Hasil Penyuntingan Klinik Terjemahan Online: Carrie (Stephen King – 1974)

Saya adalah salah satu editor yang berpartisipasi dalam Klinik Terjemahan Buku 2015, dan dalam kesempatan ini saya akan membahas tiga sampel terjemahan dari novel pilihan saya, yaitu Carrie karya Stephen King (1974). Buku ini adalah buku lawas dengan genre horror. Alasan saya memilih buku ini adalah karena saya tahu bahwa Stephen King memiliki gaya yang unik khas Amerika dengan pendekatan yang lumayan lugas namun terkadang menyesatkan.

Saya mengambil cuplikan sampel dari halaman pertama buku ini – saya mengucapkan selamat bagi mereka yang sempat melakukan riset untuk memahami bagian pertama buku, dengan judul bagian: Blood Sport.

Pembahasan singkat dari saya:

  1. Blood Sport

Saya menemukan bahwa banyak yang terjebak dengan melakukan pendekatan literal “Olah raga Berdarah”. Sebenarnya seluruh bagian ini tidak membahas tentang olah raga yang menumpahkan darah, namun lebih ke tindakan “Perburuan” atau “Haus Darah” yang merupakan cerminan topik mengenai kekejaman teman-teman Carrie terhadap dirinya. Saya sengaja mengambil bagian ini karena ingin mengetahui sejauh mana para peserta yang memperoleh sampel ini akan melakukan riset mengenai makna ganda frasa ini.

2.  Bagian menyesatkan pertama adalah cuplikan berita koran yang sengaja dijadikan sebagai alinea pertama dalam buku ini, yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan ngeri sekaligus penasaran. Mohon perhatikan baik-baik bahwa dalam menerjemahkan berita, terkadang kita harus mengadaptasi gaya surat kabar di Indonesia agar pembaca sasaran lebih memahami dan lebih terlibat dalam berita ini:

News item from the Westover (Me.) weekly Enterprise, August 19, 1966:

RAIN OF STONES REPORTED

It was reliably reported by several persons that a rain of stones fell from a clear blue sky on Carlin Street in the town of Chamberlain on August 17th. The stones fell principally on the home of Mrs Margaret White, damaging the roof extensively and ruining two gutters and a downspout valued at approximately $25. Mrs White, a widow, lives with her three-year-old daughter, Carietta.

Mrs White could not be reached for comment.

Saya menemukan dua kali kesalahan yang sebenarnya bisa diatasi dengan mudah melalui riset, yaitu penulisan (Me.). Ini adalah singkatan untuk nama kota yaitu Maine. Selebihnya adalah cara penulisan semata, namun bisa dilihat di sini pendekatan yang memuaskan adalah di tangkapan layar nomor 3.

sc_2

sc_1

sc_3

3. Bagian selanjutnya:

Nobody was really surprised when it happened, not really, not at the subconscious level where savage things grow. On the surface, all the girls in the shower room were shocked, thrilled, ashamed, or simply glad that the White bitch had taken it in the mouth again. Some of them might also have claimed surprise, but of course their claim was untrue. Carrie had been going to school with some of them since the first grade, and this had been building since that time, building slowly and immutably, in accordance with all the laws that govern human nature, building with all the steadiness of a chain reaction approaching critical mass.

What none of them knew, of course, was that Carrie White was telekinetic. 

Di bagian ini, saya menemukan bahwa banyak sekali yang tersesat di bagian “taken it in the mouth again“. Tidak ada makna pasti untuk bagian ini, tapi ada satu situs yang membahas tentang kutipan ini:

http://www.shmoop.com/carrie/women-femininity-quotes.html

Dari kutipan dalam tautan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa bagian ini adalah karakterisasi mengenai orang-orang di lingkungan tempat Carrie bersekolah. Semua orang takut kepadanya tapi juga membencinya karena dia memang gadis yang selalu ditekan dan dianiaya sejak dia mulai bersekolah. Sedikit ulasan juga tentang kemampuan telekinesis, terdapat teori “lama” yang menyatakan bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuan ini ketika mereka berada dalam keadaan tertekan dan teraniaya luar biasa. Sehingga di sini, situasi jiwa Carrie White yang tertekan digambarkan sebagai bom yang setiap saat dapat meledak (“…this had been building since that time, building slowly and immutably, in accordance with all the laws that govern human nature, building with all the steadiness of a chain reaction approaching critical mass.”)

sc_4

sc_5

sc_6

4. Bagian terakhir ini juga menarik:

Graffiti scratched on a desk of the Barker Street Grammar school in Chamberlain:

Carrie White eats shit.

The locker room was filled with shouts, echoes, and the subterranean sound of showers splashing on tile. The girls had been playing volleyball in Period One, and their morning sweat was light and eager.

Girls stretched and writhed under the hot water, squalling, flicking water, squirting white bars of soap from hand to hand. Carrie stood among them stolidly a frog among swans.

Dalam semua sampel terjemahan, “eats shit” diterjemahkan secara literal menjadi “makan sampah/kotoran”. Sebagai penerjemah, kita harus mengasah kemampuan untuk mendeteksi ketika suatu kalimat atau frasa terasa tidak masuk akal atau tidak pada tempatnya. Saya yakin bahwa banyak pembaca yang mengetahui makna tersirat di balik “eats shit“, tapi tidak benar-benar mengetahui maknanya dalam bahasa Indonesia. Tautan berikut dapat membantu:

http://www.urbandictionary.com/define.php?term=eat+shit

Jika dibahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, bisa dikatakan bahwa “Carrie White eats shit” sama dengan “Mampus kau, Carrie White”.

sc_7

sc_8

sc_9

Ada 1001 pendekatan untuk menerjemahkan novel, tapi yang sebenarnya menjadi tujuan akhir adalah mempertahankan aura cerita namun dalam aroma bahasa yang berbeda. Untuk melakukannya, seorang penerjemah buku harus melakukan riset yang menyeluruh dalam hal sinopsis, alur cerita, gaya bahasa, dan kalau perlu, riwayat hidup penulisnya.

Carrie adalah novel Stephen King yang pertama kali dipublikasikan, sebelumnya dia telah menulis banyak novel namun terbentur ke banyak kegagalan. Carrie adalah konsep yang sangat menarik pada masanya karena selain membahas kemampuan telekinesis, novel ini juga bertutur tentang kultur anak-anak SMA yang sarat dengan bullying dan cemoohan terhadap mereka yang dianggap “gak level“. Penerjemah buku yang baik harus dapat menyerap berbagai sisi pemikiran sang penulis agar dapat menuturkannya kembali dengan baik ke bahasa sasaran, dan juga memahami situasi budaya yang menjadi latar belakang novel.

Carrie telah diadaptasi dua kali ke dalam bentuk sinematik namun banyak kritik yang menyatakan bahwa kedua adaptasi ini tidak selaras dengan konsep Stephen King sendiri tentang kengerian, yaitu: bagaimana seseorang yang tertekan bisa menjadi sangat buas, haus darah, dan gelap mata sehingga menghabisi semua orang tanpa pandang bulu.

Demikian ulasan saya, mudah-mudahan bermanfaat. Jangan kapok menerjemahkan novel ya! 🙂

~ Maria