(Klinik Terjemahan 2015) City of Stars – Pengampu: Rini Nurul

 

Komentar umum:

Materi soal klinik ini saya ambil dari terjemahan buku fantasi remaja yang saya kerjakan enam tahun lalu dan batal terbit. Sengaja saya ambil dari salah satu bab di tengah untuk menyoroti permasalahan kata ganti yang kerap “menjebak”, terutama jika tokoh berjenis kelamin sama. Berikut ini materinya:

The brother that Falco loved best was Gaetano, the

closest to him in age, and he wasn’t handsome at all.

In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide

crooked mouth. He was supposed to look like their

grandfather Alfonso, who had built the great palace at

Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the

brothers, and the most interested in the libraries at

Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could

ride and fence and make up the most wonderful

games. The happiest hours of Falco’s childhood had

been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his

invented romances of knights and ghosts and hidden

treasure and family secrets of madmen and concealed

wills and maps. Their older sister Beatrice could

sometimes be persuaded to play the forlorn maidens

or warrior queens which Gaetano’s invention

required, but often Falco himself, with his delicate

features and huge dark eyes, had to submit to being

wrapped in scraps of muslin or brocade to take the

female roles.

His favourite romances, though, had been the ones

involving swordfights. He and his brother had started

with toy wooden weapons but graduated to bated

foils when Falco was ten. They had fought their way

up and down all the staircases of the palace from the

grand sweep of the main marble one to the mysterious

branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Mengamati hasil terjemahan tiga peserta buat saya mengandung daya tarik tersendiri untuk melihat variasi kosakata, menilik kekuatan masing-masing, ketepatan, rasa bahasa, suasana, dan konteks yang dihadirkan. Tentu saja sempat saya bandingkan dengan hasil sendiri yang sangat mungkin perlu diperbaiki mengingat dulu saya belum mengetahui beberapa hal dan ada kemungkinan ketidaktelitian pula.

Berhubung terjemahan adalah aktivitas yang cukup subjektif, saya tidak menerapkan aturan “terlalu ketat” pada ketiga peserta. Misalnya masalah padanan “pedang lentur” dan “anggar”. Keduanya masuk akal, sependek pengetahuan saya sewaktu berkomunikasi dengan pengarang. Maka saya hormati kedua padanan tersebut.

Jujur, saya bukan “penggemar” deskripsi yang terlalu cermat pula sehingga untuk penggambaran tempat, detail bangunan, dan sejenisnya cenderung leluasa selama hal itu tidak berperan dalam cerita secara keseluruhan. Namun ini bukan sikap yang layak diteladani tentu, sekadar mengutip seorang senior, “Mungkin saja kita berpikir pembaca tak memperhatikannya, tapi apeslah kalau sampai “tepergok” editor.” Saya menganut prinsip penyederhanaan, yang bisa jadi tidak disukai sebagian pembaca fantasi yang fanatik, terkait beberapa kata dan istilah yang hanya muncul satu kali serta lagi-lagi… tidak berpengaruh pada cerita secara keseluruhan. Yang penting logis dan tidak “mengarang” dari teks aslinya.

Ketiga peserta ini sudah mengerjakan sebaik mungkin, dan alangkah gembiranya saya karena rata-rata menguasai ejaan dan tatabahasa. Maka marilah kita tinjau satu demi satu. Oh ya, sengaja nama penerjemah tidak saya cantumkan supaya pengunjung blog ini tidak “salah fokus” dan tetap berkonsentrasi pada upaya belajar dari satu sama lain. Khususnya hasil terjemahannya.

Penerjemah 1

P1-I

P1-2

Catatan: mohon lebih berhati-hati, diusahakan membaca ulang dan membandingkan dengan teks asli supaya tidak terlewat.

Definisi romance dalam konteks di atas menurut TFD:

A long fictitious tale of heroes and extraordinary or mysterious events, usually set in a distant time or place.

Kalau tidak salah, Beatrice memang anak tertua. Karena itu saya biarkan terjemahan “kakak tertua”.

“Bagian masa kecil Falco” perlu ditekankan secara setia karena Falco tidak selalu bahagia.

Penerjemah 2

P2-1

P2-2Catatan:

Mohon perhatikan pemakaian “di”

Demi keterbacaan, hindari terlalu sering memakai kata penghubung “yang”, “adalah”, dll.

“Istana Papal” tidak dikoreksi karena alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Penerjemah 3

P3

Catatan:

Mohon berhati-hati dengan “perangkap” kalimat panjang. Dipenggal saja untuk mempermudah pembaca.

Makna suppose dalam konteks di atas menurut TFD:

To consider to be probable or likely

Koreksi atas koreksi saya sendiri: kain muslin, bukan muslim

Karena Falco dan Gaetano sama-sama pria, juga sering diceritakan dalam satu kalimat atau kalimat yang berdekatan, sebaiknya gunakan nama untuk memperjelas.

Demikian masukan-masukan saya, semoga bermanfaat. Perlu saya sampaikan, ada beberapa hal yang bisa jadi tidak seprinsip dengan editor lain (dan penerbit) karena selingkung berbeda-beda. Selain itu, pengampu pun tidak luput dari khilaf:)