Tanggapan peserta Klinik Terjemahan 2015

Wah. Terima kasih! Senang rasanya melihat banyak masukan atas terjemahan saya, ternyata susah yaaaa menerjemahkan novel, hahaha… Ingin belajar lagi niiiiiih ūüôā
–Shirley P

Terima kasih banyak atas masukan-masukannya yang tentunya sangat berarti buat saya. Semoga dengan pengalaman yang saya terima dari klinik penerjemah ini bisa membuat kemampuan saya lebih terasah dan menjadi penerjamah yang lebih baik.
Sekali lagi, saya ucapkan banyak terima kasih atas rekan-rekan penerjemah senior yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar memberi kami (para penerjemah junior) masukan dan motivasi untuk lebih maju.
–Daris

Terima kasih untuk informasinya. Terima kasih juga untuk koreksinya. Banyak ilmu di sana ūüôā
Senang bisa jadi bagian dari kegiatan ini. Mudah-mudahan kontak kita bisa berlanjut ūüôā
–Demi Melinda

Terimakasih banyak untuk para pengampu klinik ini, saya merasa dapat masukkan yang berharga.
Semoga saya bisa berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya!
–Imam

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memeriksa hasil terjemahan saya
semoga Ibu – ibu senior ini dapat mengadakan kembali latihan seperti ini dengan lebih sering.
–Bosnia

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 07

Teks sumber:

Prologue                                                  

The arguing had gone on most of the night. In her room just three doors down the hall from her parents’ master suite, Abby had been able to hear the sound of raised voices, but not the words. It wasn’t the first time they’d fought recently, yet this time something felt different. The noisy exchange itself and fretting about it kept her awake most of the night.

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she‚Äôd only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time‚ÄĒquite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

She tried to quiet her panic, reminding herself that her dad, Mick O’Brien, left all the time. An internationally acclaimed architect, he was always going someplace for a new job, a new adventure. Again, thoug, this felt different. He’d only been home a couple of days from his last trip. He rarely turned right around and left again.

‚ÄúAbby!‚ÄĚ Her mother sounded startled and just a little edgy. ‚ÄúWhat are you doing up so early?‚ÄĚ

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard. Most teenagers, including Abby and her brothers, hated getting up early on the weekends. Most Saturday it was close to noon when she finally made her way downstairs.

Abby met her mother’s gaze, saw the dismay in her eyes and knew instinctively that Megan had hoped to be gone before anyone got up, before anyone could confront her with uncomfortable questions.

‚ÄúYou‚Äôre leaving, aren‚Äôt you?‚ÄĚ Abby said flatly, trying not to cry. She was seventeen, and if she was right about what was going on, she was the one who was going to have to be strong for her younger brothers and sisters.

Megan’s eyes filled with tears. She opened her mouth to speak, but no words came out. Finally, she nodded.

‚ÄúWhy, Mom?‚ÄĚ Abby began, a torrent of questions following. ‚ÄúWhere are you going? What about us? Me, Bree, Jess, Connor, and Kevin? Are you walking out on us, too?‚ÄĚ

‚ÄúOh, sweetie, I could never do that,‚ÄĚ Megan said, reaching for her. ‚ÄúYou‚Äôre¬† my babies. As soon as I‚Äôm settled, I‚Äôll be back for you. I promise.‚ÄĚ

Terjemahan dan suntingan:

Tiurida-1 Tiurida-2

Ulasan:

  1. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Meski kadang-kadang terkesan sepele, penerjemah yang baik, menurut saya, sangat disarankan untuk memahami kaidah EYD.

Misalnya, pemakaian huruf besar atau kapital. Secara umum, huruf kapital dipakai di huruf pertama sebuah kalimat, nama orang/bulan/tahun/hari, dan dalam petikan langsung. Kata sapa seperti ‘Ibu’ juga harus diawali huruf besar. Kata-kata seperti ‘arsitek’ (profesi) dan ‘beliau’ (kata ganti orang) tidak perlu diawali dengan huruf besar. Pengecualian terdapat pada kata ganti orang ‘Anda’ yang selalu diawali huruf besar.

Pelajari juga pemakaian kata depan ‘di’, ‘ke’, dan ‘dari’, yaitu terpisah dari kata berikutnya. Bedakan kata depan tersebut dengan imbuhan ‘di-‘, yaitu digabungkan dengan kata kerja berikutnya karena menandakan kata kerja pasif. Jadi, gunakan ‘di setiap’ alih-alih ‘ditiap’ dan ‘ke mana’ alih-alih ‘kemana’.

KBBI juga harus menjadi senjata penerjemah. Periksa selalu ejaan yang benar, misalnya untuk ‘air mata’.

  1. Rasa Bahasa

Dalam menerjemahkan, kita juga harus melihat genre dan konteks ceritanya. Kalau dialog terjadi antara ibu dan anak, pilih kata yang tidak terlalu kaku, misalnya ‘kenapa’ dan ‘aku’. Tidak perlu gunakan ‘Anda’ kalau hubungan kedua tokoh sudah akrab.

Kadang-kadang, pemakaian slang atau bahasa sehari-hari juga dibolehkan–dengan catatan, memang sesuai dengan gaya penulisan (disebut juga gaya selingkung) sang penulis.

  1. Logika

Saat menerjemahkan, lama-kelamaan kita akan melihat fakta-fakta yang disebarkan penulis di sepanjang bukunya. Penerjemah sebaiknya bisa merangkai fakta itu agar transfer informasi (dan budaya) berjalan mulus. Misalnya, di paragraf kelima, tertera:

Most teenagers, including Abby and her brothers…

Lalu, di paragraf ketujuh ada kalimat:

for her younger brothers and sisters.

Jadi, bisa disimpulkan Abby anak tertua dan punya beberapa adik. Bahasa Inggris cenderung menyebut ‘brother and sister‘, sementara budaya Indonesia cenderung memakai istilah ‘adik-kakak’. Gunakan fakta di paragraf ketujuh ke paragraf kelima dan gabungkan dengan budaya lokal sehingga lebih aktual dan membumi. Pemakaian kata ‘saudara laki-laki’ atau ‘saudara yang lebih muda’ tidakah salah, tapi kurang efektif sekaligus bisa berarti ganda, yaitu relative atau sanak-saudara.

  1. Tata Bahasa

Meski menerjemahkan ke bahasa Indonesia (bahasa target), kita juga harus cermat memahami bahasa asal (bahasa Inggris). Perhatikan tata bahasa untuk kalimat:

Abby wasn’t surprised that her mother was caught off guard.

Abby tidak terkejut melihat ibunya tertangkap basah.

–> Abby bisa mengerti kalau ibunya tampak terkejut.

  1. Efektif dan Padu

Siapa bilang penerjemah tidak boleh mengubah susunan kata naskah asli pada terjemahan? Menurut saya, khusus untuk novel/fiksi, hal itu sah-sah saja. Anda bisa mengubah susunan kata, bahkan menjungkirbalikkan kalimat-kalimatnya demi mendapatkan kalimat yang koheren, padu, efektif, enak dibaca, dan sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Penting juga diingat bahwa pembaca harus paham dalam satu-kali baca dan Anda tidak merusak gaya penulisan sang penulis.

Misalnya, jika dalam satu kalimat ada terlalu banyak anak kalimat dan malah membuat pembaca bingung (mungkin karena terlalu banyak koma), bagi saja menjadi dua kalimat. Ini cara yang wajar dan jamak.

Pada paragraf pertama dan kedua, ada beberapa susunan yang ‘diputar’ agar lebih efektif dan padu.

Naskah asli:

Until she walked downstairs just after dawn and saw suitcases in the front hallway, Abby hoped she‚Äôd only imagined the difference, that the knot of dread that had formed in her stomach was no more than her overactive imagination making something out of nothing. Now she knew better. Someone way leaving this time‚ÄĒquite possibly forever, judging from the pile of luggage by the door.

Hasil suntingan terjemahan:

Abby berharap bahwa pertengkaran itu hanya imajinasinya, bahwa ketegangan yang terasa membelit di perutnya hanyalah rekayasa imajinasinya yang terlalu berlebihan padahal tidak terjadi apa-apa. Namun, saat menuruni anak tangga beberapa saat setelah fajar dan melihat koper-koper di lorong depan, dia pun mengerti. Kali ini, ada yang pergi‚ÄĒkemungkinan besar untuk selamanya, jika dilihat dari jumlah koper di pintu.

Tips-tips:

  1. Utamakan kalimat yang efektif dan padu agar pembaca mudah mencernanya. Coba posisikan diri Anda sebagai pembaca yang sibuk, pembaca yang tidak punya banyak waktu untuk membaca sebaris kalimat hingga tiga kali supaya paham betul maksudnya.
  2. Jadikan EYD dan tata bahasa (baik bahasa target maupun bahasa asal) sebagai panduan menerjemahkan.
  3. Terus latihan supaya rasa bahasa dan logika terasah. Coba posisikan diri Anda sebagai si tokoh dalam cerita itu. Tanyakan pada diri Anda, “Apakah saya akan berkata seperti itu ke ibu saya?” misalnya.
  4. Selalu periksa ulang fakta-fakta yang disebutkan penulis. Terutama untuk novel bertema sejarah: tahun, nama orang, nama kota, nama negara, dan sebagainya.

 

Silakan terus berlatih!

Riri

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (2)

Peserta: Asrtrid Prasetya

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn‚Äôt thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He‚Äôd asked his psychiatrists‚ÄĒboth Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General‚ÄĒto explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a ‚Äúfellow scientist,‚ÄĚ they‚Äôd talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They‚Äôd listed, but hadn‚Äôt elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn‚Äôt thought much about what the lithium was doing to him. He‚Äôd just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing‚ÄĒlike lack of money, and his messed-up family‚ÄĒthat had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard‚Äôs student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn‚Äôt much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. ‚ÄúThe Marriage Plot.‚ÄĚ Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Astrid_1

Astrid_2

Astrid_3

Catatan penyuntingan:

  1. Untuk penerjemahan judul, usahakan tidak melenceng jauh dari bahasa asal. Gunakan kalimat yang pendek agar tetap
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan ‚ÄúBukan … melainkan‚ÄĚ dan ‚ÄúTidak … tetapi.‚ÄĚ
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah ‚Äútake his destiny … into his own hands.‚ÄĚ
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] Briliant Move (1)

Peserta: Nurul Darmadjaja

Naskah asli:

Brilliant Move

Shortly after learning that Madeleine’s mother not only didn’t like him but was actively trying to break them up, at a time of year on the Cape when the brevity of daylight mimicked the diminishing wattage of his own brain, Leonard found the courage to take his destiny, in the form of his mental disorder, into his own hands.

It was a brilliant move The reason Leonard hadn‚Äôt thought of it earlier was just another side effect of the drug. Lithium was very good at inducing a mental state in which taking lithium seemed like a good idea. It tended to make you just sit there. Sitting there, at any rate, was pretty much what Leonard had been doing for the last six months since getting out of the hospital. He‚Äôd asked his psychiatrists‚ÄĒboth Dr. Shieu at Providence Hospital and his new shrink, Perlmann, at Mass General‚ÄĒto explain the biochemistry involved in lithium carbonate (Li2CO3). Humoring him as a ‚Äúfellow scientist,‚ÄĚ they‚Äôd talked about neurotransmitters and receptors, decreases in norepinephrine releases, increases in serotonin synthesis. They‚Äôd listed, but hadn‚Äôt elaborated on, the possible downsides of taking lithium, and then mainly to discuss yet more drugs that would be helpful in minimizing the side effects. All in all, it was a lot of pharmacology and pharmaceutical brand names for Leonard to digest, especially in his compromised mental condition.

Four years ago, when Leonard had been officially diagnosed with manic depression in the spring semester of his freshman year, he hadn‚Äôt thought much about what the lithium was doing to him. He‚Äôd just wanted to get back to feeling normal. The diagnosis had seemed like one more thing‚ÄĒlike lack of money, and his messed-up family‚ÄĒthat had threatened to keep Leonard from getting ahead, just when he was beginning to feel that his luck had finally changed. He took his meds twice daily, like an A student. He started therapy, first seeing a mental health counselor at Health Services before finding Bryce Ellis, who took pity on Leonard‚Äôs student poverty and charged him on a sliding scale. For the next three years, Leonard treated his manic depression like a concentration requirement in something he wasn‚Äôt much interested in, doing the bare minimum to pass.

Excerpt From: Eugenides, Jeffrey. ‚ÄúThe Marriage Plot.‚ÄĚ Fourth Estate, 2011-10-03T06:00:00+00:00. iBooks.
This material may be protected by copyright.

Terjemahan dan suntingan:

Nurul_Darmadjaja_1

Nurul_Darmadjaja_2

Nurul_Darmadjaja_3

Catatan penyuntingan:

  1. Mengenai penerjemahan judul, Aksi Brilian benar, namun secara rasa saya lebih menyukai Langkah Brilian.
  2. Pelajari lebih banyak tentang aturan gramatikal bahasa Indonesia, misalnya penggunaan ‚ÄúBukan … melainkan‚ÄĚ dan ‚ÄúTidak … tetapi.‚ÄĚ
  3. Nama-nama tempat bisa diterjemahkan atau tidak diterjemahkan, dalam hal ini konsistensi perlu diperhatikan.
  4. Waspada terhadap idiom. Contoh dalam teks di atas adalah ‚Äútake his destiny … into his own hands.‚ÄĚ
  5. Gunakan kalimat yang efektif.
  6. Hasil terjemahan seharusnya tidak terasa seperti terjemahan. Jika struktur kalimat masih seperti bahasa asal, maka ada yang salah dengan terjemahan kita. Coba olah kembali kalimat yang diterjemahkan, dan gunakan struktur bahasa Indonesia. Yang penting maknanya tidak bergeser dan tetap benar.

Pengampu: Berliani M. Nugrahani

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (1)

Peserta: Gita Shanty

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

G: terjemahan Gita.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

G: Hal tersebut tidak membuat banyak perbedaan, bahkan dengan menyengatnya bau busuk.
D: Tak banyak pengaruhnya, bahkan bau busuknya pun tidak.

In that place everything died except me, Stacey Wyatt. the great survivor.

G: Di tempat tersebut, segalanya telah mati kecuali aku. Stacey Wyatt, yang gigih bertahan hidup.
D: Di tempat itu semuanya mati kecuali aku, Stacey Wyatt, penyintas tangguh.

Simak keterangan tentang ‘segala’ dan ‘semua’.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago‚ÄĒtoo long.

G: Ada beberapa waktu ketika aku menyapa maut seperti kawan, bekerjasa sama dengannnya. Tapi itu dahulu sekali.
D:¬†Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerja sama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama‚ÄĒterlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

G: Sekarang, aku menanti di suatu tempat pembuangan dari rencanaku sendiri, yang tahan terhadap apa pun yang mereka lakukan terhadap diriku.
D: Sekarang, aku menanti di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, each dose coinciding with one of Major Husseini’s inspections.

G: Ini adalah keempat kalinya, aku ditahan sejak mereka membawaku ke kamp buruh di Fuad. Tiap dosisnya bertepatan dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Jenderal Huseini.
D: Ini yang keempat kalinya aku dijebloskan kemari sejak mereka membawaku ke kamp kerja paksa di Fuad, setiap kalinya bertepatan dengan inspeksi Mayor Husseini.

‚ÄúMajor‚ÄĚ di sini jelas-jelas menunjukkan pangkat, ¬†jadi terjemahan pangkat Husseini meleset.

In the June war he had been one of the thousands whipped in Sinai and left to stumble home through one of the worst deserts on earth.

G: Di perang Juni,, dia adalah salah satu dari ribuan yang dicambuk di Sinai dan dipulangkan dalam keadaan tertatih-tatih. Melewati salah satu gurun terburuk di muka bumi.
D: Pada perang bulan Juni, laki-laki itu menjadi satu dari ribuan orang yang dicambuk di Sinai dan ditinggalkan untuk tersaruk-saruk pulang melintasi salah satu gurun pasir yang paling garang di dunia.

He had seen his command crumble, men die around him by the hundred from thirst and the sun had burned its way into his brain, starting a fire that could never be put out, leaving him with a hatred for Israel which had developed into a kind of paranoia.

G: Dia telah menyaksikan kepemimpinannya hancur berderai, ratusan orang di sekitarnya mati karena kehausan dan kepanasan akibat dahsyatnya terik matahari. Itu semua memulai api yang tidak akan pernah dapat dipadamkam, api kebenciannya terhadap Israel, yang membangun suatu ketakutan.

D: Dia sudah menyaksikan komandonya hancur, ratusan orang mati di sekelilingnya akibat kehausan dan terik matahari yang seolah-olah memanggang otaknya, menyulut api yang takkan pernah bisa dipadamkan, menyisakan kebencian terhadap Israel yang berkembang menjadi semacam paranoia.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

G: Sebagaimana aku, salah satu dari musuh negaranya, diadili dan dihukum dengan undang-undang subversif. Aku, seorang Yahudi yang bagaimanapun juga berhasil menyembunyikan fakta di pengadilan.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukum atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

G: Juli sebelumnya, Aku mengirim misil sepanjang 40 kaki dari Crete dengan emas dalam jumlah besar, kepada seorang laki-laki di Kairo yang seharusnya bertemu denganku di pantai daerah Ras el Kanayis. Bagian pertukaran yang begitu rumit oleh seseorang, entah di mana, secara fatal malah membuat suatu keberuntungan..

D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

I never did find out exactly what went wrong, but a couple of U.A.R. gunboats appeared rather inconveniently, plus a half company of infantry on the beach.

G: Aku tidak pernah menemukan tepatnya, tetapi beberapa kapal bersenjata milik U.A.R muncul dengan sangat tidak bersahabat, ditambah hampir separuh jumlah pasukan infanteri.
D: Aku tidak pernah tahu apa yang salah, tapi beberapa kapal bersenjata U.A.R muncul pada saat yang kurang menyenangkan, ditambah dengan setengah pasukan infanteri di pantai.

The economy benefited to the extent of half a ton of gold and John Smith, this year’s unknown American citizen, went down for seven years.

G: Ekonomi berpihak kepada setengah ton emas dan John Smith, warga negara Amerika tahun ini, yang tidak begitu dikenal, jatuh selama tujuh tahun.
D: Keuntungan ekonominya mencapai setengah ton emas dan John Smith, warga negara Amerika tak dikenal tahun ini, dipenjara selama tujuh tahun.

Naskah diambil dari novel¬†In the Hour Before Midnight¬†karya Jack Higgins, 1969.¬†Dengan¬†meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya¬†It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad,¬†sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali¬†genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, bahwa, yang, dsb.
  • Dalam menerjemahkan, aku selalu berusaha¬†untuk tidak sering memenggal kalimat, apalagi jika kalimatnya cukup sederhana dan tidak “beranak”.
  • Bila merasa kurang yakin, lakukan riset.¬†Misalnya saat hendak¬†menerjemahkan pangkat militer.
  • Jangan segan-segan¬†memeriksa Ejaan Yang Disempurnakan, terutama untuk penggunaan koma dan titik.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (2)

Peserta: Ahmad Munawir

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku dan sedikit alasanku mengapa menerjemahkan seperti itu. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

A: terjemahan Ahmad.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

A: bahkan tidak ada bau amis dari mayat yang membusuk.
D: bahkan bau busuknya pun tidak.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago‚ÄĒtoo long.

A: Aku sudah pernah menyapa kematian dengan begitu hangatnya, dengan penuh keaktifan bekerja sama dengannya, namun itu semua terjadi dahulu kala, sangat lampau.
D:¬†Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerja sama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama‚ÄĒterlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

A: Sekarang, aku menanti di limbo yang aku rancang sendiri, sebagai bukti perlawanan terhadap apa pun yang mereka telah lakukan kepadaku.
D: Sekarang, aku menanti di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

A: Karena aku merupakan musuh dari negaranya, diuji dan dituduh melakukan aktivitas subversif, aku pasti juga merupakan seorang Yahudi yang entah bagaimana caranya berhasil menyembunyikan fakta tersebut dari hadapan mahkamah.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukuman atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

A: Juli silam aku telah membawa kapal berukuran empat puluh kaki dari Kreta berisi batangan-batangan emas untuk seorang pria dari Kairo yang seharusnya bertemu denganku di pantai Ras el Kanayis, sebagai bagian dari proses pertukaran rumit yang dengannya seseorang entah di mana berhasil mendapatkan keuntungan.

D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

Naskah diambil dari novel¬†In the Hour Before Midnight¬†karya Jack Higgins, 1969.¬†Dengan¬†meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya¬†It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad,¬†sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali¬†genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, merupakan, dsb.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

 

[Klinik Terjemahan 2015] In the Hour Before Midnight (3)

Peserta: Rencia

Sebenarnya ini bukan suntingan, melainkan hasil terjemahan versiku dan sedikit alasanku mengapa menerjemahkan seperti itu. Hasil terjemahanku bukan tanpa kesalahan dan aku mengharapkan kita bisa berdiskusi di sini.

Keterangan:

R: terjemahan Rencia.
D: Terjemahan Dina.

Naskah terjemahan - 03

Perbaikan penerjemahan

Not that it made much difference, not even the stench of putrefaction.

R: Bukan dilihat dari perbedaan yang ditimbulkannya, pun bukan dari bau busuk yang menyengat.
D: Tidak banyak pengaruhnya, bahkan bau busuknya pun tidak.

There had been times when I would have greeted death as a friend, co-operated with him actively, but that was long ago-too long.

R: Dulu aku melewati hari dengan menyapa kematian sebagai seorang teman, bersahabat erat dengannya, tapi itu sudah lama sekali.
D:¬†Ada masanya ketika aku menyambut kematian sebagai teman, bekerjasama dengannya secara aktif, tapi itu sudah lama‚ÄĒterlalu lama.

Now, I waited in a limbo of my own devising, proof against all they could do to me.

R: Sekarang, aku terbuang bersama pemikiranku sendiri, menunggu apapun yang bisa mereka lakukan padaku.
D: Sekarang, menunggu di tempat buanganku sendiri, kebal terhadap segala perbuatan mereka terhadapku.

I’d been in the Hole for three days now, which was what it was called by prisoner and guard alike-a place of darkness and furnace heat where you rotted in your own filth and died from lack of air.

R:¬†Aku sudah 3 hari berada di tempat ini, Hole, setidaknya begitulah para tahanan dan penjaga menyebutnya ‚Äď tempat yang gelap pekat dan panas membakar, dimana kau akan membusuk bersama dagingmu dan mati tercekat tanpa udara.
D:¬†Sudah tiga¬†hari aku berada di lubang,¬†begitulah para tahanan dan penjaga menyebutnya ‚Äď tempat yang gelap dan panas bagaikan tungku,¬†yang bisa membuat orang membusuk di kubangan kotoran sendiri¬†dan mati akibat kurang oksigen.

It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad, each dose coinciding with one of Major Husseini’s inspections.

R: Ini keempat kalinya aku di buang ke tempat ini, mereka akan menyeretku ke markas pekerja di Fuad, dimana segala sesuatunya harus sesuai pada perintah Komandan Husseini.

D: Ini yang keempat kalinya aku dijebloskan kemari sejak mereka membawaku ke kamp kerja paksa di Fuad, setiap kalinya bertepatan dengan inspeksi Mayor Husseini.

‚ÄúMajor‚ÄĚ di sini jelas-jelas menunjukkan pangkat, ¬†jadi terjemahan pangkat Husseini meleset.

In the June war he had been one of the thousands whipped in Sinai and left to stumble home through one of the worst deserts on earth.

R: Pada perang Juni, dia menjadi salah satu dari ribuan orang-orang yang ditebus di Sinai, dan di seret paksa ke satu tempat melewati salah satu gurun terburuk di muka bumi.
D: Pada perang Juni, dia menjadi salah satu dari ribuan orang-orang yang dicambuk di Sinai dan ditinggalkan untuk tersaruk-saruk pulang melintasi salah satu gurun pasir yang paling garang di dunia.

He had seen his command crumble, men die around him by the hundred from thirst and the sun had burned its way into his brain, starting a fire that could never be put out, leaving him with a hatred for Israel which had developed into a kind of paranoia.

R: Kekuasaannya telah runtuh, ratusan manusia mati bergelimpangan karena kehausan dan teriknya matahari telah membakar hangus hingga ke otaknya, memantik api yang tak pernah bisa dipadamkan, menyulutkan kebenciannya terhadap Israel yang terus terbangun menjadi semacam paranoid.
D: Dia sudah menyaksikan komandonya hancur, ratusan orang mati di sekelilingnya akibat kehausan dan terik matahari yang seolah-olah memanggang otaknya, menyulut api yang takkan pernah bisa dipadamkan, menyisakan kebencian terhadap Israel yang berkembang menjadi semacam paranoia.

As I was an enemy of his country, tried and convicted by law of subversive activities, I too must be a Jew who had somehow managed to conceal the fact from the court.

R: Dan aku, karena aku adalah musuh negara, diadili, dan dijatuhi hukuman atas aktifitas gerakan bawah tanah, pastinya aku juga nampak sebagai seorang Yahudi yang tentu saja berencana untuk menyembunyikan fakta dari pengadilan.
D: Karena aku musuh bagi negaranya, diadili dan dijatuhi hukuman atas perbuatan subversif, aku juga dianggap orang Yahudi yang entah bagaimana berhasil menyembunyikan fakta itu dari pengadilan.

The previous July I’d brought a forty-foot launch in from Crete with gold bullion for a gentleman from Cairo who was supposed to meet me on a beach at Ras el Kanayis, part of a complicated exchange process by which someone, somewhere, fatally made a fortune.

R: Juli tahun lalu, aku meluncur bersama kapal sepanjang 40 kaki dari Crete dengan muatan emas dalam jumlah yang sangat banyak untuk seorang laki ‚Äď laki Kairo yang seharusnya bertemu denganku di sebuah pantai di Ras el Kanayis, bagian tersulit dari sebuah proses pertukaran barang yang jika sedikit saja salah langkah, fatal akibatnya.
D: Bulan Juli lalu aku membawa masuk kapal berukuran dua belas meter dari Kreta berisi emas batangan untuk seseorang dari Kairo yang seharusnya menemuiku di pantai di Ras el Kanayis, bagian dari proses pertukaran rumit yang membuat seseorang, di suatu tempat, mengeruk keuntungan besar.

I never did find out exactly what went wrong, but a couple of U.A.R. gunboats appeared rather inconveniently, plus a half company of infantry on the beach.

R: Aku tak pernah menemukan dimana sebenarnya letak kesalahannya, namun sejurus kemudian, sepasang kapal ‚Äď kapal meriam U.A.R muncul, bersama setengah kompi pasukan militer di pantai.
D: Aku tidak pernah tahu apa yang salah, tapi beberapa kapal bersenjata U.A.R muncul pada saat yang kurang menyenangkan, ditambah dengan setengah pasukan infanteri di pantai.

  • Bila sudah diberi kata satuan yang menunjukkan jamak, kata benda tidak perlu diulang. Misalnya, sepasang burung dara, bukan sepasang burung-burung dara.
  • a couple‘ di sini artinya bukan sepasang. Simak selengkapnya.

Naskah diambil dari novel¬†In the Hour Before Midnight¬†karya Jack Higgins, 1969.¬†Dengan¬†meng-Google satu kalimat yang cukup unik dari teks ini, misalnya¬†It was the fourth time I’d been put down since they’d brought me to the labour camp at Fuad,¬†sebenarnya Anda akan mendapatkan nukilan naskah aslinya dan bisa membaca lebih banyak tentang buku ini sehingga bisa mengenali¬†genre dan jalan ceritanya.

Catatan

  • Hindari kata-kata mubazir. Jika tidak perlu, tidak usah mencantumkan seorang, sebuah, merupakan, dsb.
  • Bila merasa kurang yakin, lakukan riset. Misalnya saat hendak menerjemahkan pangkat militer.
  • Jangan segan-segan¬†memeriksa Ejaan Yang Disempurnakan, terutama¬†perhatikan ‚Äúdi‚ÄĚ sebagai kata depan dan ‚Äúdi‚ÄĚ sebagai imbuhan:
    dimana -> di mana
    diantara -> di antara.
  • Simak menerjemahkan “where” vs. di mana.

Terima kasih atas partisipasinya, semoga bermanfaat.

Pengampu: Dina Begum

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 06 (1)

Peserta: Aria Enggar

Sumber:

Page 4

Le Carousel, the annual military festival, traditionally marked the end of a year of training for the young cavalry officers of Saumur. As usual, the July weekend was thick with visitors to the medieval town, keen not just to witness the passing out of the young cavalrymen but the traditional displays of cavalry riding, motorbike acrobatics and the parade of tanks, their great hulls still scarred form the war.

It was 1960. The Old Guard was teetering in the face of an onslaught of popular culture, of shifting attitudes and Johnny Hallyday, but in Saumur there was little appetite for change. The annual performance if twenty-two elite French horsemen, some military, some civilian, who comprised Le Cadre Noir, the highlight of Le Carrousel weekend, was always enough to guarantee that the tickets were sold out within days-to the local community, to those who were imbued with a sense of France‚Äôs heritage, and, on a less cerebral level, to those intrigued by posters all over the Loire region promising ‚ÄėMajesty, Mystery, Horses that Defy Gratify‚Äô.

Le Cadre Noir had been born almost 250 year earlier, after the decimation of the French cavalry in the Napoleonic Wars. In an attempt to rebuild what ha once been considered a crack band of horsemen, a school was created in Saumur, a town which had housed an equestrian academy since the 26th century. Here, a corps of instructors had been gathered form the finest riding schools at Versailles, the Tuileries and Saint Germain, to pass on the high traditions of academic riding to a new generation of offices, and had continued to do so ever since.

Terjemahan dan suntingan:

Aria_1

Pengampu: Istiani Prajoko

[Klinik Terjemahan 2015] Naskah 06 (2)

Peserta: Ratna Atto

Sumber:

Page 4

Le Carousel, the annual military festival, traditionally marked the end of a year of training for the young cavalry officers of Saumur. As usual, the July weekend was thick with visitors to the medieval town, keen not just to witness the passing out of the young cavalrymen but the traditional displays of cavalry riding, motorbike acrobatics and the parade of tanks, their great hulls still scarred form the war.

It was 1960. The Old Guard was teetering in the face of an onslaught of popular culture, of shifting attitudes and Johnny Hallyday, but in Saumur there was little appetite for change. The annual performance if twenty-two elite French horsemen, some military, some civilian, who comprised Le Cadre Noir, the highlight of Le Carrousel weekend, was always enough to guarantee that the tickets were sold out within days-to the local community, to those who were imbued with a sense of France‚Äôs heritage, and, on a less cerebral level, to those intrigued by posters all over the Loire region promising ‚ÄėMajesty, Mystery, Horses that Defy Gratify‚Äô.

Le Cadre Noir had been born almost 250 year earlier, after the decimation of the French cavalry in the Napoleonic Wars. In an attempt to rebuild what ha once been considered a crack band of horsemen, a school was created in Saumur, a town which had housed an equestrian academy since the 26th century. Here, a corps of instructors had been gathered form the finest riding schools at Versailles, the Tuileries and Saint Germain, to pass on the high traditions of academic riding to a new generation of offices, and had continued to do so ever since.

Terjemahan dan suntingan:

Ratna

Pengampu: Istiani Prajoko