Harap

Rubrik Bahasa

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 21 Des 2013

“Saya harap ia berhasil, tapi aku berharap dia gagal.” Demikianlah si Google menerjemahkan ”I hope he succeeds but I expect him to fail”. Ini bukan masalah penerjemahan karena, tentu saja, tidak ada penerjemah kita yang sedogol itu, melainkan cerminan kecenderungan psikologis dalam bahasa Indonesia untuk memadukan subjektivitas dan objektivitas, mikrokosmos dan makrokosmos, keinginan atau keharusan dan kenyataan. ”Saya rasa”, misalnya, biasanya tidak dibedakan dari ”Saya pikir”. Terlihat juga misalnya dalam kalimat ”Memang benar dia telah melakukan tindakan yang tidak benar itu”. Benar yang pertama adalah kenyataan; benar yang kedua adalah keharusan.

View original post 456 more words

Advertisements