Mau foreignization atau domestication?

Pertanyaan Andina Rorimpandey mengenai:

Bagaimana jika saya ingin mempertahankan unsur keasingan sebuah objek (tidak diterjemahkan), misalnya:
1. Nama jalan: Rue du Pont Neuf — bukan Jalan du Pont Neuf
2. Madame François — bukan Nyonya François.
3. Beberapa nama benda seperti limousine (mantel tebal abad 19), yang hanya saya bikin italic dan saya beri footnote.
Versi Inggris novel ini juga melakukan hal yang sama.

Berikut tanggapan Femmy Syahrani:

Saya juga pernah memikirkan hal yang sama tentang ini. Mau foreignization atau domestication?

Dalam terjemahan novel anak Enid Blyton atau Trio Detektif, seingat saya, domestikasi ini lebih diutamakan. Misalnya, sapaan menggunakan Pak, Bu, atau Nyonya, Nona, Tuan. Demikian pula nama-nama makanan-minuman yang sering muncul dalam acara piknik atau pesta tengah malam Namun, dalam terjemahan novel zaman sekarang, tampaknya sapaan seperti Mr, Mrs, Lord, dan sebagainya cenderung dipertahankan.

Tapi, bagaimana dengan terjemahan yang bukan dari bahasa Inggris? Kalau hal-hal seperti ini tidak diterjemahkan, apakah pembaca akan paham?

Sewaktu saya membaca buku “Is That A Fish In Your Ear?” soal topik ini, saya baru sadar, memang kedekatan pembaca sasaran dengan budaya sumber bisa menjadi faktor pertimbangan dalam memutuskan hal seperti ini. Buku itu memberi contoh antara terjemahan Prancis-Inggris dan Jerman-Inggris. Kasus pertama lebih banyak memakai foreignization daripada kasus kedua, karena Inggris lebih dekat dengan budaya Prancis, jadi orang Inggris lebih mudah memahami hal-hal yang dipertahankan dalam bahasa Prancis. Sebaliknya orang Inggris tidak terlalu paham budaya Jerman, dan mempertahankan istilah Jerman bisa membingungkan.

Demikian pula dalam penerjemahan Inggris-Indonesia. Dulu budaya Inggris mungkin masih terasa asing, jadi kita santai-santai aja membaca berbagai hal di-Indonesia-kan. Sekarang masyarakat kita sudah lebih akrab dengan budaya mereka, jadi justru kadang lebih nyaman kalau beberapa istilah tertentu dipertahankan dalam bahasa Inggris.

Kembali ke pertanyaan semula. Kedekatan masyarakat Indonesia dengan budaya Prancis berbeda dengan kedekatan masyarakat Inggris dengan budaya Prancis. Jadi, istilah Prancis mana saja yang dipertahankan dalam novel versi Inggris belum tentu bisa dijadikan patokan. Kita sebagai penerjemah mungkin harus memilih-milih juga, mana yang dipertahankan dan mana yang diterjemahkan bagi pembaca Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s