(Klinik Terjemahan 2015) City of Stars – Pengampu: Rini Nurul

 

Komentar umum:

Materi soal klinik ini saya ambil dari terjemahan buku fantasi remaja yang saya kerjakan enam tahun lalu dan batal terbit. Sengaja saya ambil dari salah satu bab di tengah untuk menyoroti permasalahan kata ganti yang kerap “menjebak”, terutama jika tokoh berjenis kelamin sama. Berikut ini materinya:

The brother that Falco loved best was Gaetano, the

closest to him in age, and he wasn’t handsome at all.

In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide

crooked mouth. He was supposed to look like their

grandfather Alfonso, who had built the great palace at

Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the

brothers, and the most interested in the libraries at

Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could

ride and fence and make up the most wonderful

games. The happiest hours of Falco’s childhood had

been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his

invented romances of knights and ghosts and hidden

treasure and family secrets of madmen and concealed

wills and maps. Their older sister Beatrice could

sometimes be persuaded to play the forlorn maidens

or warrior queens which Gaetano’s invention

required, but often Falco himself, with his delicate

features and huge dark eyes, had to submit to being

wrapped in scraps of muslin or brocade to take the

female roles.

His favourite romances, though, had been the ones

involving swordfights. He and his brother had started

with toy wooden weapons but graduated to bated

foils when Falco was ten. They had fought their way

up and down all the staircases of the palace from the

grand sweep of the main marble one to the mysterious

branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Mengamati hasil terjemahan tiga peserta buat saya mengandung daya tarik tersendiri untuk melihat variasi kosakata, menilik kekuatan masing-masing, ketepatan, rasa bahasa, suasana, dan konteks yang dihadirkan. Tentu saja sempat saya bandingkan dengan hasil sendiri yang sangat mungkin perlu diperbaiki mengingat dulu saya belum mengetahui beberapa hal dan ada kemungkinan ketidaktelitian pula.

Berhubung terjemahan adalah aktivitas yang cukup subjektif, saya tidak menerapkan aturan “terlalu ketat” pada ketiga peserta. Misalnya masalah padanan “pedang lentur” dan “anggar”. Keduanya masuk akal, sependek pengetahuan saya sewaktu berkomunikasi dengan pengarang. Maka saya hormati kedua padanan tersebut.

Jujur, saya bukan “penggemar” deskripsi yang terlalu cermat pula sehingga untuk penggambaran tempat, detail bangunan, dan sejenisnya cenderung leluasa selama hal itu tidak berperan dalam cerita secara keseluruhan. Namun ini bukan sikap yang layak diteladani tentu, sekadar mengutip seorang senior, “Mungkin saja kita berpikir pembaca tak memperhatikannya, tapi apeslah kalau sampai “tepergok” editor.” Saya menganut prinsip penyederhanaan, yang bisa jadi tidak disukai sebagian pembaca fantasi yang fanatik, terkait beberapa kata dan istilah yang hanya muncul satu kali serta lagi-lagi… tidak berpengaruh pada cerita secara keseluruhan. Yang penting logis dan tidak “mengarang” dari teks aslinya.

Ketiga peserta ini sudah mengerjakan sebaik mungkin, dan alangkah gembiranya saya karena rata-rata menguasai ejaan dan tatabahasa. Maka marilah kita tinjau satu demi satu. Oh ya, sengaja nama penerjemah tidak saya cantumkan supaya pengunjung blog ini tidak “salah fokus” dan tetap berkonsentrasi pada upaya belajar dari satu sama lain. Khususnya hasil terjemahannya.

Penerjemah 1

P1-I

P1-2

Catatan: mohon lebih berhati-hati, diusahakan membaca ulang dan membandingkan dengan teks asli supaya tidak terlewat.

Definisi romance dalam konteks di atas menurut TFD:

A long fictitious tale of heroes and extraordinary or mysterious events, usually set in a distant time or place.

Kalau tidak salah, Beatrice memang anak tertua. Karena itu saya biarkan terjemahan “kakak tertua”.

“Bagian masa kecil Falco” perlu ditekankan secara setia karena Falco tidak selalu bahagia.

Penerjemah 2

P2-1

P2-2Catatan:

Mohon perhatikan pemakaian “di”

Demi keterbacaan, hindari terlalu sering memakai kata penghubung “yang”, “adalah”, dll.

“Istana Papal” tidak dikoreksi karena alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Penerjemah 3

P3

Catatan:

Mohon berhati-hati dengan “perangkap” kalimat panjang. Dipenggal saja untuk mempermudah pembaca.

Makna suppose dalam konteks di atas menurut TFD:

To consider to be probable or likely

Koreksi atas koreksi saya sendiri: kain muslin, bukan muslim

Karena Falco dan Gaetano sama-sama pria, juga sering diceritakan dalam satu kalimat atau kalimat yang berdekatan, sebaiknya gunakan nama untuk memperjelas.

Demikian masukan-masukan saya, semoga bermanfaat. Perlu saya sampaikan, ada beberapa hal yang bisa jadi tidak seprinsip dengan editor lain (dan penerbit) karena selingkung berbeda-beda. Selain itu, pengampu pun tidak luput dari khilaf:)

Advertisements

Klinik Terjemahan – Ferals | Yenni

Naskah Asli:

Screen Shot 2015-09-30 at 10.02.17 AM Screen Shot 2015-09-30 at 10.02.39 AM

Terjemahan Yenni dan Koreksi:

Screen Shot 2015-09-30 at 11.19.32 AMScreen Shot 2015-09-30 at 11.15.17 AM Yenni 3

Pembahasan Terjemahan Yenni:

Pedoman Teknis

  • Awal paragraf menjorok ke dalam, kecuali paragraf pertama di setiap bab dan subbab
  • Antarparagraf cukup satu kali enter.

Catatan EYD:

  • Hindari kata-kata mubazir, jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, bahwa, yang, dsb.
  • semi- adalah bentuk terikat, jadi menyambung dengan kata berikutnya -> semitransparan

Catatan penerjemahan

He could see his breath
T: Ia bisa melihat napasnya
E: Ia bisa melihat uap napasnya
=> membayangkan malam hari saat udara sedang dingin, ketika mengembuskan napas biasanya ada uap keluar dari mulut.

A spider scuttled away from his hand
T: Seekor laba-laba memelesat pergi dari tangannya
E: Seekor laba-laba bergegas menjauh dari tangannya.
=> memelesat: memental, terlepas dengan cepat

flapping across from the nest’s edge
T: terbang melintasi tepian sarang
E: terbang dari tepian sarang
=> melintas: melewati; menyeberangi

and the image of the spider ring burned behind his lids
T: dan bayangan jaring laba-laba lenyap di balik matanya
E: dan bayangan cincin laba-laba seakan melekat kuat di bagian dalam kelopak matanya
=> dari thefreedictionary.com, burned: To cause to be felt or remembered because of emotional intensity: The image of the accident was burned into my memory.

except tonight it hadn’t been
T: Kecuali malam ini tidak begitu
E: Hanya saja malam ini mimpinya bukan yang biasa

but you woke us twitching like a half-eaten worm
T: Tapi kau mengejutkan kami seperti cacing sekarat
E: Tapi kau membangunkan kami dengan menggeliat-geliat seperti cacing setengah dimakan

Caw could hear the grumpy ruffle of Glum’s feather.
T: Caw bisa mendengar kepakan sayap kesal Glum
E: Caw bisa mendengar Glum menggesek-gesekkan bulu karena kesal

let his eyes adjust to the gloom
T: membiarkan matanya menyesuaikan keremangan
E: membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan keremangan

with a hatch in the floor
T: dengan sebuah penutup di lantai
E: dengan tingkap di lantai

a sheet of corrugated semi-transparent plastic
T: selembar plastik semi transparan yang bergelombang
E: selembar plastik gelombang semitransparan
=> kalimat di editan lebih ringkas, plastik gelombang istilah yang sudah berterima

with pieces of boarding he’d scavenged from a building site
T: dengan potongan-potongan kayu yang dikumpulkannya dari sebuah kompleks gedung
E: dengan potongan-potongan papan yang dipulungnya dari tempat pembangunan

with steep sides about a metre tall
T: dengan sisi curam sekitar semeter tingginya
E: dengan sisi miringnya setinggi sekitar satu meter
=> curam: terjal dan dalam

Pengampu: Reita Ariyanti

Klinik Terjemahan – Ferals | Ayesha

Penerjemah: Ayesha

Naskah asli

Screen Shot 2015-09-30 at 10.02.17 AM Screen Shot 2015-09-30 at 10.02.39 AM

Terjemahan Ayesha dan koreksi:

Ayesha 1 Ayesha 2

Pembahasan terjemahan Ayesha:
Catatan EYD

❄︎ nafas -> napas

❄︎ Perhatikan “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai imbuhan:
dibawah -> di bawah
diantara -> di antara

❄︎ Hindari kata-kata mubazir, jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, bahwa, yang, dsb.

❄︎ Dalam kalimat tanya, tambahkan koma sebelum “bukan”, “kan”, “tidak”, “betul”, “ya”.
misal:
“Kau tidak sedang tidur, kan?”
“Dia orangnya, bukan?”
“Kau mau ke sana, tidak?”
Jadi editannya: itu tidak benar-benar terjadi bukan? -> itu tidak benar-benar terjadi, bukan?

❄︎ Tambahkan keterangan penting jika perlu
Blackwater -> sungai Blackwater

Catatan penerjemahan

Sweat was drying on his forehead
Terjemahan (T): Keringat mengalir di dahinya
Editan (E): Keringat mulai mengering di dahinya

He could see his breath
T: Dia dapat merasakan nafasnya sendiri
E: Dia dapat melihat kepulan napasnya sendiri
=> membayangkan malam hari saat udara sedang dingin, ketika mengembuskan napas biasanya ada uap keluar dari mulut.

Except tonight it hadn’t been.
T: Hal seperti itu belum pernah terjadi
E: Hanya saja malam ini mimpinya bukan yang biasa.
=> hadn’t di sini ditujukan ke usual, the usual dream

But you woke us twitching like a half-eaten worm.
T: Tapi kamu membuat kami tersentak seperti cacing yang telah dimakan setengahnya.
E: Tapi kau membuat kami terbangun dengan menggeliat-geliat seperti cacing yang telah dimakan setengahnya.

Caw could hear the grumpy ruffle of Glum’s feathers.
T: Caw dapat mendengar kemarahan dibalik bulu-bulu Glum.
E: Caw dapat mendengar Glum menggesek-gesekkan bulu karena kesal.

not with the dream throwing its fading echoes through his mind
T: karena mimpi itu terus datang ke benaknya
E: karena bayangan samar mimpi itu tak bisa lepas dari ingatannya
    => throwing its fading echoes, dalam konteks ini Caw sepertinya tidak bisa melupakan mimpinya, terjemahan Ayesha
memberi kesan Caw bermimpi kembali.

with a hatch in the floor
T: dengan sebuah tempat untuk mengeram sebagai alasnya
E: dengan tingkap di lantai

using a sheet of corrugated semi-transparent plastic
T: menggunakan secarik plastik setengah transparan yang bergelombang
E: menggunakan selembar plastik gelombang semitransparan
=> kalimat di editan lebih ringkas, plastik gelombang istilah yang sudah berterima

knitted
T: dirajut
E: dijalin
=> untuk ranting tentunya lebih pas menggunakan dijalin daripada dirajut

with pieces of boarding he’d scavenged from a building site
T: serta serpihan papan yang ia cari dari bangunan
E: dengan potongan-potongan papan yang ia pulung dari tempat pembangunan
=> scavenged: to collect (useful items) by searching through refuse
pulung: mengumpulkan barang bekas (limbah) yg terbuang (sampah) untuk dimanfaatkan sbg bahan produksi, dsb.

with steep sides about a metre tall
T: dengan sisi yang curam setinggi satu meter
E: dengan sisi miringnya setinggi kurang-lebih satu meter
=> curam lebih ke terjal dan dalam

His few possessions lay in a battered suitcase
T: Beberapa harta miliknya ia letakkan dalam sebuah koper usang
E: Harta bendanya yang hanya sedikit ia simpan dalam koper usang

An old curtain could be pinned across the middle
T: Sebuah tirai dapat disematkan di tengahnya
E: Tirai lusuh dapat dijepitkan melintang di tengahnya

At the far end, a small hole in the tarpaulin roof offered an entrance and exit for the crows
T: Terakhir, sebuah lubang kecil di atapnya yang terbuat dari kain terpal menawarkan sebuah pintu masuk dan keluar untuk gagak.
E: Di ujung terjauh, ada lubang kecil di atap terpal yang menjadi pintu untuk keluar-masuk gagak-gagak.

Pengampu: Reita Ariyanti

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (2)

Peserta: Asrtrid Prasetya

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn’t thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He’d asked his psychiatrists—both Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General—to explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a “fellow scientist,” they’d talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They’d listed, but hadn’t elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn’t thought much about what the lithium was doing to him. He’d just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing—like lack of money, and his messed-up family—that had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard’s student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn’t much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. “The Marriage Plot.” Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Astrid_1

Astrid_2

Astrid_3

Catatan penyuntingan:

  1. Untuk penerjemahan judul, usahakan tidak melenceng jauh dari bahasa asal. Gunakan kalimat yang pendek agar tetap
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan “Bukan … melainkan” dan “Tidak … tetapi.”
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah “take his destiny … into his own hands.”
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] The Vampire (2)

Masih cerpen The Vampire karya Jan Neruda.

 

Paragraf 1:

We truly did have enough to gaze at. There is not a more beautiful or more happy corner in the world than that very Prinkipo! The political martyr, Irene, contemporary of Charles the Great, lived there for a month as an exile. If I could live a month of my life there I would be happy for the memory of it for the rest of my days! I shall never forget even that one day spent at Prinkipo.

Terjemahan:

Kami benar-benar puas memandanginya. Tidak ada sudut di dunia ini yang lebih indah atau lebih ceria daripada Prinkipo yang itu! Seorang martir politik, Irene, semasa dengan Charles yang Agung, tinggal di sana selama sebulan sebagai buangan. Seandainya aku bisa menghabiskan sebulan dari hidupku di sana, aku akan bahagia dengan kenangan akan hal itu selama sisa hidupku! Aku tak akan pernah melupakan sehari pun yang kuhabiskan di Prinkipo.

Suntingan:

Paragraf 1 Penerjemah 2

Komentar:
  • Kalimat pertama paragraf ini berkaitan dengan percakapan pada paragraf sebelumnya, karena itu tidak saya bahas.
  • Keterangan yang terpencar-pencar ada baiknya dikumpulkan agar kalimat lebih mudah dibaca:
    “Seorang martir politik, Irene, yang hidup di masa …” –> “Irene, martir politik yang hidup di masa …”
  • Hindari pengulangan dalam satu kalimat yang sama atau kalimat yang berdekatan:
    “… menghabiskan sebulan dari hidupku di sana … selama sisa hidupku!”
    –> tinggal di sana selama sebulan, … selama sisa hidupku!”
  • Charles the Great sudah diterjemahkan menjadi Charles yang Agung. Bagus! Tetapi sebaiknya dicoba untuk mencari padanan Indonesianya karena kalau memang ada, sebaiknya pakai padanan Indonesia saja.

Paragraf 2:

The air was as clear as a diamond, so soft, so caressing, that one’s whole soul swung out upon it into the distance. At the right beyond the sea projected the brown Asiatic summits; to the left in the distance purpled the steep coasts of Europe. The neighboring Chalki, one of the nine islands of the “Prince’s Archipelago,” rose with its cypress forests into the peaceful heights like a sorrowful dream, crowned by a great structure—an asylum for those whose minds are sick.

Terjemahan:

Udaranya sejernih berlian, begitu lembut, begitu membelai, hingga seluruh jiwa seseorang berayun melayang sampai kejauhan. Pada sisi kanan di seberang lautan, terpantul puncak-puncak Asia yang kecoklatan; menuju ke kiri di kejauhan, pesisir-pesisir curam Eropa yang keunguan. Bersebelahan dengan Chalki, satu dari sembilan pulau-pulau “Kepulauan Pangeran”, menjulang dengan hutan-hutan cemaranya menuju dataran tinggi yang damai laksana mimpi yang menyedihkan, puncaknya tertutup oleh bangunan besar—sebuah rumah sakit jiwa untuk mereka yang pikirannya sakit.

Suntingan:

Paragraf 2 Penerjemah 2

 

Komentar:
  • Sembilan pulau-pulau –> sembilan pulau karena di depan sudah ada kata bilangan jadi sudah jelas pulaunya banyak.
  • Kalimat yang terlalu panjang boleh dipenggal agar lebih mudah dicerna.

 

Paragraf 3:

The Sea of Marmora was but slightly ruffled and played in all colors like a sparkling opal. In the distance the sea was as white as milk, then rosy, between the two islands a glowing orange and below us it was beautifully greenish blue, like a transparent sapphire. It was resplendent in its own beauty. Nowhere were there any large ships— only two small craft flying the English flag sped along the shore. One was a steamboat as big as a watchman’s booth, the second had about twelve oarsmen, and when their oars rose simultaneously molten silver dripped from them. Trustful dolphins darted in and out among them and dove with long, arching flights above the surface of the water. Through the blue heavens now and then calm eagles winged their way, measuring the space between two continents.

Terjemahan:

Laut Marmora hanya sedikit beriak dan bermain dalam setiap warna seperti opal yang gemerlapan. Dari kejauhan, laut seputih susu, lalu kemerahan, jingga menyala di antara dua pulau, dan di bawah kami laut membiru kehijauan dengan indah, laksana safir yang jernih. Laut tampak gemilang dalam keindahannya sendiri. Tidak ada kapal besar terlihat di sana—hanya dua perahu kecil yang mengibarkan bendera Inggris melaju di sepanjang pantai. Yang satu adalah kapal uap sebesar bilik pengawas, yang kedua memiliki sekitar dua belas pendayung, dan ketika dayung-dayung mereka terangkat secara bersamaan perak cair menetes darinya. Lumba-lumba yang penuh kepercayaan melesat naik turun di antara mereka dan menukik dengan lompatan yang panjang melengkung di atas permukaan air. Sekali-sekali melintasi langit biru, burung-burung elang yang tenang terbang mengepakkan sayapnya, mengukur jarak di antara dua benua.

Suntingan:

Paragraf 3 Penerjemah 2

 

Komentar:
  • “Trustful” dalam “Trustful dolphins …” bermakna jinak.
  • “Mereka” adalah kata ganti orang, jadi untuk “they” yang bukan orang, sebutkan saja benda yang dimaksud.

 

Kesan-kesan lain dari saya:

Hasil terjemahan penerjemah yang katanya sudah pernah menerjemahkan ini sudah bagus dan secara makna sudah tepat sehingga suntingan yang dilakukan hanyalah untuk meningkatkan keterbacaan.

[Klinik Terjemahan 2015] The Vampire (1)

Naskah untuk klinik terjemahan ini adalah cerpen The Vampire karya Jan Neruda.

Yang dijadikan bahan terjemahan adalah bagian deskripsi alamnya karena menurut saya pribadi bagian deskripsi, terutama deskripsi alam, adalah bagian yang paling membosankan, sangat menguji kesabaran, ketelitian, membuat mengantuk setengah mati, tapi tidak bisa dibawa tidur karena harus menyusun kata-kata yang indah berbunga-bunga supaya semua keindahan itu tersampaikan kepada pembaca. Padahal bisa jadi pembaca akan melahapnya dalam beberapa menit atau malah dilewat begitu saja (saya termasuk pembaca yang paling malas dan sering melewatkan bagian deskripsi). Selain deskripsi, di bagian tersebut juga ada beberapa hal yang memerlukan riset.

Berikut ini adalah hasil terjemahan dan suntingan untuk penerjemah pertama:

Paragraf 1:

We truly did have enough to gaze at. There is not a more beautiful or more happy corner in the world than that very Prinkipo! The political martyr, Irene, contemporary of Charles the Great, lived there for a month as an exile. If I could live a month of my life there I would be happy for the memory of it for the rest of my days! I shall never forget even that one day spent at Prinkipo.

Terjemahan:

Kami hampir-hampir tak sempat untuk merenungkannya.  Tidak ada sudut yang lebih indah atau lebih menyenangkan di dunia ini dibanding Prinkipo.  Martir politik, Irene, Charles the great yang kontemporer pernah tinggal di sana selama sebulan dalam pengasingan. Seandainya diriku dapat tinggal sebulan saja, pasti menjadi kenangan terbaik dari hari-hariku.  Aku tak akan pernah melupakan hari itu di Prinkipo.

Suntingan:

Paragraf 1 Penerjemah 1

Komentar:
  • Kalimat pertama paragraf ini berkaitan dengan percakapan pada paragraf sebelumnya, karena itu tidak saya bahas.
  • “Contemporary of …” pada kalimat “The political martyr, Irene, contemporary of Charles the Great …” memiliki makna “hidup pada masa yang sama dengan ….”

Contemporary of 1

  • Julukan atau gelar seperti Charles the Great perlu dicari padanan Indonesianya. Inilah yang saya maksud dengan riset. Charles the Great adalah Karel yang Agung.
  • Keterangan yang terpencar-pencar ada baiknya dikumpulkan agar kalimat lebih mudah dibaca:
    “Seorang martir politik, Irene, yang hidup pada masa …” –> “Irene, martir politik yang hidup pada masa …”

 

Paragraf 2:

The air was as clear as a diamond, so soft, so caressing, that one’s whole soul swung out upon it into the distance. At the right beyond the sea projected the brown Asiatic summits; to the left in the distance purpled the steep coasts of Europe. The neighboring Chalki, one of the nine islands of the “Prince’s Archipelago,” rose with its cypress forests into the peaceful heights like a sorrowful dream, crowned by a great structure—an asylum for those whose minds are sick.

Terjemahan:

Udara begitu cerah sebening berlian, begitu lembut membelai hingga jiwa ini serasa berayun di atas menuju kejauhan.  Di pojok kanan lautan tampak semburat kecoklatan puncak benua Asia sementara di sebelah kiri di kejauhan tampak pantai curam Eropa keunguan. Chalki, pulau tetangga, salah satu dari “Kepulauan Pangeran”, dengan hutan Sipres nya tampak menjulang ke ketinggian damai bagai sebuah mimpi sedih, yang dinobatkan oleh struktur besar – sebuah suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit.

Suntingan:

Paragraf 2 Penerjemah 1

 

Komentar:
  • Kalimat yang terlalu panjang boleh dipenggal agar lebih mudah dicerna.
  • “… crowned by …” dalam hal ini bukan dinobatkan, tapi justru bermakna harfiah.
    Jadi, di puncak pulau Chalki ada bangunan, yang seolah-olah adalah mahkotanya. Karena itu saya ganti dengan “dimahkotai”.
  • Omong-omong, “suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit” itu keren sekali.

 

Paragraf 3:

The Sea of Marmora was but slightly ruffled and played in all colors like a sparkling opal. In the distance the sea was as white as milk, then rosy, between the two islands a glowing orange and below us it was beautifully greenish blue, like a transparent sapphire. It was resplendent in its own beauty. Nowhere were there any large ships— only two small craft flying the English flag sped along the shore. One was a steamboat as big as a watchman’s booth, the second had about twelve oarsmen, and when their oars rose simultaneously molten silver dripped from them. Trustful dolphins darted in and out among them and dove with long, arching flights above the surface of the water. Through the blue heavens now and then calm eagles winged their way, measuring the space between two continents.

Terjemahan:

Laut Marmora tampak sedikit bergelombang memainkan berbagai warna bagai batu opal yang berkilauan.  Di kejauhan, laut tampak seputih susu, kemudian bersemu merahnya mawar, di antara dua pulau berpijar warna jingga dan di bawah kami berwarna biru kehujauan bagai batu safir transparan.  Tampak gemilang di keindahannya sendiri.  Tak ada satu pun kapal besar – hanya dua kapal kecil mengibarkan bendera Inggris melaju sepanjang pantai.  Kapal pertama adalah kapal uap sebesar pos penjaga pantai, kapal kedua memiliki sekitar dua belas pendayung, dan ketika dayung mereka naik secara bersamaan cairan perak menetes dari mereka. Lumba-lumba melesat keluar masuk di antara dayung-dayung tersebut dan menyelam didahului dengan luncuran panjang, melengkung di atas permukaan air. Di antara langit biru sesekali burung elang dengan tenang mengepakkan sayapnya, mengukur ruang antara dua benua.

Suntingan:

Paragraf 3 Penerjemah 1

Komentar:
  • “Mereka” adalah kata ganti orang, jadi untuk “they” yang bukan orang, sebut saja benda yang dimaksud.

 

Kesan-kesan lain dari saya:

  • Penerjemah, yang katanya belum pernah menerjemahkan ini, sudah tahu perbedaan antara kata depan “di” dengan imbuhan “di-“. Salut!
  • Saya senang sekali saat membaca “… suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit”. Berseni banget.

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (1)

Peserta: Nurul Darmadjaja

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn’t thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He’d asked his psychiatrists—both Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General—to explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a “fellow scientist,” they’d talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They’d listed, but hadn’t elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn’t thought much about what the lithium was doing to him. He’d just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing—like lack of money, and his messed-up family—that had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard’s student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn’t much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. “The Marriage Plot.” Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Nurul_Darmadjaja_1

Nurul_Darmadjaja_2

Nurul_Darmadjaja_3

Catatan penyuntingan:

  1. Mengenai penerjemahan judul, Aksi Brilian benar, namun secara rasa saya lebih menyukai Langkah Brilian.
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan “Bukan … melainkan” dan “Tidak … tetapi.”
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah “take his destiny … into his own hands.”
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] City of Stars – Christy Muliana

Teks asli

The brother that Falco loved best was Gaetano, the closest to him in age, and he wasn’t handsome at all. In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide crooked mouth. He was supposed to look like their grandfather Alfonso, who had built the great palace at Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the brothers, and the most interested in the libraries at Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could ride and fence and make up the most wonderful games. The happiest hours of Falco’s childhood had been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his invented romances of knights and ghosts and hidden treasure and family secrets of madmen and concealed wills and maps. Their older sister Beatrice could sometimes be persuaded to play the forlorn maidens or warrior queens which Gaetano’s invention required, but often Falco himself, with his delicate features and huge dark eyes, had to submit to being wrapped in scraps of muslin or brocade to take the female roles.

His favourite romances, though, had been the ones involving swordfights. He and his brother had started with toy wooden weapons but graduated to bated foils when Falco was ten. They had fought their way up and down all the staircases of the palace from the grand sweep of the main marble one to the mysterious branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Suntingan

Christy Muliana

Ulasan

Menurut saya, kualitas terjemahan dilihat dari dua hal, ketepatan makna dan keterbacaan. Dari segi keterbacaan, terjemahan ini sudah cukup baik, tidak ada kalimat yang terasa kaku. Dari segi ketepatan makna, secara keseluruhan sudah cukup baik, tetapi ada dua catatan dari saya.

Pertama, sebisa mungkin terjemahkan semua informasi yang terkandung dalam teks asli, misalnya “acting out his invented romances of knights” atau “the grand sweep of the main marble one” atau “bated foil”.

Kedua, untuk kata-kata yang umum sekalipun, seperti “features”, ada baiknya kita mengonfirmasi makna tepatnya dengan melihat kamus, agar terjemahan kita tidak meleset.

suppose: to believe, especially on uncertain or tentative grounds

Rupanya banyak orang menganggap Gaetano ini mirip dengan kakeknya, tetapi tampaknya Falco sendiri tidak tahu pasti. Ketika saya coba mencari cerita ini di internet, ternyata si kakek ini memang meninggal dua puluh tahun sebelum Falco lahir. Jadi, Falco hanya tahu soal kemiripan ini dari perkataan orang lain, bukan menilai sendiri.

Papal: Of, relating to, or issued by a pope

Sebaiknya gunakan istilah yang lebih umum digunakan dan lebih mudah dipahami oleh orang non-Katolik.

Act out: To perform in or as if in a play; represent dramatically

Mereka memang berpura-pura menjadi tokoh dalam cerita, tetapi ada kata yang lebih tepat untuk kegiatan seperti ini, yaitu “memerankan”.

madman: a man who is insane, esp one who behaves violently; lunatic

Dalam dongeng, biasanya orang gila disembunyikan oleh keluarganya, menjadi rahasia keluarga. Jadi, bukan keluarganya atau rahasianya yang tidak waras.

features: the overall appearance of the face or its parts.

Rupanya wajah Falco ini lembut, sehingga mirip perempuan dan cocok memerankan tokoh perempuan dalam cerita.

[Klinik Terjemahan 2015] City of Stars – Ita Darwis

Teks asli

The brother that Falco loved best was Gaetano, the closest to him in age, and he wasn’t handsome at all. In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide crooked mouth. He was supposed to look like their grandfather Alfonso, who had built the great palace at Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the brothers, and the most interested in the libraries at Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could ride and fence and make up the most wonderful games. The happiest hours of Falco’s childhood had been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his invented romances of knights and ghosts and hidden treasure and family secrets of madmen and concealed wills and maps. Their older sister Beatrice could sometimes be persuaded to play the forlorn maidens or warrior queens which Gaetano’s invention required, but often Falco himself, with his delicate features and huge dark eyes, had to submit to being wrapped in scraps of muslin or brocade to take the female roles.

His favourite romances, though, had been the ones involving swordfights. He and his brother had started with toy wooden weapons but graduated to bated foils when Falco was ten. They had fought their way up and down all the staircases of the palace from the grand sweep of the main marble one to the mysterious branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Suntingan

Ita Darwis

Ulasan

Menurut saya, kualitas terjemahan dilihat dari dua hal, ketepatan makna dan keterbacaan. Dari segi keterbacaan, terjemahan ini sudah lumayan, tidak ada kalimat yang terasa kaku. Namun, dari segi ketepatan makna, mutunya masih bisa ditingkatkan lagi karena masih terdapat beberapa makna yang kurang tepat.

suppose: to believe, especially on uncertain or tentative grounds

Rupanya banyak orang menganggap Gaetano ini mirip dengan kakeknya, tetapi tampaknya Falco sendiri tidak tahu pasti. Ketika saya coba mencari cerita ini di internet, ternyata si kakek ini memang meninggal dua puluh tahun sebelum Falco lahir. Jadi, Falco hanya tahu soal kemiripan ini dari perkataan orang lain, bukan menilai sendiri.

ride: to be carried or conveyed, as in a vehicle or on horseback

fence: to practice the art or sport of fencing

Sebaiknya kedua kata ini diterjemahkan secara spesifik, tidak digabungkan menjadi “menghibur orang lain”.

madman: a man who is insane, esp one who behaves violently; lunatic

Dalam dongeng, biasanya orang gila disembunyikan oleh keluarganya, menjadi rahasia keluarga. Jadi, bukan keluarganya atau rahasianya yang gila.

maiden: an unmarried girl or woman

“Maiden” berbeda maknanya dengan “maid”, jadi tidak bisa diterjemahkan menjadi “gadis pelayan”.

features: the overall appearance of the face or its parts.

Rupanya wajah Falco ini lembut, sehingga mirip perempuan dan cocok memerankan tokoh perempuan dalam cerita.

graduate: to advance to a new level of skill, achievement, or activity

Penulis sengaja memilih kata ini untuk menggambarkan bahwa Falco dan Gaetano semakin mahir berpedang, yang tadinya hanya menggunakan pedang mainan, kemudian memakai pedang anggar. Sebagai penerjemah, ada baiknya kita mencari cara untuk mencerminkan pilihan kata si penulis.

foil: a fencing sword having a usually circular guard and a thin, flexible four-sided blade with a button on the tip to prevent injury.

Paragraf ini bercerita tentang adu pedang, jadi tentunya “foil” ini kata yang berkaitan dengan itu, bukan “kertas timah”.

Selain itu, perlu juga diperhatikan penerjemahan kata “most” dan yang setara. Dalam terjemahan di atas dipadankan dengan “sangat”, padahal lebih tepat dipadankan dengan “paling”. Gaetano umurnya paling dekat, Falco paling bahagia bermain bersama kakaknya itu, dan Falco paling menyukai cerita yang mengandung adu pedang, bukan hanya sangat.

[Klinik Terjemahan 2015] City of Stars – Dian Kristiani

Teks asli

The brother that Falco loved best was Gaetano, the closest to him in age, and he wasn’t handsome at all. In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide crooked mouth. He was supposed to look like their grandfather Alfonso, who had built the great palace at Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the brothers, and the most interested in the libraries at Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could ride and fence and make up the most wonderful games. The happiest hours of Falco’s childhood had been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his invented romances of knights and ghosts and hidden treasure and family secrets of madmen and concealed wills and maps. Their older sister Beatrice could sometimes be persuaded to play the forlorn maidens or warrior queens which Gaetano’s invention required, but often Falco himself, with his delicate features and huge dark eyes, had to submit to being wrapped in scraps of muslin or brocade to take the female roles.

His favourite romances, though, had been the ones involving swordfights. He and his brother had started with toy wooden weapons but graduated to bated foils when Falco was ten. They had fought their way up and down all the staircases of the palace from the grand sweep of the main marble one to the mysterious branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Suntingan

Dian Kristiani

Ulasan

Menurut saya, kualitas terjemahan dilihat dari dua hal, ketepatan makna dan keterbacaan. Dari segi keterbacaan, terjemahan ini sudah cukup baik, tetapi ada beberapa catatan dari saya.

  • Keberanian memotong-motong kalimat akan bermanfaat untuk menerjemahkan kalimat panjang. Namun, tidak semua kalimat panjang harus dipotong. Kalau kalimat terjemahan yang dihasilkan masih mudah dipahami dan enak dibaca, tak ada salahnya dibiarkan panjang, agar lebih mendekati gaya bahasa penulisnya. Pemotongan kalimat dilakukan hanya jika ada potensi kalimat itu membingungkan pembaca. Pemotongan paragraf juga sebaiknya mengikuti aslinya.
  • Sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih kata dalam terjemahan. Misalnya, kata “sebaya” biasanya digunakan untuk saudara sepupu atau teman bermain yang berusia sepantar, jarang untuk kakak-beradik yang karena sudah jelas ada perbedaan usia. Permainan biasanya “dibuat”, “diciptakan”, atau “dikarang”, tidak “disusun. Kata “memeragakan kisah” mengesankan bahwa anak-anak ini memerankan kisah di depan orang lain, padahal mereka hanya bermain berdua, berpura-pura menjadi tokoh dalam kisah itu.
  • Kalau tidak benar-benar perlu, sebaiknya hindari penambahan kata-kata yang tidak ada dalam teks aslinya, seperti “meski jelek”, “buku-buku”, “selain itu”, “untuk mendukung perannya”.

Dari segi ketepatan makna, secara keseluruhan sudah cukup baik. Saran saya, untuk kata-kata yang umum sekalipun, seperti “madman” atau “features”, ada baiknya kita mengonfirmasi makna tepatnya dengan melihat kamus, agar terjemahan kita tidak meleset.

suppose: to believe, especially on uncertain or tentative grounds

Rupanya banyak orang menganggap Gaetano ini mirip dengan kakeknya, tetapi tampaknya Falco sendiri tidak tahu pasti. Ketika saya coba mencari cerita ini di internet, ternyata si kakek ini memang meninggal dua puluh tahun sebelum Falco lahir. Jadi, Falco hanya tahu soal kemiripan ini dari perkataan orang lain, bukan menilai sendiri.

Papal: Of, relating to, or issued by a pope

Sebaiknya gunakan istilah yang lebih umum digunakan dan lebih mudah dipahami oleh orang non-Katolik.

madman: a man who is insane, esp one who behaves violently; lunatic

Kata “mad” memang bisa berarti “marah”, tetapi biasanya “madman” merujuk pada orang gila. Lagi pula, orang pemarah tidak perlu dirahasiakan oleh keluarga, bukan? Biasanya orang malu memiliki kerabat orang gila dan itulah yang menjadi rahasia keluarga.

features: the overall appearance of the face or its parts.

Rupanya wajah Falco ini lembut, sehingga mirip perempuan dan cocok memerankan tokoh perempuan dalam cerita.

graduate: to advance to a new level of skill, achievement, or activity

Penulis sengaja memilih kata ini untuk menggambarkan bahwa Falco dan Gaetano semakin mahir berpedang, yang tadinya hanya menggunakan pedang mainan, kemudian memakai pedang anggar. Sebagai penerjemah, ada baiknya kita mencari cara untuk mencerminkan pilihan kata si penulis.