[Klinik Terjemahan 2015] City of Stars – Dian Kristiani

Teks asli

The brother that Falco loved best was Gaetano, the closest to him in age, and he wasn’t handsome at all. In fact, he was quite ugly, with a big nose and a wide crooked mouth. He was supposed to look like their grandfather Alfonso, who had built the great palace at Santa Fina. But Gaetano was the cleverest of all the brothers, and the most interested in the libraries at Santa Fina and at their uncle’s Papal palace.

He was also the most fun to be with. Gaetano could ride and fence and make up the most wonderful games. The happiest hours of Falco’s childhood had been spent with Gaetano at Santa Fina, acting out his invented romances of knights and ghosts and hidden treasure and family secrets of madmen and concealed wills and maps. Their older sister Beatrice could sometimes be persuaded to play the forlorn maidens or warrior queens which Gaetano’s invention required, but often Falco himself, with his delicate features and huge dark eyes, had to submit to being wrapped in scraps of muslin or brocade to take the female roles.

His favourite romances, though, had been the ones involving swordfights. He and his brother had started with toy wooden weapons but graduated to bated foils when Falco was ten. They had fought their way up and down all the staircases of the palace from the grand sweep of the main marble one to the mysterious branched wooden stairs of the servants’ quarters.

Suntingan

Dian Kristiani

Ulasan

Menurut saya, kualitas terjemahan dilihat dari dua hal, ketepatan makna dan keterbacaan. Dari segi keterbacaan, terjemahan ini sudah cukup baik, tetapi ada beberapa catatan dari saya.

  • Keberanian memotong-motong kalimat akan bermanfaat untuk menerjemahkan kalimat panjang. Namun, tidak semua kalimat panjang harus dipotong. Kalau kalimat terjemahan yang dihasilkan masih mudah dipahami dan enak dibaca, tak ada salahnya dibiarkan panjang, agar lebih mendekati gaya bahasa penulisnya. Pemotongan kalimat dilakukan hanya jika ada potensi kalimat itu membingungkan pembaca. Pemotongan paragraf juga sebaiknya mengikuti aslinya.
  • Sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih kata dalam terjemahan. Misalnya, kata “sebaya” biasanya digunakan untuk saudara sepupu atau teman bermain yang berusia sepantar, jarang untuk kakak-beradik yang karena sudah jelas ada perbedaan usia. Permainan biasanya “dibuat”, “diciptakan”, atau “dikarang”, tidak “disusun. Kata “memeragakan kisah” mengesankan bahwa anak-anak ini memerankan kisah di depan orang lain, padahal mereka hanya bermain berdua, berpura-pura menjadi tokoh dalam kisah itu.
  • Kalau tidak benar-benar perlu, sebaiknya hindari penambahan kata-kata yang tidak ada dalam teks aslinya, seperti “meski jelek”, “buku-buku”, “selain itu”, “untuk mendukung perannya”.

Dari segi ketepatan makna, secara keseluruhan sudah cukup baik. Saran saya, untuk kata-kata yang umum sekalipun, seperti “madman” atau “features”, ada baiknya kita mengonfirmasi makna tepatnya dengan melihat kamus, agar terjemahan kita tidak meleset.

suppose: to believe, especially on uncertain or tentative grounds

Rupanya banyak orang menganggap Gaetano ini mirip dengan kakeknya, tetapi tampaknya Falco sendiri tidak tahu pasti. Ketika saya coba mencari cerita ini di internet, ternyata si kakek ini memang meninggal dua puluh tahun sebelum Falco lahir. Jadi, Falco hanya tahu soal kemiripan ini dari perkataan orang lain, bukan menilai sendiri.

Papal: Of, relating to, or issued by a pope

Sebaiknya gunakan istilah yang lebih umum digunakan dan lebih mudah dipahami oleh orang non-Katolik.

madman: a man who is insane, esp one who behaves violently; lunatic

Kata “mad” memang bisa berarti “marah”, tetapi biasanya “madman” merujuk pada orang gila. Lagi pula, orang pemarah tidak perlu dirahasiakan oleh keluarga, bukan? Biasanya orang malu memiliki kerabat orang gila dan itulah yang menjadi rahasia keluarga.

features: the overall appearance of the face or its parts.

Rupanya wajah Falco ini lembut, sehingga mirip perempuan dan cocok memerankan tokoh perempuan dalam cerita.

graduate: to advance to a new level of skill, achievement, or activity

Penulis sengaja memilih kata ini untuk menggambarkan bahwa Falco dan Gaetano semakin mahir berpedang, yang tadinya hanya menggunakan pedang mainan, kemudian memakai pedang anggar. Sebagai penerjemah, ada baiknya kita mencari cara untuk mencerminkan pilihan kata si penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s