[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 04 – The Horse Dancer

Teks asli diambil dari halaman pertama The Horse Dancer, Jojo Moyes.

***

He saw her yellow dress before he saw her, glowing in the fading light; a beacon at the far end of the stables. He stopped for a moment, unsure that he could trust his eyes. Then her pale arm reached up, Gerontius’s elegant head dipping over the door to take whatever treat she offered, and he was walking briskly, half running, the metal tips of his boots clicking on the wet cobbles.

“You are here!”

“Henri!”

His arms were around her as she turned; he kissed he, dipped his head to inhale the glorious scent of her hair. The breath that escaped him seemed to come from somewhere in his boots.

“We got here this afternoon,” she said, into his shoulder. “I’ve barely had time to change. I must look awful… but I was in audience and glimpsed you through the curtain. I had to come to wish you luck.”

Her words had become jumbled, but he could barely hear her anyway. He was shocked by the girl’s sheer presence; the feel of her in his arms after so many months absence. “And juts look at you!” She took a step back, allowing her gaze to travel from his black peaked cap all the way down his immaculate uniform, then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes. He noted, with gratitude, the reluctance with which she withdrew her fingers. There was no awkwardness, he marveled, even after so many months. No coquettishness. She was utterly guileless; the girl of his imagination made flesh again.

“You look wonderful,” she said.

“I… can not stay,” he said. “We ride in ten minutes.”

“I know… Le Carousel is so exciting. We’ve been watching the motorcyclists, and the parade of tanks,” she said. “But  you, Henri, you and the horses are definitely the big draw.” She glanced behind her towards the arena. “I think the whole of France is here to see you.”

Penerjemah #01

Sang Penari Kuda – Jojo Moyes

Gerontius melihat sang gadis setelah melihat gaun kuningnya terlebih dahulu, berkilauan di bawah cahaya lampu yang redup; Sebuah pelita di ujung kandang. Sesaat dia berhenti, memastikan bahwa matanya tidak menipunya. Lalu lengan pucat sang gadis terangkat, kepala Gerontius yang elegan menerobos pintu untuk menyambut apapun yang ditawarkan si gadis, dan dia ber jalan dengan cepat, setengah berlari, ujung sepatunya yang terbuat dari logam beradu dengan lantai batu yang basah.

“Kau di sini!”

”Henri!”

Lengannya memeluk sang gadis saat dia berbalik; dia menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup wangi rambutnya yang menyenangkan. Angin yg meloloskannya seperti berasal dari suatu tempat di sepatunya.

“Kami sampai disini siang tadi”, ujarnya pada bahu Gerontius. “Aku hanya punya waktu sedikit untuk berganti baju… tapi aku tadi sedang menonton dan sekilasmelihatmu melalui tirai. Aku harus kemari untuk mendoakanmu.”

Kalimatnya bercampur aduk, namun Gerontius hampir tidak bisa mendengarnya juga. Dia terkejut dengan kehadiran sang gadis; rasa rambutnya di lengan Gerontius setelah berbulan-bulan tak  bejumpa. “Dan lihatlah dirimu!” sang gadis mundur selangkah, pandangannya menelusuri dari ujung topinya yang hitam turun ke seragamnya yang sangat rapi, lalu mencapai sikat dan bintik imajiner terdapat di salah satu tanda pangkatnya yang terbuat dari emas. Dia memperhatikan dengan penuh rasa syukur, rasa segan saat dimana sang gadis menarik jarinya. Tidak ada lagi kecanggungan, dia terkagum, bahkan setelah berbulan-bulan lamanya. Tidak ada kegenitan. Dia benar-benar apa adanya; gadis dalam imajinasinya membuatnya sempurna lagi.

“Kau terlihat keren,” ujar sang gadis

“Aku… Tidak bisa menetap,” ujar Gerontius. “Sepuluh menit lagi kami berangkat.”

“Aku tahu… Le Carousel sangat menarik. Kami telah menyaksikan para pengendara sepeda motornya, juga parade teng,” ujar sang gadis. “Tapi kau, Henri, kau dan para kuda sudah pasti yang paling menarik perhatian.” dia melirik arena di belakangnya. “Kurasa seluruh Prancisdatang kesini untuk melihatmu”.

Catatan

Secara keseluruhan, masih banyak yang perlu dipelajari oleh penerjemah #01. Kosakata yang dikuasai belum terlalu banyak variasinya sehingga sering-sering mengecek KBBI bisa membantu agar terjemahan bisa lebih ringkas dan tepat makna. Untuk beberapa kalimat yang bersifat kiasan juga masih diterjemahkan mentah sehingga bacaan kurang mengalir. Mudah-mudahan masih bersemangat untuk terus membaca dan belajar agar hasil terjemahan bisa lebih apik.

Berikut catatan-catatan kecil yang saya temukan dalam terjemahan #01.

1. Ada dua kata “melihat” di kalimat pertama.

2. stables => kandang kuda => istal

3. Hindari penggunaan kata “yang” jika tidak diperlukan. Seperti “kepala Gerontius yang elegan” bisa diganti dengan “kepala elegan Gerontius”

elegant” di sini juga jangan diterjemahkan mentah-mentah.

4. Penulisan “pun” yang artinya “juga” selalu dipisah (siapa pun, apa pun, kau pun, dst),

kecuali dalam kata sambung: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, betapapun, biarpun, dll

5. Dalam satu paragraf, kata ganti tidak boleh merujuk ke orang/benda yang berbeda.

Contoh dalam paragraf pertama: “gaun kuningnya” => nya merujuk pada si gadis, sedangkan “matanya tidak menipunya” => nya merujuk pada Gerontius.

6. Inkonsistensi dalam menggunakan kata sandang => dalam paragraf pertama terkadang menggunakan sang gadis, terkadang si gadis.

7. Lengannya memeluk sang gadis saat dia berbalik; dia menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup wangi rambutnya yang menyenangkan.

  • Terdapat redundan, pengulangan yang tidak perlu, boros. “memeluk” sudah pasti menggunakan “lengan”. Sehingga “lengan” tidak perlu disebut lagi.
  • Dalam satu kalimat, terdapat ada 4 “nya” yang merujuk ke dua orang yang berbeda.

8. The breath that escaped him seemed to come from somewhere in his boots. => ini kiasan, jangan diterjemahkan mentah.

9. but he could barely hear her anyway => “hear” di sini bermakna bukan sekadar mendengar, tapi juga memperhatikan. Karena Gerontius sudah terkejut lebih dulu akan kedatangan gadis itu.

10. then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes.

– Reached up to brush => mencapai sikat => mencoba menggosok

imaginary fleck => bintik imajiner => noda khayalan => noda yang sebenarnya tidak ada

gold epaulettes => tanda pangkatnya yang terbuat dari emas => epolet emas. (rajin-rajin lihat KBBI untuk mencari istilah yang tepat dan ringkas)

then reached up to brush and imaginary fleck from one of his gold epaulettes =>lalu mencapai sikat dan bintik imajiner terdapat di salah satu tanda pangkatnya yang terbuat dari emas => lalu mencoba menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya.

11. hindari penggunaan “di mana” (penulisan “di” dipisah ya, karena merupakan preposisi atau kata depan)

12. No coquettishness. She was utterly guileless => Selain kegenitan/keganjenan, coquettishness juga bisa berarti “sesuatu yang dilebih-lebihkan, dibuat-buat”. Jadi terjemahannya bisa menjadi => Tidak ada yang dibuat-buat. Dia benar-benar apa adanya.

13. stay => menetap => berlama-lama

14. tank => lebih baik tetap memakan tank dibandingkan teng

15. We ride in ten minutes => ride di sini dimaksudkan dengan “berkuda” bukan “pergi menggunakan kendaraan”, dan karena sedang membicarakan parade, apalagi melihat kalimat si gadis yang membandingkan Henri dan kuda-kudanya dengan parade motor dan tank, maka bisa dikatakan “berkuda” dengan “tampil” => Sepuluh menit lagi kami tampil

16. “Kami sampai disini siang tadi.” Penulisan “disini” seharusnya dipisah menjadi “di sini”. Pelajari lagi perbedaan “di” sebagai kata depan dan imbuhan.

Penerjemah #02

Sang Penari Kuda – Jojo Moyes

Baju kuning gadis itu lebih dulu terlihat oleh si laki-laki daripada sosoknya, yang bercahaya dalam remang-remang; lentera di sisi ujung kandang kuda. Dia berhenti sejenak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat lengan pucat si gadis menjulur, kepala elegan Gerontius merunduk melewati pintu untuk mendapatkan kejutan apa pun yang dia tawarkan, dengan berjalan cepat, setengah berlari, terdengar ujung logam sepatu botnya berbunyi ceklik-ceklik saat melangkah di atas batu-batu bulat.

“Kau di sini!”

“Henri!”

Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik, Henri menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup aroma mewah rambut miliknya. Napas yang Henri hembuskan tampak berasal dari suatu tempat di sepatu botnya.

“Kami tiba di sini tadi siang,” ucapnya, melalui bahu Henri. “Aku hampir tidak ada waktu untuk ganti baju. Pasti tampak mengerikan… tapi, saat duduk di kursi penonton, sekilas kulihat dirimu ada di balik tirai. Aku harus ke sini untuk mengatakan semoga berhasil.”

Kata-katanya bercampur aduk, tapi Henri masih dapat mendengarnya meski sedikit. Henri terperanjat oleh kehadirannya yang begitu tak terduga; tubuh yang dipeluknya setelah berbulan-bulan tak bersamanya. “Lihat dirimu!” (si gadis) mundur selangkah, agar dia dapat memandang menyusuri mulai dari topi hitam di kepalanya hingga seragam Henri yang rapi sekali, kemudian ke atas lagi untuk menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya. Henri memperhatikan dan mengucap terima kasih, sehingga dengan enggan si gadis menarik tangannya. Henri merasa heran, tidak ada rasa kikuk meski berbulan-bulan telah berlalu. Juga tak ada keganjenan. Dia sepenuhnya terus-terang; gadis dalam imajinasinya kini menjadi nyata.

“Kau tampak luar biasa,” katanya.

“Aku… tidak bisa terus di sini,” jawab Henri. “Kami akan berkuda dalam 10 menit.”

“Aku tahu… Le Carousel sangat menarik. Kami sudah menonton pengendara motor, dan pawai tank,” ujarnya. “Tapi  kau, Henri, pastilah kau dan kuda-kuda itu yang jadi pusat perhatian.” Si gadis melihat sekilas arena di belakangnya. “Aku rasa seluruh Prancis ada di sini untuk melihatmu.”

Catatan

Secara keseluruhan, terjemahan #02 ini sudah lumayan apik. Hanya perlu dibuat lebih mengalir dan sering dicek ulang agar makna teks asli tersampaikan dengan baik.

1. He saw her yellow dress before he saw her, glowing in the fading light; a beacon at the far end of the stables => Baju kuning gadis itu lebih dulu terlihat oleh si laki-laki daripada sosoknya, yang bercahaya dalam remang-remang; lentera di sisi ujung kandang kuda.

Fokus atau yang dibicarakan dalam teks asli ini adalah gaun kuning. Jadi yang berkilauan dan tampak bagai lentera adalah gaun kuningnya, bukan si gadisnya.

Sedangkan dalam kalimat terjemahan, pembaca digiring pada makna bahwa yang berkilauan dan tampak bagai lentera adalah sosok si gadis

2. stables => kandang kuda => istal

3. Gerontius’s elegant head dipping over the door => kepala elegan Gerontius merunduk melewati pintu

elegant head” jangan diterjemahkan mentah-mentah.

=> Gerontius dengan berwibawa merunduk melewati pintu.

head” nya ke mana? merunduk sudah bermakna menggunakan kepala (untuk manusia), jadi tidak perlu menuliskan kata “kepala” lagi.

4. Dalam satu paragraf, kata ganti tidak boleh merujuk ke orang/benda yang berbeda.

– Contoh dalam paragraf pertama: “sosoknya” => nya merujuk pada si gadis, sedangkan “dilihatnya“, “sepatu botnya” => nya merujuk pada Gerontius.

– Contoh dalam paragraf keempat: Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik, Henri menciumnya, menenggelamkan kepalanya untuk menghirup aroma mewah rambut miliknya.

5. Lengan Henri merangkul saat si gadis berbalik =>redundan, pengulangan yang tidak perlu, boros. “memeluk” sudah pasti menggunakan “lengan”.

Bisa disunting menjadi  => Gerontius memeluknya saat gadis itu berbalik.

6. He noted, with gratitude, the reluctance with which she withdrew her fingers.

Kalimat ini bisa juga diartikan menjadi:

Henri noted the reluctance with which she withdrew her fingers, and he is thankful for that.

Jadi, terjemahannya bisa menjadi => Gerantius menyadari, dan mensyukuri, keengganan saat gadis itu menarik tangannya.

7. No coquettishness. She was utterly guileless => Selain kegenitan/keganjenan, “coquettishness” juga bisa berarti “sesuatu yang dilebih-lebihkan, dibuat-buat”.

Jadi terjemahannya bisa menjadi => Tidak ada yang dibuat-buat. Dia benar-benar apa adanya.

8. hembus => embus

9. “Kami tiba di sini tadi siang,” ucapnya.

Di awal paragraf, jangan langsung menggunakan kata pengganti agar pembaca tidak bingung dan menebak-nebak, “nya” ini maksudnya siapa ya.

10. glorious scent => aroma mewah => wangi mewah.

Lihat lagi di KBBI untuk definisa aroma

Suntingan

Saya mencoba menggabungkan dua terjemahan di atas dan sedikit mengoreksinya. Tapi terjemahan itu sendiri bersifat subjektif dan tidak mutlak. Semua kembali pada kenyamanan pembaca (dan editor in-house yang mengurus novel tersebut, hehehe). Bisa jadi ada versi yang lebih baik dari suntingan ini. Tapi bagaimanapun, saya tetap berharap masih ada yang bisa dipelajari dari suntingan berikut.

Salam!

Selamat Hari Penerjemah Internasional!

***

Daripada sosoknya, Gerontius lebih memperhatikan gaun kuning gadis itu, yang berpendar dalam cahaya remang; bagai lentera di penghujung istal. Ia berhenti sejenak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Saat lengan pucat gadis itu terulur, Gerontius dengan elegan merunduk melewati pintu untuk menyambut kejutan apa pun yang gadis itu tawarkan, sambil berjalan cepat, setengah berlari, sampai ujung logam sepatu bot Gerontius beradu dengan jalan bebatuan yang basah.

“Kau di sini!”

“Henri!”

Gerontius merangkulnya saat gadis itu berbalik. Ia menciumnya, menenggelamkan kepala untuk menghirup wangi mewah rambutnya. Membuat Gerontius merasa napas yang ia embuskan bagai berasal dari suatu tempat di sepatu yang ia pakai.

“Kami tiba di sini tadi siang,” ucap gadis itu, melalui bahu Henri. “Aku hampir tidak sempat berganti pakaian. Aku pasti tampak mengerikan… tapi, saat duduk di kursi penonton, sekilas kulihat dirimu ada di balik tirai. Aku harus ke sini untuk menyemangatimu.”

Kata-kata gadis itu tidak beraturan, tapi Gerontius nyaris tidak menghiraukan hal tersebut. Ia terperanjat oleh kehadiran gadis itu yang begitu tak terduga; merasakan tubuh yang berbulan-bulan tidak dipeluknya. “Lihat dirimu!” Gadis itu mundur selangkah, agar dapat memandang menyusuri mulai dari ujung topi hitam hingga seragamnya yang begitu rapi, kemudian tangan gadis itu ke atas untuk menggosok noda yang sebenarnya tidak ada di salah satu epolet emasnya. Gerontius menyadari, sambil bersyukur, keengganannya ketika gadis itu menarik tangan. Ia merasa heran, tidak ada rasa kikuk meski berbulan-bulan telah berlalu. Juga tak ada yang dibuat-buat. Gadis itu benar-benar apa adanya; gadis dalam imajinasinya kini menjadi nyata.

“Kau tampak luar biasa,” kata gadis itu lagi.

“Aku… tidak bisa terus di sini,” jawab Henri. “Sepuluh menit lagi kami tampil.”

“Aku tahu… Festival Le Carousel sangat menarik. Kami sudah menonton para pengendara motor, dan pawai tank,” ujar gadis itu. “Tapi  kau, Henri, pastilah kau dan kuda-kuda tersebut pasti jadi pusat perhatian.” Dia melihat sekilas arena di belakangnya. “Kurasa seluruh Prancis datang ke sini untuk melihatmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s