[Klinik Terjemahan 2015] The Dagger in the Desk

Lockwood & Co. The Dagger in the Desk

Naskah diambil dari: http://www.theguardian.com/childrens-books-site/poll/2013/oct/26/lockwood-co-interactive-story-part-1

The day grew late. We worked in our basement office, sorting through our kit. Ghosts hate iron and silver, and they don’t much like salt either, so most of our equipment involves combinations of these. I tested the links on our protective iron chains. George refilled our canisters of salt and iron filings. Lockwood handed us each an explosive magnesium flare. We checked our work-belts, and did a final bit of sword practise in the rapier room. After that, we wolfed down some sandwiches, shouldered our bags and set off for Hammersmith. It was a squally, gloomy afternoon, and the wind blew leaves and litter across the road in little gusts. The ghost-lamps were already on.

St Simeon’s Academy for Talented Youngsters turned out to be a rambling set of unattractive buildings situated not far from the motorway flyover. The main school house, stained dark from years of London smoke, was a mess of steep roofs, gothic turrets, and narrow windows that glinted blackly as we approached. Newer, equally ugly wings in glass and concrete stretched either side.

George considered it gloomily. “That place is simply packed with ghosts,” he said. “I can just tell.”

“Nothing we can’t handle,” Lockwood said. “Right, here’s the door.”

A single light burned in the front porch, and the door creaked open to the touch. Lockwood stepped in first; I followed. George came along behind.

We looked around.

We were in a tiled foyer, with kids’ art on the walls, and a receptionist’s desk along one wall. The air had that familiar tang of floor polish, socks and stale dinners that most schools share. Ahead of us a long panelled corridor stretched away, with heavy doors on either side. The shadows were lengthening now; the light was almost gone. The end of the corridor could not be seen.

We stood there, using our individual Talents. Lockwood and George looked for ghostly traces. I listened for spectral sounds.

All very quiet. Nothing could be heard. Or almost nothing, because just for a moment I thought I caught a faint, metallic rattling…

Gone. It wasn’t anywhere close. Not yet.

“All right,” Lockwood said. “Let’s push on. We’ll go straight to Class 2A.”

George held up his hand. “Wait a sec, Lockwood. First rule of investigation. Always establish a safe base before going deep into a haunted building. We should rig up a strong iron circle here, so we can retreat inside it if anything goes wrong.”

Lockwood frowned. “No point putting iron down here. We’re miles from the ghost. It’s a waste of a chain.”

George glared at him from behind his little spectacles. “Dozens of agents get killed every year because they don’t bother with the correct precautions! It won’t take a minute, and it’s better to be safe than sorry.”

“Well, I think we need to go straight to the heart of things and hunt the enemy out,” Lockwood said. “What do you think, Lucy?”

 

 

 

Terjemahan1.1 Terjemahan1.2 Terjemahan1.3

 

 

 

Terjemahan2.1 Terjemahan2.2 Terjemahan2.3 Terjemahan2.4

 

Terjemahan3.1 Terjemahan3.2 Terjemahan3.3

 

Sumber:

The day grew late.

Late di sini berarti larut, bukan terlambat atau lambat.

 

Terjemahan:

  1. Hari berjalan lambat.
  2. Waktu berjalan dengan lambat.
  3. Hari kian larut. (sudah benar)

Suntingan:

Hari semakin larut.

 

Sumber:

We worked in our basement office, sorting through our kit.

Sebisa mungkin hindari pengulangan kata demi efisiensi kalimat.

 

Terjemahan:

  1. Ketika kami sedang bekerja di kantor bawah tanah milik kami, seperti memilah-milah benda yang ada di dalam peti.
  2. Kami bekerja memilah peralatan kami di kantor bawah tanah.
  3. Kami bekerja di kantor dalam ruangan di bawah tanah, memilah-milah peralatan.

Suntingan:

Kami bekerja di kantor bawah tanah, menyortir perlengkapan.

 

Sumber:

Newer, equally ugly wings in glass and concrete stretched either side.

Perhatikan konteks dan hubungannya dengan kalimat sebelumnya. Wings di sini adalah sayap bangunan, atau bangunan tambahan di sisi bangunan utama.

 

Terjemahan:

  1. Dan terdapat gambar sayap yang jelek di kaca dan gambarnya terdapat merata di kedua sisinya.
  2. Sedangkan bangunan barunya merupakan bangunan beton di sisi bangunan utamanya yang kacanya sama parahnya di kedua sisinya.
  3. Nampak memanjang kaca dan beton yang lebih baru di kedua sisi tetapi sama jeleknya.

Suntingan:

Bangunan-bangunan sayap yang lebih baru namun sama jeleknya, terdiri dari kaca dan beton, memanjang di kedua sisi.

 

Sumber:

George considered it gloomily. “That place is simply packed with ghosts,” he said. “I can just tell.”

Considered it di sini berarti mengamati atau menatap. I can just tell mengindikasikan pernyataan keyakinan.

 

Terjemahan:

  1. George berkata dengan murung. “Tempat ini benar-benar seperti tempat tinggal hantu,” katanya. “Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya.”
  2. “Sudah jelas bangunan ini dikuasai oleh hantu” gumam George lirih. “Hanya itu yang bisa kukatakan.”
  3. George menganggapnya suram, kemudian dia berkata “Tempat ini dipenuhi hantu,” “Aku hanya bilang.”

Suntingan:

George menatap dengan murung. “Tempat ini penuh hantu,” katanya. “Aku punya firasat.”

atau

George menatap dengan muram. “Tempat ini sarang hantu,” katanya. “Aku yakin.”

 

Sumber:

We stood there, using our individual Talents.

Cermati kata berhuruf besar, biasanya menandakan istilah, nama atau kategori. Gunakan huruf besar juga dalam penerjemahannya.

 

Terjemahan:

  1. Kami berdiri di sana, menggunakan bakat kami masing-masing.
  2. Kami ada di sana, dengan segenap kemampuan kami yang ada.
  3. Kami berdiri disitu, menggunakan kemampuan kami masing-masing.

Suntingan:

Kami berdiri di sana, mengerahkan Bakat masing-masing.

 

 

Perlu diperhatikan:

  • Nama tempat, nama bangunan, nama jalan. Gunakan huruf besar. Jika memang ada di dunia kita sekarang, tidak perlu mengubah atau menerjemahkan namanya.

Hammersmith adalah nama distrik di London barat: https://en.wikipedia.org/wiki/Hammersmith

  • Jangan malas meriset. Termasuk meriset judul buku dan penulisnya. Manfaatkan Google dan Wikipedia.
  • Beberapa kata yang sama bisa berlainan arti di negara berbeda. Misalnya kentang goreng di Amerika disebut french fries, tapi di Inggris disebut chips. Suhu udara dalam derajat di Amerika harus kita konversi dari Fahrenheit ke Celsius, tapi Inggris menggunakan Celsius, tidak perlu dikonversi.
  • Perhatikan di dipisah dan di disambung.

Di + lokasi selalu dipisah, misalnya: di atas, di bawah, di tempat, di kamar, di mana, di sana, dll.

  • Gaya bahasa naskah sumber menentukan gaya bahasa terjemahan. Jika penulis menggunakan gaya bahasa populer, terjemahkan dengan sesuai.
  • Memenggal kalimat panjang diperbolehkan asal tidak mengubah inti kalimat dan apa yang hendak disampaikan penulis. Hindari mengubah total kalimat sumber (terlalu banyak menambah atau mengurangi) yang menyebabkan pesan tidak tersampaikan dengan benar.

 

Terjemahan saya:

 

Lockwood & Co. Belati di Meja

Hari semakin larut. Kami bekerja di kantor bawah tanah, menyortir perlengkapan. Hantu benci besi dan perak, mereka juga tidak menyukai garam, maka sebagian besar peralatan kami terdiri dari gabungan bahan-bahan tersebut. Aku memeriksa mata rantai besi pelindung. George mengisi ulang wadah-wadah garam dan serbuk besi. Lockwood membagi-bagikan peledak suar magnesium. Kami memeriksa sabuk perkakas, kemudian berlatih pedang untuk terakhir kali di ruang rapier. Setelah itu kami melahap beberapa tangkup sandwich, menyampirkan tas di bahu dan berangkat ke Hammersmith. Petang itu suram dan berangin, menyebabkan dedaunan dan sampah bertebaran di jalan dalam embusan-embusan kecil. Lampu-lampu hantu sudah dinyalakan.

Akademi St. Simeon untuk Anak-Anak Berbakat ternyata berupa rangkaian bangunan jelek dan berantakan, tidak jauh dari jalan layang. Gedung utama sekolah, kusam menghitam akibat terpapar asap kota London selama bertahun-tahun, terdiri dari tumpukan atap curam, menara-menara kecil bergaya gotik dan jendela-jendela sempit yang berkelip hitam ketika kami mendekat. Bangunan-bangunan sayap yang lebih baru namun sama jeleknya, terdiri dari kaca dan beton, memanjang di kedua sisi.

George menatap dengan murung. “Tempat ini penuh hantu,” katanya. “Aku punya firasat.”

“Semua bisa kita atasi,” kata Lockwood. “Nah, itu pintunya.”

Hanya ada satu penerangan menyala di beranda depan dan pintunya berderit terbuka ketika disentuh. Lockwood yang pertama masuk; aku mengikuti. George menyusul di belakang.

Kami mengedarkan pandangan.

Kami berada di serambi depan berlantai tegel, dengan karya-karya seni anak-anak ditempel di dinding dan meja resepsionis di sepanjang satu sisinya. Di hadapan kami membentang koridor panjang berpanel, dengan pintu-pintu berat di kedua sisi. Kini bayang-bayang mulai memanjang; cahaya hampir lenyap. Ujung koridor tidak terlihat.

Kami berdiri di sana, mengerahkan Bakat masing-masing. Lockwood dan George mencari jejak-jejak hantu. Aku menajamkan telinga untuk menangkap suara-suara gaib.

Segalanya hening. Tidak terdengar apa-apa. Atau nyaris tidak ada apa-apa, karena sejenak aku merasa bisa mendengar sayup-sayup gemerencing logam…

Lenyap. Suara itu tidak berada di dekat kami. Belum.

“Baiklah,” kata Lockwood. “Kita lanjutkan. Langsung ke Kelas 2A.”

George mengangkat tangan. “Tunggu sebentar, Lockwood. Peraturan pertama penyidikan. Selalu menyiapkan tempat aman sebelum masuk lebih dalam ke bangunan berhantu. Seharusnya kita memasang lingkaran besi di sini, agar kita bisa berlindung ke dalamnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Lockwood mengerutkan kening. “Percuma memasang besi di sini. Kita masih jauh sekali dari hantu. Buang-buang rantai saja.”

George memelototi Lockwood dari balik kacamata kecilnya. “Lusinan agen tewas setiap tahun karena tidak mau repot melakukan pencegahan dengan benar! Tidak bakal lama, dan lebih baik berhati-hati daripada menyesal.”

“Yah, menurutku kita langsung saja ke jantung masalah dan memburu musuh,” kata Lockwood. “Bagaimana denganmu, Lucy?”

============

 

Terima kasih telah berpartisipasi dalam klinik terjemahan daring ini, semoga bermanfaat.

 

Poppy D. Chusfani