Anton Kurnia: Penerjemahan Sastra Penting Untuk Memperkenalkan Karya Kita Kepada Dunia

“Marquez pernah bilang, meskipun sudah menang Nobel, begitu menghadapi halaman kosong rasanya seperti mulai dari awal lagi. Seperti itu mungkin. Saya tidak merasa ahli, tapi karena pernah mengalami beberapa problem mungkin bisa lebih cepat saja. Untuk satu halaman, kurang-lebih saya perlu waktu setengah jam. Membaca dulu karya tersebut bisa sangat membantu. Kadang-kadang skimming, tapi sedapat-dapatnya harus selesai dan mengumpulkan referensi tentang karya itu.”

Lebih lengkap di jakartabeat

Advertisements

47. Interworld

I enjoyed translating this book. I didn’t find any annoying characters, the story is easy to chew – Tanti Lesmana

Tanti Lesmana's Weblog

*InterWorldby Neil Gaiman and Michael Reaves


I’m going to finish the last ten pages tomorrow. Meanwhile, here’s a brief summary about this book. Basically it’s a battle of power between worlds. HEX and Binary are two powerful forces in the Multiverse, and both are determined to be the one and only ruler of all. While HEX relies on magic, Binary depends on science. Interworld is some sort of guerilla forces, an unwanted mediator who tries, in vain, to enlighten both warring parties that peace and harmony can only be achieved when there is balance between science and magic. The protagonist, Joey Harker, is an ordinary kid who turns out to be not so ordinary after all, because he posseses the ability to Walk between worlds, a talent that he finds out quite unexpectedly one day, when he Walks into the In-Between unknowingly and meets Jay, a field officer…

View original post 87 more words

46. Recipes for…

Cerita Mbak Tanti Lesmana ketika menerjemahkan salah satu novel favorit saya

Tanti Lesmana's Weblog

* Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

Four more chapters and I’m done. Pheww. I like this book a lot, really. If there is anything or anyone I don’t like here it’s Tressa Nolan, one of the main voices in this book. She is too insecure, too fussy and superficial for my taste. I gritted my teeth when translating those chapters about her. She stalled me, unlike her grandmother, Bernadine. My fingers practically “flew” on the keyboards when translating her stories. Good old Bernadine, she’s one woman I could relate to. A lovable social butterfly in her time, strong, not without faults, of course, but a lot more admirable than her granddaughter. And many of her remarks made me laugh.
Well, these last four are about Tressa, clearly. Maybe I can finish them in…umm… say, two weeks? (Grimace)

And oh, by the way, here is one of my…

View original post 39 more words

Riset Penerjemah

“Dalam hal ini aku ingin menambahkan, curiga jugalah pada gelar, julukan, nama tempat, nama tumbuhan, juga nama hewan.” – Nur Aini

Zona Aini

Dalam naskah The Vampire karya Jan Neruda yang aku jadikan bahan untuk Klinik Terjemahan 2015, ada nama bergelar serta nama tempat yang perlu diselidiki kalau-kalau ada padanan Indonesianya.

The Vampire

Charles the Great itu gelar, sebaiknya dicari padanan Indonesianya atau diterjemahkan. Seperti Alexander the Great yang adalah Alexander Agung.

Cari Charles the Great di wikipedia berbahasa Inggris:

Charlemagne

Oke, jadi Charles the Great adalah Charlemagnedan nama latinnya Carolusatau Karolus Magnus. Bagaimana dengan padanan Indonesianya?

Cari “Charles the Great” di wikipedia berbahasa Indonesia atau bisa pakai Google dengan cara menambahkan ‘wiki id’ di belakangnya, seperti ini:google charlesHasilnya:
Karel yang AgungKarel yang agung wiki

Charles the Great = Charlemagne = Karolus Magnus = Karel yang Agung

Sudah? Belum. Coba kita cari di buku lewat Google Books, siapa tahu menemukan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan bahan terjemahan.
Karel yang agung buku

Eh, ternyata di buku Istanbul halaman 135 ada “… Prinkip,  pulau terbesar di Kepulauan …” itu seperti yang ada di bahan terjemahan, ya? Coba kita buka:
Eirene Prinkip, Istanbul 135 a

Wah, dapat…

View original post 149 more words

(Klinik Terjemahan 2015) City of Stars – Pengampu: Rini Nurul

 

Komentar umum:

Materi soal klinik ini saya ambil dari terjemahan buku fantasi remaja yang saya kerjakan enam tahun lalu dan batal terbit. Sengaja saya ambil dari salah satu bab di tengah untuk menyoroti permasalahan kata ganti yang kerap “menjebak”, terutama jika tokoh berjenis kelamin sama. Berikut ini materinya:

The brother that Falco loved best was Gaetano, the

closest to him in age, and he wasn’t handsome at all.

In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide

crooked mouth. He was supposed to look like their

grandfather Alfonso, who had built the great palace at

Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the

brothers, and the most interested in the libraries at

Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could

ride and fence and make up the most wonderful

games. The happiest hours of Falco’s childhood had

been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his

invented romances of knights and ghosts and hidden

treasure and family secrets of madmen and concealed

wills and maps. Their older sister Beatrice could

sometimes be persuaded to play the forlorn maidens

or warrior queens which Gaetano’s invention

required, but often Falco himself, with his delicate

features and huge dark eyes, had to submit to being

wrapped in scraps of muslin or brocade to take the

female roles.

His favourite romances, though, had been the ones

involving swordfights. He and his brother had started

with toy wooden weapons but graduated to bated

foils when Falco was ten. They had fought their way

up and down all the staircases of the palace from the

grand sweep of the main marble one to the mysterious

branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Mengamati hasil terjemahan tiga peserta buat saya mengandung daya tarik tersendiri untuk melihat variasi kosakata, menilik kekuatan masing-masing, ketepatan, rasa bahasa, suasana, dan konteks yang dihadirkan. Tentu saja sempat saya bandingkan dengan hasil sendiri yang sangat mungkin perlu diperbaiki mengingat dulu saya belum mengetahui beberapa hal dan ada kemungkinan ketidaktelitian pula.

Berhubung terjemahan adalah aktivitas yang cukup subjektif, saya tidak menerapkan aturan “terlalu ketat” pada ketiga peserta. Misalnya masalah padanan “pedang lentur” dan “anggar”. Keduanya masuk akal, sependek pengetahuan saya sewaktu berkomunikasi dengan pengarang. Maka saya hormati kedua padanan tersebut.

Jujur, saya bukan “penggemar” deskripsi yang terlalu cermat pula sehingga untuk penggambaran tempat, detail bangunan, dan sejenisnya cenderung leluasa selama hal itu tidak berperan dalam cerita secara keseluruhan. Namun ini bukan sikap yang layak diteladani tentu, sekadar mengutip seorang senior, “Mungkin saja kita berpikir pembaca tak memperhatikannya, tapi apeslah kalau sampai “tepergok” editor.” Saya menganut prinsip penyederhanaan, yang bisa jadi tidak disukai sebagian pembaca fantasi yang fanatik, terkait beberapa kata dan istilah yang hanya muncul satu kali serta lagi-lagi… tidak berpengaruh pada cerita secara keseluruhan. Yang penting logis dan tidak “mengarang” dari teks aslinya.

Ketiga peserta ini sudah mengerjakan sebaik mungkin, dan alangkah gembiranya saya karena rata-rata menguasai ejaan dan tatabahasa. Maka marilah kita tinjau satu demi satu. Oh ya, sengaja nama penerjemah tidak saya cantumkan supaya pengunjung blog ini tidak “salah fokus” dan tetap berkonsentrasi pada upaya belajar dari satu sama lain. Khususnya hasil terjemahannya.

Penerjemah 1

P1-I

P1-2

Catatan: mohon lebih berhati-hati, diusahakan membaca ulang dan membandingkan dengan teks asli supaya tidak terlewat.

Definisi romance dalam konteks di atas menurut TFD:

A long fictitious tale of heroes and extraordinary or mysterious events, usually set in a distant time or place.

Kalau tidak salah, Beatrice memang anak tertua. Karena itu saya biarkan terjemahan “kakak tertua”.

“Bagian masa kecil Falco” perlu ditekankan secara setia karena Falco tidak selalu bahagia.

Penerjemah 2

P2-1

P2-2Catatan:

Mohon perhatikan pemakaian “di”

Demi keterbacaan, hindari terlalu sering memakai kata penghubung “yang”, “adalah”, dll.

“Istana Papal” tidak dikoreksi karena alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Penerjemah 3

P3

Catatan:

Mohon berhati-hati dengan “perangkap” kalimat panjang. Dipenggal saja untuk mempermudah pembaca.

Makna suppose dalam konteks di atas menurut TFD:

To consider to be probable or likely

Koreksi atas koreksi saya sendiri: kain muslin, bukan muslim

Karena Falco dan Gaetano sama-sama pria, juga sering diceritakan dalam satu kalimat atau kalimat yang berdekatan, sebaiknya gunakan nama untuk memperjelas.

Demikian masukan-masukan saya, semoga bermanfaat. Perlu saya sampaikan, ada beberapa hal yang bisa jadi tidak seprinsip dengan editor lain (dan penerbit) karena selingkung berbeda-beda. Selain itu, pengampu pun tidak luput dari khilaf:)

Why good translators ask questions

Yestrans

Question markCuriosity has always been a virtue when it comes to translation. After all, it’s a profession that attracts many a talented linguist with an inquisitive mind motivated by the daily challenge of finding le mot juste. To find the right words for each translation, translators work with a range of terminology resources, such as dictionaries, glossaries and text corpora. They also research the subject matter of the texts they translate through various channels such as the Internet, books and journals. Yet, despite these resources, there are times when a translator might need to ask you questions about the text that he or she is translating for you – and that’s usually a good sign. Here are a few reasons why.

It could be that the text you are having translated contains terminology unique to your organisation. Acronyms are a case in point. Common acronyms, such as GDP, FIFO and…

View original post 348 more words

Translator: Mui Poopoksakul | Author: Prabda Yoon | Work: Kwam Na Ja Pen | Original Language: Thai | Genre: Short story

… ฉันนั่งเฉยๆอยู่ได้ไม่กี่เดือน ดั้งจมูกของฉันก็ต้องทำหน้าที่รองรับแว่นกรอบดำ เพิ่มความมั่นใจให้ฉันเป็นกอง ใครถาม ฉันก็บอกว่าจู่ๆสายตาของฉันมันก็เล่นตลก เกิดผิดปกติขึ้นมาเองโดยไม่คาดฝัน ไม่รู้เหมือนกันว่ามันสั้น หรือยาว หรือเอียง แต่ที่แน่ๆคือมันมองอะไรไม่ค่อยชัด ยิ่งเวลาต้องมองผลิตภัณฑ์สินค้าที่ฉันมีหน้าที่ต้องขาย สภาพสายตายิ่งขุ่นมัวอย่างไรชอบกล ไม่ได้ไปถามความเห็นจากจักษุแพทย์ที่ไหนหรอก ตัดสินใจซื้อแว่นใส่เองเลย ถือเป็นเรื่องของจิตวิทยามากกว่า ใส่แล้วโลกทัศน์ชัดเจนขึ้น ทำงานสะดวก ขายของเก่ง เจอใครๆก็เรียกพี่ ฉันเพิ่งรู้สึกถึงรสชาติของการได้เป็นพี่ของคนที่ไม่ได้เกี่ยวดองปรองญาติ ช่างเป็นความรู้สึกที่สร้างพลังลึกลับมหาศาลระหว่างทรวงอก ช่วยเพิ่มเติมความฮึกเหิมให้กับชีวิตประจำวัน แต่บางทีฉันก็ต้องระงับความรู้สึกนั้นเอาไว้ ไม่ให้ประเจิดประเจ้อจนออกนอกหน้า ฉันต้องแกล้งบอกไปว่า ไม่ต้องมาเรียกพี่หรอก อายุก็ไล่เลี่ยกัน แต่ในใจของฉันบอกว่า ถ้าเจอกันคราวหน้าแล้วมึงไม่เรียกกูว่าพี่ละก็ กูจะไม่คบกับมึงอีก …

… I sat there for no more than a few months before the bridge of my nose acquired the job of holding black-rimmed glasses. They gave me loads of confidence. Whenever anybody asked, I said my eyes suddenly started playing tricks on me. They went bad out of nowhere. I didn’t know if I was nearsighted or farsighted, but I knew for sure that I couldn’t see very clearly. My eyes were suspiciously blurry in particular when I had to stare at the products that I had to promote. I didn’t consult any doctors. I just decided to buy my own glasses. It was more of a psychological matter. When I wore them, my view of the world was clearer. It was easier to work with them on. I was better…

View original post 545 more words

Harap

Rubrik Bahasa

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 21 Des 2013

“Saya harap ia berhasil, tapi aku berharap dia gagal.” Demikianlah si Google menerjemahkan ”I hope he succeeds but I expect him to fail”. Ini bukan masalah penerjemahan karena, tentu saja, tidak ada penerjemah kita yang sedogol itu, melainkan cerminan kecenderungan psikologis dalam bahasa Indonesia untuk memadukan subjektivitas dan objektivitas, mikrokosmos dan makrokosmos, keinginan atau keharusan dan kenyataan. ”Saya rasa”, misalnya, biasanya tidak dibedakan dari ”Saya pikir”. Terlihat juga misalnya dalam kalimat ”Memang benar dia telah melakukan tindakan yang tidak benar itu”. Benar yang pertama adalah kenyataan; benar yang kedua adalah keharusan.

View original post 456 more words

Ros Schwartz/Arcadia – translation special

You have to feel empathy with a book to translate it well.

From First Page to Last

Today I am pleased to share a fantastic interview with translator Ros Schwartz and Karen Sullivan from the publishers Arcadia who discuss the fabulous and often unsung work done by translators who help introduce us all to the wonderful world of foreign language fiction.

Ros – What process do you go through when you first receive a manuscript for translation?

I read it and decide whether it’s right for me. You have to feel empathy with a book to translate it well. Once I decide to accept the job, I start thinking about the specific challenges, which are different for each book. These questions are constantly in the back of my mind and I ponder them while swimming lengths, standing in the queue at the Post Office or sitting on a bus.

Ros – How much direct input do you have with the author? Is it a constant flow of…

View original post 1,619 more words

The Queen Must Die, Petualangan Fantasi yang Pertama

Ambhita Dhyaningrum

Salah satu mimpi saya sebagai penerjemah buku adalah menerjemahkan novel bergenre fantasi. Maka, ketika Metamind (Tiga Serangkai) menyodorkan buku ini, bukan kepalang gembiranya hati saya.

Judulnya, The Queen Must Die, ditulis oleh K.A.S. Quinn.

Saya punya kecenderungan tidak dapat melogika sesuatu yang di luar jangkauan logika. Misalnya, saya tidak terlalu percaya pada hal-hal yang berbau mistis, tentang makhluk gaib, dan sejenisnya (meski beberapa kali saya pernah mengalami peristiwa yang mungkin mistis). Jadi, awalnya saya kurang dapat menikmati cerita-cerita fantasi. Ini berkebalikan dengan suami saya. Suami saya adalah pelahap buku-buku fantasi. Saya diuntungkan, karena bisa nebeng baca. Dari sana, saya yang awalnya tidak dapat menikmati cerita fantasi, mulai tertarik. Saya kagum dengan penerjemah fantasi yang dapat menangkap gagasan khayali penulis yang sering kali terlalu liar buat saya, dan menuangkannya kembali dengan menakjubkan.

Meski bergenre fantasi, The Queen Must Die masih cukup mudah dipahami. Tokoh sentralnya adalah Katie Berger-Jones-Burg, seorang anak…

View original post 403 more words