions following. “Where are you going? What about us? Me, Bree, Jess, Connor, and Kevin? Are you walking out on us, too?”

“Oh, sweetie, I could never do that,” Megan said, reaching for her. “You’re  my babies. As soon as I’m settled, I’ll be back for you. I promise.”

Terjemahan dan suntingan:

Tiurida-1 Tiurida-2

Ulasan:

  1. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Meski kadang-kadang terkesan sepele, penerjemah yang baik, menurut saya, sangat disarankan untuk memahami kaidah EYD.

Misalnya, pemakaian huruf besar atau kapital. Secara umum, huruf kapital dipakai di huruf pertama sebuah kalimat, nama orang/bulan/tahun/hari, dan dalam petikan langsung. Kata sapa seperti ‘Ibu’ juga harus diawali huruf besar. Kata-kata seperti ‘arsitek’ (profesi) dan ‘beliau’ (kata ganti orang) tidak perlu diawali dengan huruf besar. Pengecualian terdapat pada kata ganti orang ‘Anda’ yang selalu diawali huruf besar.

Pelajari juga pemakaian kata depan ‘di’, ‘ke’, dan ‘dari’, yaitu terpisah dari kata berikutnya. Bedakan kata depan tersebut dengan imbuhan ‘di-‘, yaitu digabungkan dengan kata kerja berikutnya karena menandakan kata kerja pasif. Jadi, gunakan ‘di setiap’ alih-alih ‘ditiap’ dan ‘ke mana’ alih-alih ‘kemana’.

KBBI juga harus menjadi senjata penerjemah. Periksa selalu ejaan yang benar, misalnya untuk ‘air mata’.

  1. Rasa Bahasa

Dalam menerjemahkan, kita juga harus melihat genre dan konteks ceritanya. Kalau dialog terjadi antara ibu dan anak, pilih kata yang tidak terlalu kaku, misalnya ‘kenapa’ dan ‘aku’. Tidak perlu gunakan ‘Anda’ kalau hubungan kedua tokoh sudah akrab.

Kadang-kadang, pemakaian slang atau bahasa sehari-hari juga dibolehkan–dengan catatan, memang sesuai dengan gaya penulisan (disebut juga gaya selingkung) sang penulis.

  1. Logika

Saat menerjemahkan, lama-kelamaan kita akan melihat fakta-fakta yang disebarkan penulis di sepanjang bukunya. Penerjemah sebaiknya bisa merangkai fakta itu agar transfer informasi (dan budaya) berjalan mulus. Misalnya, di paragraf kelima, tertera:

Most teenagers, including Abby and her brothers…

Lalu, di paragraf ketujuh ada kalimat:

for her younger brothers and sisters.

Jadi, bisa disimpulkan Abby anak tertua dan punya beberapa adik. Bahasa Inggris cenderung menyebut ‘brother and sister‘, sementara budaya Indonesia cenderung memakai istilah ‘adik-kakak’. Gunakan fakta di paragraf ketujuh ke paragraf kelima dan gabungkan dengan budaya lokal sehingga lebih aktual dan membumi. Pemakaian kata ‘saudara laki-laki’ atau ‘saudara yang lebih muda’ tidakah salah, tapi kurang efektif sekaligus bisa berarti ganda, yaitu relative atau sanak-saudara.

  1. Tata Bahasa

Meski menerjemahkan ke bahasa Indonesia (bahasa target), kita juga harus cermat memahami bahasa asal (bahasa Inggris). Perhatikan tata bahasa untuk kalimat:

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard.

Abby tidak terkejut melihat ibunya tertangkap basah.

–> Abby bisa mengerti kalau ibunya tampak terkejut.

  1. Efektif dan Padu

Siapa bilang penerjemah tidak boleh mengubah susunan kata naskah asli pada terjemahan? Menurut saya, khusus untuk novel/fiksi, hal itu sah-sah saja. Anda bisa mengubah susunan kata, bahkan menjungkirbalikkan kalimat-kalimatnya demi mendapatkan kalimat yang koheren, padu, efektif, enak dibaca, dan sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Penting juga diingat bahwa pembaca harus paham dalam satu-kali baca dan Anda tidak merusak gaya penulisan sang penulis.

Misalnya, jika dalam satu kalimat ada terlalu banyak anak kalimat dan malah membuat pembaca bingung (mungkin karena terlalu banyak koma), bagi saja menjadi dua kalimat. Ini cara yang wajar dan jamak.

Pada paragraf pertama dan kedua, ada beberapa susunan yang ‘diputar’ agar lebih efektif dan padu.

Naskah asli:

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she’d only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time—quite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

Hasil suntingan terjemahan:

Abby berharap bahwa pertengkaran itu hanya imajinasinya, bahwa ketegangan yang terasa membelit di perutnya hanyalah rekayasa imajinasinya yang terlalu berlebihan padahal tidak terjadi apa-apa. Namun, saat menuruni anak tangga beberapa saat setelah fajar dan melihat koper-koper di lorong depan, dia pun mengerti. Kali ini, ada yang pergi—kemungkinan besar untuk selamanya, jika dilihat dari jumlah koper di pintu.

Tips-tips:

  1. Utamakan kalimat yang efektif dan padu agar pembaca mudah mencernanya. Coba posisikan diri Anda sebagai pembaca yang sibuk, pembaca yang tidak punya banyak waktu untuk membaca sebaris kalimat hingga tiga kali supaya paham betul maksudnya.
  2. Jadikan EYD dan tata bahasa (baik bahasa target maupun bahasa asal) sebagai panduan menerjemahkan.
  3. Terus latihan supaya rasa bahasa dan logika terasah. Coba posisikan diri Anda sebagai si tokoh dalam cerita itu. Tanyakan pada diri Anda, “Apakah saya akan berkata seperti itu ke ibu saya?” misalnya.
  4. Selalu periksa ulang fakta-fakta yang disebutkan penulis. Terutama untuk novel bertema sejarah: tahun, nama orang, nama kota, nama negara, dan sebagainya.

 

Silakan terus berlatih!

Riri

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 12 – Penerjemah 1_Nur Aulia Afina

Berikut ini naskah terjemahan 12 yang diambil dari buku kumpulan cerpen The Best Horror Stories of Arthur Conan Doyle, dari cerpen yang berjudul “Silver Hatchet.”

[teks asli] On the 3rd of December 1861, Dr. Otto von Hopstein, Regius Professor of Comparative Anatomy of the University of Buda-Pesth, and Curator of the Academical Museum, was foully and brutally murdered within a stone-throw of the entrance to the college quadrangle.

[teks terjemahan] Pada tanggal 3 bulan Desember 1861, Dr. Otto van Hopstein, Regius Professor of Comparative Anatomy di University of Buda-Pesth, dan Curator di Academical Museum, ditemukan terbunuh secara mengenaskan di dekat tempat masuk lapangan dalam kampus dengan jarak selemparan batu.

[teks suntingan]

Pada tanggal 3 Desember 1861, Dr. Otto van Hopstein, Profesor Regius bidang Anatomi Perbandingan di Universitas Buda-Pesth sekaligus Kurator Museum Akademik, dibunuh secara sadis dan brutal dalam jarak sepelemparan batu dari pintu masuk kompleks universitas.


Besides the eminent position of the victim and his popularity amongst both students and townsfolk, there were other circumstances which excited public interest very strongly, and drew general attention throughout Austria and Hungary to this murder. The Pesther Abendblatt of the following day had an article upon it, which may still be consulted by the curious, and from which I translate a few passages giving a succinct account of the circumstances under which the crime was committed, and the peculiar features in the case which puzzled the Hungarian police.

Selain kedudukan terkemuka korban dan popularitasnya di antara mahasiswa-mahasiswanya dan penduduk lokal, terdapat keadaan lain yang membuat masyarakat tertarik, dan mendapat perhatian seluruhnya dari Austria dan Hungary mengenai pembunuhan ini. Di hari berikutnya Pesther Abendblatt menerbitkan artikel mengenai itu, yang mungkin masih dibicarakan oleh beberapa orang yang penasaran, dan yang aku terjemahkan beberapa bagian secara ringkas mengenai kejadian pembunuhan tersebut, dan karakteristik aneh di kasus ini yang membingungkan polisi di Hungary.

Selain kedudukan terkemuka dan popularitas korban di mata mahasiswa serta penduduk lokal, terdapat kondisi lain yang membangkitkan minat publik, dan mendapat perhatian dari seluruh Austria serta Hungaria. Surat kabar Pesther Abendblatt yang terbit keesokan harinya memuat artikel mengenai kasus itu, dan mungkin masih dijadikan rujukan oleh beberapa orang yang penasaran. Berikut ini aku terjemahkan beberapa bagian secara ringkas mengenai kondisi saat pembunuhan terjadi, dan karakteristik aneh di kasus ini yang membuat polisi di Hungaria kelimpungan.


“It appears,” said that very excellent paper, “that Professor von Hopstein left the University about half-past four in the afternoon, in order to meet the train which is due from Vienna at three minutes after five. He was accompanied by his old and dear friend, Herr Wilhelm Schlessinger, sub-Curator of the Museum and Privat-docent of Chemistry. The object of these two gentlemen in meeting this particular train was to receive the legacy bequeathed by Graf von Schulling to the University of Buda-Pesth. It is well known that this unfortunate nobleman, whose tragic fate is still fresh in the recollection of the public, left his unique collection of mediĂŠval weapons, as well as several priceless black-letter editions, to enrich the already celebrated museum of his Alma Mater. The worthy Professor was too much of an enthusiast in such matters to intrust the reception or care of this valuable legacy to any subordinate; and, with the assistance of Herr Schlessinger, he succeeded in removing the whole collection from the train, and stowing it away in a light cart which had been sent by the University authorities. Most of the books and more fragile articles were packed in cases of pine-wood, but many of the weapons were simply done round with straw, so that considerable labour was involved in moving them all. The Professor was so nervous, however, lest any of them should be injured, that he refused to allow any of the railway employĂ©s (Eisenbahn-diener) to assist. Every article was carried across the platform by Herr Schlessinger, and handed to Professor von Hopstein in the cart, who packed it away. When everything was in, the two gentlemen, still faithful to their charge, drove back to the University, the Professor being in excellent spirits, and not a little proud of the physical exertion which he had shown himself capable of. He made some joking allusion to it to Reinmaul, the janitor, who, with his friend Schiffer, a Bohemian Jew, met the cart on its return and unloaded the contents. Leaving his curiosities safe in the store-room, and locking the door, the Professor handed the key to his sub-curator, and, bidding every one good evening, departed in the direction of his lodgings. Schlessinger took a last look to reassure himself that all was right, and also went off, leaving Reinmaul and his friend Schiffer smoking in the janitor’s lodge.

“Terlihat,” tulis artikel yang bagus sekali itu, “bahwa Professor von Hopstein meninggalkan kampus sekitar pukul setengah lima sore, untuk mengejar kereta yang datang dari Vienna pada pukul lima lebih tiga menit. Ia ditemani oleh sahabat kesayangannya, Herr Wilhelm Schlessinger, sub-Curator di Museum and Privat-docent of Chemistry. Tujuan kedua pria terhormat tersebut bertemu di kereta khusus itu untuk menerima warisan dari Graf von Schulling untuk University of Buda-Pesth. Perlu diketahui bahwa bangsawan ini, yang nasib tragisnya masih segar di ingatan publik, meninggalkan koleksi unik berupa senjata dari abad pertengahan, dan juga beberapa buku berisi tulisan bergaya kuno yang tak ternilai harganya, untuk memperkaya museum almamaternya yang sudah terkenal. Professor yang sangat berjasa itu terlalu bersemangat dalam hal ini untuk mengamanatkan atau menjaga warisan berharga ini ke siapa pun bawahannya; dan, dengan bantuan Herr Schlessinger, ia berhasil memindahkan semua koleksi dari kereta, dan menyimpannya di kereta kuda yang dikirim oleh pihak universitas. Kebanyakan buku dan barang pecah-belah lainnya disimpan di dalam kotak kayu pinus, tapi banyak senjata yang hanya ditaruh di jerami, sehingga seharusnya terdapat pekerja yang diikutsertakan dalam memindahkan barang. Professor itu sangat gelisah, bagaimanapun juga, kalau-kalau salah satu barang rusak, hingga ia menolak mengizinkan pegawai kereta api untuk membantu. Semua barang diangkut melewati peron oleh Herr Schlessinger, dan diserahkan ke Professor van Hopstein di kereta kuda, untuk disimpan dengan benar. Ketika semua barang sudah di dalam, kedua pria tersebut, masih menjalankan tugasnya dengan baik, kembali ke universitas, dengan Professor itu berada dalam kondisi baik, dan tidak sedikit pun bangga terhadap penggunaan fisiknya yang ia tunjukkan pada diri sendiri bahwa ia mampu. Ia melontarkan lelucon mengenai itu pada Reinmaul, penjaga gedung, dengan temannya Schiffer, seorang Yahudi Bohemian, dan mereka menyambut kembalinya kereta kuda tersebut dan mengeluarkan semua isi di dalamnya. Setelah meninggalkan rasa keingin tahuannya di ruang penyimpanan, dan mengunci pintunya, ia menyerahkan kunci itu ke sub-kuratornya, dan, setelah mengucapkan selamat malam ke semua orang, ia berjalan ke arah penginapannya. Schlessinger menoleh untuk terakhir kali untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, dan juga beranjak pergi, meninggalkan Reinmaul dan temannya Schiffer merokok di ruang penjaga.

“Rupanya,” tulis surat kabar yang bermutu itu, “Profesor von Hopstein meninggalkan kampus sekitar pukul setengah lima sore, untuk menyambut kereta dari Wina pada pukul lima lebih tiga menit. Ia ditemani oleh sahabatnya, Herr Wilhelm Schlessinger, wakil kurator di Museum serta dosen privat kimia. Alasan kedua pria terhormat tersebut menunggu kedatangan kereta yang dimaksud adalah untuk menerima warisan Graf von Schulling kepada Universitas Buda-Pesth. Perlu diketahui bahwa bangsawan ini, yang nasib tragisnya masih segar di ingatan publik, meninggalkan koleksi unik berupa senjata dari abad pertengahan, dan juga beberapa buku kuno yang tak ternilai harganya, untuk memperkaya perbendaharaan museum almamaternya yang sudah terkenal. Profesor yang sangat berjasa itu terlalu bersemangat dalam hal ini untuk mengamanatkan serah-terima warisan berharga ini ke bawahannya; dan, dengan bantuan Herr Schlessinger, ia berhasil memindahkan semua koleksi dari kereta, dan menyimpannya di kereta kuda yang dikirim oleh pihak universitas. Sebagian besar buku dan barang pecah-belah lainnya dikemas ke dalam peti kayu pinus, tapi banyak senjata sekadar diselubungi dengan jerami, sehingga butuh kerja keras untuk memindahkan semuanya. Namun demikian, profesor sangat gelisah, kalau-kalau salah satu barang rusak, hingga ia menolak mengizinkan pegawai kereta api untuk membantu. Semua barang diangkut melewati peron oleh Herr Schlessinger, dan diserahkan ke Profesor van Hopstein di kereta kuda, untuk disimpan dengan benar. Ketika semua barang sudah di dalam, kedua pria tersebut, masih menjalankan tugasnya dengan baik, kembali berkendara ke universitas. Suasana hati profesor sangat baik, dan ia bangga terhadap kekuatan fisik yang masih mampu dikerahkannya. Ia melontarkan lelucon mengenai hal itu pada Reinmaul, penjaga gedung, dan temannya Schiffer, seorang Yahudi Bohemian, yang menyambut kembalinya kereta kuda tersebut dan membongkar muatannya. Setelah meninggalkan koleksi benda aneh tadi di ruang penyimpanan dan mengunci pintunya, profesor menyerahkan kunci itu ke wakil kuratornya. Kemudian dia mengucapkan selamat malam kepada semua orang, dan berjalan menuju pondokannya. Schlessinger melakukan pengecekan terakhir untuk meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, dan setelah itu dia pun beranjak pergi, meninggalkan Reinmaul serta temannya Schiffer merokok di ruang penjaga.


Berikut ini hasil screen-captured terjemahan yang telah disunting menggunakan track changes.

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__001

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__002

NASKAH TERJEMAHAN - 12_ PENERJEMAH 1 (Nur Aulia)__003

Catatan untuk penerjemah:

  1. Terjemahan sudah baik secara literal, tapi masih belum mengalir dan terasa betul “terjemahannya”. Ada beberapa kalimat yang salah diterjemahkan (karena memang katanya bermakna majemuk.) Tapi kembali lagi ke tugas penerjemah untuk mengalihbahasakan suatu kata/kalimat sesuai dengan konteksnya. Saran saya sih, jangan terlalu letterlijk.
  2. Penerjemah tidak menerjemahkan istilah-istilah/nama-nama negara ke bahasa Indonesia. Misalnya: Hungary, atau Regius Professor, sub-curator, University of Buda-Pesth dll.
  3. Berikut ini beberapa kalimat yang salah konteks/terjemah:
  • Naskah asli: It appears

    • Terjemahan: Terlihat

    • Suntingan: Rupanya


Penjelasan: “it appears” dalam kalimat ini berarti apparently. It appears memang bisa juga diterjemahkan jadi “terlihat” atau “kelihatannya” atau “tampaknya”, tapi dalam konteks kalimat, akan lebih enak dibaca jika diterjemahkan sebagai “rupanya” atau “ternyata
”

  • Naskah asli: so that considerable labour was involved in moving them all.
    • Terjemahan: sehingga seharusnya terdapat pekerja yang diikutsertakan dalam memindahkan barang
    • Suntingan: sehingga butuh kerja keras untuk memindahkan semuanya.

Penjelasan: labour di dalam kalimat ini artinya work, especially hard physical work.

  • Naskah asli: curiosities

    • Terjemahan: rasa keingintahuannya
    • Suntingan: koleksi benda aneh.

Penjelasan: curiosities maksudnya a strange or unusual object or fact.

  • Naskah asli: took a last look

    • Terjemahan: menoleh untuk terakhir kali

    • Suntingan: melakukan pengecekan terakhir

Terima kasih sudah bersedia mengikuti klinik terjemahan 2015.

Best regards,

Nadya

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (2)

Peserta: Asrtrid Prasetya

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn’t thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He’d asked his psychiatrists—both Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General—to explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a “fellow scientist,” they’d talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They’d listed, but hadn’t elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn’t thought much about what the lithium was doing to him. He’d just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing—like lack of money, and his messed-up family—that had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard’s student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn’t much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. “The Marriage Plot.” Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Astrid_1

Astrid_2

Astrid_3

Catatan penyuntingan:

  1. Untuk penerjemahan judul, usahakan tidak melenceng jauh dari bahasa asal. Gunakan kalimat yang pendek agar tetap
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan “Bukan … melainkan” dan “Tidak … tetapi.”
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah “take his destiny … into his own hands.”
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (1)

Peserta: Nurul Darmadjaja

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn’t thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He’d asked his psychiatrists—both Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General—to explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a “fellow scientist,” they’d talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They’d listed, but hadn’t elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn’t thought much about what the lithium was doing to him. He’d just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing—like lack of money, and his messed-up family—that had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard’s student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn’t much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. “The Marriage Plot.” Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Nurul_Darmadjaja_1

Nurul_Darmadjaja_2

Nurul_Darmadjaja_3

Catatan penyuntingan:

  1. Mengenai penerjemahan judul, Aksi Brilian benar, namun secara rasa saya lebih menyukai Langkah Brilian.
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan “Bukan … melainkan” dan “Tidak … tetapi.”
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah “take his destiny … into his own hands.”
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (1)

Peserta: Gita Shanty

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

G: terjemahan Gita.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

G: Hal tersebut tidak membuat banyak perbedaan, bahkan dengan menyengatnya bau busuk.
D: Tak banyak pengaruhnya, bahkan bau busuknya pun tidak.

In that place everything died except me, Stacey Wyatt. the great survivor.

G: Di tempat tersebut, segalanya telah mati kecuali aku. Stacey Wyatt, yang gigih bertahan hidup.
D: Di tempat itu semuanya mati kecuali aku, Stacey Wyatt, penyintas tangguh.

Simak keterangan tentang ‘segala’ dan ‘semua’.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago—too long.

G: Ada beberapa waktu ketika aku menyapa maut seperti kawan, bekerjasa sama dengannnya. Tapi itu dahulu sekali.
D: Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerja sama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama—terlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

G: Sekarang, aku menanti di suatu tempat pembuangan dari rencanaku sendiri, yang tahan terhadap apa pun yang mereka lakukan terhadap diriku.
D: Sekarang, aku menanti di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, each dose coinciding with one of Major Husseini’s inspections.

G: Ini adalah keempat kalinya, aku ditahan sejak mereka membawaku ke kamp buruh di Fuad. Tiap dosisnya bertepatan dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Jenderal Huseini.
D: Ini yang keempat kalinya aku dijebloskan kemari sejak mereka membawaku ke kamp kerja paksa di Fuad, setiap kalinya bertepatan dengan inspeksi Mayor Husseini.

“Major” di sini jelas-jelas menunjukkan pangkat,  jadi terjemahan pangkat Husseini meleset.

In the June war he had been one of the thousands whipped in Sinai and left to stumble home through one of the worst deserts on earth.

G: Di perang Juni,, dia adalah salah satu dari ribuan yang dicambuk di Sinai dan dipulangkan dalam keadaan tertatih-tatih. Melewati salah satu gurun terburuk di muka bumi.
D: Pada perang bulan Juni, laki-laki itu menjadi satu dari ribuan orang yang dicambuk di Sinai dan ditinggalkan untuk tersaruk-saruk pulang melintasi salah satu gurun pasir yang paling garang di dunia.

He had seen his command crumble, men die around him by the hundred from thirst and the sun had burned its way into his brain, starting a fire that could never be put out, leaving him with a hatred for Israel which had developed into a kind of paranoia.

G: Dia telah menyaksikan kepemimpinannya hancur berderai, ratusan orang di sekitarnya mati karena kehausan dan kepanasan akibat dahsyatnya terik matahari. Itu semua memulai api yang tidak akan pernah dapat dipadamkam, api kebenciannya terhadap Israel, yang membangun suatu ketakutan.

D: Dia sudah menyaksikan komandonya hancur, ratusan orang mati di sekelilingnya akibat kehausan dan terik matahari yang seolah-olah memanggang otaknya, menyulut api yang takkan pernah bisa dipadamkan, menyisakan kebencian terhadap Israel yang berkembang menjadi semacam paranoia.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

G: Sebagaimana aku, salah satu dari musuh negaranya, diadili dan dihukum dengan undang-undang subversif. Aku, seorang Yahudi yang bagaimanapun juga berhasil menyembunyikan fakta di pengadilan.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukum atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

G: Juli sebelumnya, Aku mengirim misil sepanjang 40 kaki dari Crete dengan emas dalam jumlah besar, kepada seorang laki-laki di Kairo yang seharusnya bertemu denganku di pantai daerah Ras el Kanayis. Bagian pertukaran yang begitu rumit oleh seseorang, entah di mana, secara fatal malah membuat suatu keberuntungan..

D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

I never did find out exactly what went wrong, but a couple of U.A.R. gunboats appeared rather inconveniently, plus a half company of infantry on the beach.

G: Aku tidak pernah menemukan tepatnya, tetapi beberapa kapal bersenjata milik U.A.R muncul dengan sangat tidak bersahabat, ditambah hampir separuh jumlah pasukan infanteri.
D: Aku tidak pernah tahu apa yang salah, tapi beberapa kapal bersenjata U.A.R muncul pada saat yang kurang menyenangkan, ditambah dengan setengah pasukan infanteri di pantai.

The economy benefited to the extent of half a ton of gold and John Smith, this year’s unknown American citizen, went down for seven years.

G: Ekonomi berpihak kepada setengah ton emas dan John Smith, warga negara Amerika tahun ini, yang tidak begitu dikenal, jatuh selama tujuh tahun.
D: Keuntungan ekonominya mencapai setengah ton emas dan John Smith, warga negara Amerika tak dikenal tahun ini, dipenjara selama tujuh tahun.

Naskah diambil dari novel In the Hour Before Midnight karya Jack Higgins, 1969. Dengan meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, bahwa, yang, dsb.
  • Dalam menerjemahkan, aku selalu berusaha untuk tidak sering memenggal kalimat, apalagi jika kalimatnya cukup sederhana dan tidak “beranak”.
  • Bila merasa kurang yakin, lakukan riset. Misalnya saat hendak menerjemahkan pangkat militer.
  • Jangan segan-segan memeriksa Ejaan Yang Disempurnakan, terutama untuk penggunaan koma dan titik.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (2)

Peserta: Ahmad Munawir

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku dan sedikit alasanku mengapa menerjemahkan seperti itu. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

A: terjemahan Ahmad.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

A: bahkan tidak ada bau amis dari mayat yang membusuk.
D: bahkan bau busuknya pun tidak.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago—too long.

A: Aku sudah pernah menyapa kematian dengan begitu hangatnya, dengan penuh keaktifan bekerja sama dengannya, namun itu semua terjadi dahulu kala, sangat lampau.
D: Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerja sama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama—terlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

A: Sekarang, aku menanti di limbo yang aku rancang sendiri, sebagai bukti perlawanan terhadap apa pun yang mereka telah lakukan kepadaku.
D: Sekarang, aku menanti di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

A: Karena aku merupakan musuh dari negaranya, diuji dan dituduh melakukan aktivitas subversif, aku pasti juga merupakan seorang Yahudi yang entah bagaimana caranya berhasil menyembunyikan fakta tersebut dari hadapan mahkamah.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukuman atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

A: Juli silam aku telah membawa kapal berukuran empat puluh kaki dari Kreta berisi batangan-batangan emas untuk seorang pria dari Kairo yang seharusnya bertemu denganku di pantai Ras el Kanayis, sebagai bagian dari proses pertukaran rumit yang dengannya seseorang entah di mana berhasil mendapatkan keuntungan.

D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

Naskah diambil dari novel In the Hour Before Midnight karya Jack Higgins, 1969. Dengan meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, merupakan, dsb.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

 

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (3)

Peserta: Rencia

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku dan sedikit alasanku mengapa menerjemahkan seperti itu. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

R: terjemahan Rencia.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

R: Bukan dilihat dari perbedaan yang ditimbulkannya, pun bukan dari bau busuk yang menyengat.
D: Tidak banyak pengaruhnya, bahkan bau busuknya pun tidak.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago-too long.

R: Dulu aku melewati hari dengan menyapa kematian sebagai seorang teman, bersahabat erat dengannya, tapi itu sudah lama sekali.
D: Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerjasama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama—terlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

R: Sekarang, aku terbuang bersama pemikiranku sendiri, menunggu apapun yang bisa mereka lakukan padaku.
D: Sekarang, menunggu di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

I’d been in the Hole for three days now, which was what it was called by prisoner and guard alike-a place of darkness and furnace heat where you rotted in your own filth and died from lack of air.

R: Aku sudah 3 hari berada di tempat ini, Hole, setidaknya begitulah para tahanan dan penjaga menyebutnya – tempat yang gelap pekat dan panas membakar, dimana kau akan membusuk bersama dagingmu dan mati tercekat tanpa udara.
D: Sudah tiga hari aku berada di lubang, begitulah para tahanan dan penjaga menyebutnya – tempat yang gelap dan panas bagaikan tungku, yang bisa membuat orang membusuk di kubangan kotoran sendiri dan mati akibat kurang oksigen.

It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, each dose coinciding with one of Major Husseini’s inspections.

R: Ini keempat kalinya aku di buang ke tempat ini, mereka akan menyeretku ke markas pekerja di Fuad, dimana segala sesuatunya harus sesuai pada perintah Komandan Husseini.

D: Ini yang keempat kalinya aku dijebloskan kemari sejak mereka membawaku ke kamp kerja paksa di Fuad, setiap kalinya bertepatan dengan inspeksi Mayor Husseini.

“Major” di sini jelas-jelas menunjukkan pangkat,  jadi terjemahan pangkat Husseini meleset.

In the June war he had been one of the thousands whipped in Sinai and left to stumble home through one of the worst deserts on earth.

R: Pada perang Juni, dia menjadi salah satu dari ribuan orang-orang yang ditebus di Sinai, dan di seret paksa ke satu tempat melewati salah satu gurun terburuk di muka bumi.
D: Pada perang Juni, dia menjadi salah satu dari ribuan orang-orang yang dicambuk di Sinai dan ditinggalkan untuk tersaruk-saruk pulang melintasi salah satu gurun pasir yang paling garang di dunia.

He had seen his command crumble, men die around him by the hundred from thirst and the sun had burned its way into his brain, starting a fire that could never be put out, leaving him with a hatred for Israel which had developed into a kind of paranoia.

R: Kekuasaannya telah runtuh, ratusan manusia mati bergelimpangan karena kehausan dan teriknya matahari telah membakar hangus hingga ke otaknya, memantik api yang tak pernah bisa dipadamkan, menyulutkan kebenciannya terhadap Israel yang terus terbangun menjadi semacam paranoid.
D: Dia sudah menyaksikan komandonya hancur, ratusan orang mati di sekelilingnya akibat kehausan dan terik matahari yang seolah-olah memanggang otaknya, menyulut api yang takkan pernah bisa dipadamkan, menyisakan kebencian terhadap Israel yang berkembang menjadi semacam paranoia.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

R: Dan aku, karena aku adalah musuh negara, diadili, dan dijatuhi hukuman atas aktifitas gerakan bawah tanah, pastinya aku juga nampak sebagai seorang Yahudi yang tentu saja berencana untuk menyembunyikan fakta dari pengadilan.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukuman atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

R: Juli tahun lalu, aku meluncur bersama kapal sepanjang 40 kaki dari Crete dengan muatan emas dalam jumlah yang sangat banyak untuk seorang laki – laki Kairo yang seharusnya bertemu denganku di sebuah pantai di Ras el Kanayis, bagian tersulit dari sebuah proses pertukaran barang yang jika sedikit saja salah langkah, fatal akibatnya.
D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

I never did find out exactly what went wrong, but a couple of U.A.R. gunboats appeared rather inconveniently, plus a half company of infantry on the beach.

R: Aku tak pernah menemukan dimana sebenarnya letak kesalahannya, namun sejurus kemudian, sepasang kapal – kapal meriam U.A.R muncul, bersama setengah kompi pasukan militer di pantai.
D: Aku tidak pernah tahu apa yang salah, tapi beberapa kapal bersenjata U.A.R muncul pada saat yang kurang menyenangkan, ditambah dengan setengah pasukan infanteri di pantai.

  • Bila sudah diberi kata satuan yang menunjukkan jamak, kata benda tidak perlu diulang. Misalnya, sepasang burung dara, bukan sepasang burung-burung dara.
  • a couple‘ di sini artinya bukan sepasang. Simak selengkapnya.

Naskah diambil dari novel In the Hour Before Midnight karya Jack Higgins, 1969. Dengan meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, merupakan, dsb.
  • Bila merasa kurang yakin, lakukan riset. Misalnya saat hendak menerjemahkan pangkat militer.
  • Jangan segan-segan memeriksa Ejaan Yang Disempurnakan, terutama perhatikan “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai imbuhan:
    dimana -> di mana
    diantara -> di antara.
  • Simak menerjemahkan “where” vs. di mana.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 06 (1)

Peserta: Aria Enggar

Sumber:

Page 4

Le Carousel, the annual military festival, traditionally marked the end of a year of training for the young cavalry officers of Saumur. As usual, the July weekend was thick with visitors to the medieval town, keen not just to witness the passing out of the young cavalrymen but the traditional displays of cavalry riding, motorbike acrobatics and the parade of tanks, their great hulls still scarred form the war.

It was 1960. The Old Guard was teetering in the face of an onslaught of popular culture, of shifting attitudes and Johnny Hallyday, but in Saumur there was little appetite for change. The annual performance if twenty-two elite French horsemen, some military, some civilian, who comprised Le Cadre Noir, the highlight of Le Carrousel weekend, was always enough to guarantee that the tickets were sold out within days-to the local community, to those who were imbued with a sense of France’s heritage, and, on a less cerebral level, to those intrigued by posters all over the Loire region promising ‘Majesty, Mystery, Horses that Defy Gratify’.

Le Cadre Noir had been born almost 250 year earlier, after the decimation of the French cavalry in the Napoleonic Wars. In an attempt to rebuild what ha once been considered a crack band of horsemen, a school was created in Saumur, a town which had housed an equestrian academy since the 26th century. Here, a corps of instructors had been gathered form the finest riding schools at Versailles, the Tuileries and Saint Germain, to pass on the high traditions of academic riding to a new generation of offices, and had continued to do so ever since.

Terjemahan dan suntingan:

Aria_1

Pengampu: Istiani Prajoko

[Klinik Terjemahan 2015] A Wind in The Door

Saya memilih bahan dari buku A Wind in The Door karya Madeleine L’Engle, buku kedua serial Time Quintet. Saya menerjemahkan buku pertamanya yang berjudul Wrinkle In Time (Penerbit Atria).

Ini adalah teks asli dari bab pertama buku tersebut:

ONE

Charles Wallace’s Dragons

 

“There are dragons in the twins’ vegetable garden.”

Meg Murry took her head out of the refrigerator where she had been foraging for an after-school snack, and looked at her six-year-old brother. “What?”

“There are dragons in the twins’ vegetable garden. Or there were. They’ve moved to the north pasture now.”

Meg, not replying—it did not do to answer Charles Wallace too quickly when he said something odd—returned to the refrigerator. “I suppose I’ll have lettuce and tomato as usual. I was looking for something new and different and exciting.”

“Meg, did you hear me?”

“Yes, I heard you. I think I’ll have liverwurst and cream cheese.” She took her sandwich materials and a bottle of milk and set them out on the kitchen table.

Charles Wallace waited patiently. She looked at him, scowling with an anxiety she did not like to admit to herself, at the fresh rips in the knees of his blue jeans, the streaks of dirt grained deep in his shirt, a darkening bruise on the cheekbone under his left eye.

“Okay, did the big boys jump you in the schoolyard this time, or when you got off the bus?”

“Meg, you aren’t listening to me.”

“I happen to care that you’ve been in school for two months now and not a single week has gone by that you haven’t been roughed up. If you’ve been talking about dragons in the garden or wherever they are, I suppose that explains it.”

“I haven’t. Don’t underestimate me. I didn’t see them till I got home.”

Whenever Meg was deeply worried she got angry. Now she scowled at her sandwich. “I wish Mother’d get the spreadable kind of cream cheese. This stuff keeps going right through the bread. Where is she?”

“In the lab, doing an experiment. She said to tell you she wouldn’t be long.”

Berikut ini adalah hasil terjemahan ketiga peserta dan hasil suntingan saya:

Faisal Bosnia Ahmad

Bosnia 1

Bosnia 2

Gentur Aji Satyananto

Gentur 1

Gentur 2

Abduraafi Andrian

Abduraafi 1

Abduraafi 2

Secara keseluruhan, peserta mampu menerjemahkan teks, hanya ada beberapa kekurangan yang umum terjadi (seperti belum bisa membedakan kata depan dan awalan “di”, penempatan spasi).

Selain itu, ada beberapa catatan dan masukan yang saya berikan.

CATATAN

  1. Riset

Riset penting dalam menerjemahkan, baik itu riset tentang naskah yang akan diterjemahkan (dalam naskah fiksi: genre, tokoh, setting, dll.) dan isi naskah tersebut.

Genre buku ini adalah fantasi sains, untuk pembaca anak dan remaja. Ringkasan cerita dengan mudah bisa kita dapatkan di Internet.

Yang ingin saya soroti tentang riset adalah terjemahan Bosnia. Bosnia sudah melakukan riset tentang istilah yang masih asing untuk pembaca, yaitu liverwurst, dengan mencantumkan catatan kaki untuk menjelaskan. Saya pribadi lebih suka untuk memasukkan keterangan ke dalam teks terjemahan, misalnya diberi tanda sengkang: “liverwurst—sosis campuran daging dan hati—” karena saya sendiri sering lelah jika membaca terlalu banyak catatan kaki. Tapi, Bosnia melewatkan riset tentang tokoh, dan menerjemahkan “twins” menjadi “ganda”, padahal seharusnya “si kembar”, adik-adik Meg.

  1. Ketepatan menerjemahkan

Saya ambil contoh teks dari Abduraafi, yang menerjemahkan “dragons” menjadi “naga” dan teks Bosnia yang menerjemahkan menjadi “naganya”. Kadang-kadang, ada beberapa bentuk jamak yang memang tidak perlu diterjemahkan, tapi jika “dragons” di sini hanya diterjemahkan menjadi “naga”, bukan “naga-naga”, artinya akan salah. Di teks dari Guntur juga ada “I haven’t.” yang diterjemahkan menjadi “Aku memang tidak dipukuli.” , padahal maksudnya Charles Wallace tidak membicarakan naga-naga itu di depan anak-anak lain.

  1. Alih budaya

Kadang ada teks yang perlu dialihbudayakan, kadang ada yang tidak. Contohnya dari terjemahan Bosnia, saat Meg menyebut dirinya “kakak” saat bicara dengan Charles Wallace. Di Indonesia, lazim seorang kakak menyebut dirinya begitu saat berbicara dengan adik, tapi dalam cerita ini, akan terasa ganjil jika Meg bicara begitu.

  1. Rasa bahasa

Sebetulnya tidak semua teks yang saya coret dan ganti itu salah. Kadang hanya rasa bahasa dan selera yang berbeda. Kadang ada terjemahan yang harus singkat dan lugas, kadang ada yang cocok jika diterjemahkan dengan gaya bahasa berbunga-bunga dan puitis. Kadang ada beberapa kata yang lebih enak jika posisinya ditukar, atau penggunaan kata lain yang rasanya lebih pas (meskipun artinya sama).

 

MASUKAN (BERDASARKAN PENGALAMAN SAYA PRIBADI)

  1. Jika sedang menerjemahkan, anggaplah diri kita sebagai aktor dan teks sebagai film. Bayangkan kita menjadi tokoh dalam kisah itu, resapi ceritanya, dalami perannya. Ini akan sangat membantu dalam menerjemahkan genre yang berbeda, misalnya dalam memilih kata.
  2. Baca keras-keras sebagian teks, terutama kalimat-kalimat panjang. Bayangkan kita sedang membacakannya kepada seseorang yang sama sekali belum tahu ceritanya. Kalimat-kalimat panjang sering membingungkan saat diterjemahkan, biasanya kita akan merasakan sendiri jika ada kalimat yang kurang enak atau ganjil.

Semoga berguna!

Maria M. Lubis