You don’t want to know about it

Arif Subiyanto
“Please mommy, tell me: how did you meet daddy?”
“You don’t want to know about it.”

Para penerjemah muda cenderung menerjemahkan kalimat di baris 2 menjadi “Kau tak ingin mengetahuinya.” Terjemahan tersebut akurat, grammatically correct, tapi makna atau roh kalimatnya hilang. Sekali lagi, meskipun anda sudah membuka kamus dan menguasai grammar, saya tetap sarankan anda menghormati logika. Buat apa si ibu menjawab begitu sedangkan si anak benar-benar ingin tahu kisah perjodohan orang tuanya. Jawaban yang benar adalah: “Kau tak perlu tahu soal itu” atau “Lebih baik kau tidak tahu.”
Demikian pula untuk kalimat berikut: “Dianne, you are not going anywhere tonight.” Jangan terjemahkan menjadi “Dianne, kau tak pergi ke mana-mana malam ini.” Yang benar, “Kau tak boleh pergi ke mana-mana malam ini, Dianne.” Lepas dari segala penjelasan teknis, harus selalu kita sadari bahwa menerjemahkan adalah sebuah seni.
(Repost status facebook Tgl 16 Feb 09.07 pm)
March 19, 2012 at 6:24pm

Arif Subiyanto Q: Sir, what should we say “sampai di mana pembicaraan kita tadi?” in English? Thanks.
A: Dlm kehidupan nyata sangat lazim terjadi interupsi atau gangguan saat kita berbincang2, berceramah atau berdialog. Setelah interupsi (yg berupa kedatangan tamu, panggilan telepon atau SMS, dsb) itu lewat, kadang kita lupa apa yg kita bicarakan tadi. Nah, cara kita bertanya dlm bhs Inggris tergantung pada panjang-pendeknya interval yg terjadi. Kalau pembicaraan terputus hanya dlm beberapa detik (tapi kalian sudah lupa point pembicaraan terakhir) katakan: “Oh, where are we?” tapi kalau interupsi itu terjadi cukup lama, maka sesuaikan tenses-nya: “By the way, where we were?” Kalau kita mau mengatakan “mari kembali ke pokok pembicaraan tadi,” katakan: “Let’s go back to where we were,” atau cukup katakan “Sorry I drifted off a little bit, now back to our topic…”

Saya suka pertanyaan2 seperti itu. Kesannya innocent dan sepele, tapi percayalah, belum tentu semua orang tahu jawabnya. Keep on learning, fellas! (Repost status facebook tgl 29 Januari 02.22 pm)
March 19, 2012 at 6:27pm · Like

Rini Nurul Badariah Terima kasih banyak, Pak Arif. Saya sering sekali bertemu kasus seperti di atas:-)
March 19, 2012 at 6:29pm via mobile · Like · 1

Arif Subiyanto Q — sorry to interrupt your work Sir. Saya sdh berusaha buka kamus tapi mentok. Apa bhs Inggris utk (1) ‘suara tawa yg sayup-sayup (kadang keras, kadang tak kedengaran) krn berasal dari tempat jauh; (2) suara tawa ngakak yg keras; (3) adj, satu kata yg tepat untuk ‘agak gemuk’; (4) ekspresi yg bagus untuk ‘godaan nafsu yg menggelitik’ tapi bukan idiom. (5) intoleransi agama; (6) pesona yg bikin gemas atau merinding. Thanks a million

A — (1) ripple of laughter; (2) peal of laughter; (3) corpulent; (4) the sweet sting of desire, infatuation, lust, etc; (5) religious intolerance – atau – religious narrow-mindedness; (6) tingle of fascination. (Repost status facebook tanggal 17 Januari 05.55 pm)
March 19, 2012 at 6:29pm · Like

Arif Subiyanto Rini Nurul Badariah–terimakasih apresiasinya, bu moderator. It’s gonna be a long night for me, harus lembur karena dikejar bangkai singa, tapi saya mau menyapa teman2 dahulu dengan sharing beberapa repost status yang semoga bermanfaat.
March 19, 2012 at 6:30pm · Like · 2

Arif Subiyanto Q: [He came closer, whispered almost inaudibly in my ear that he would rather kill himself than let me go, but I believed it was tongue in cheek]. ‘tongue in cheek’ maksudnya apa pak? Apa itu ucapan yg tidak jelas krn kesulitan bicara? Saya jadi ingat teori ttg points of articulation dan organs of speech. Tx.
A: Pertanyaan yg bagus, sekaligus menyedihkan. Bagus krn kau serius menyimak isi bacaan. Menyedikan krn kau malas membuka kamus. ‘Tongue in cheek’ has nothing to do with speech impediment. Mbok dibuka kamusnya, dgn mudah akan kau temukan penjelasan bahwa ‘tongue in cheek’ = perkata yg tidak serius, yg dimaksud sebagai seloroh atau humor belaka.
Q: Jadi gimana dong translate-nya?
A: Dia mendekat, lalu berbisik sangat lirih di telingaku: katanya lebih baik dia bunuh diri ketimbang melepaskan aku, tapi aku yakin dia hanya bercanda. (Repost status facebook tanggal 14 Januari 05.29 pm)
March 19, 2012 at 6:31pm · Like · 1

Desak Pusparini Sangat sangat bermanfaat, terutama bagi saya yang belum lama menekuni dunia penerjemahan. Terima kasih, Pak Arif. *Terus menyimak*
March 19, 2012 at 6:36pm · Like · 2

Arif Subiyanto Q: Bpk, bolehkah ‘deafening silence’ sy translate jadi ‘kesunyian yang mencekam?’ soalnya kalau dijadikan ‘kesunyian yang memekakkan telinga’ kok janggal gitu. Tks.

A: Tidak boleh, mas. ‘Deafening silence’ itu artinya “silence or the absence of response (usually from a huge audience) that suggests something significant like dislike, disagreement or simply diffidence. Artinya kurang lebih “sikap diam dari lawan bicara atau majelis yang menyiratkan atau menunjukkan rasa tidak suka, tak setuju atau keengganan.” Contohnya begini: Her long, tearful speech on the ozone layer depletion in the North Pole only met deafening silence and hushed expression of boredom by the senators. Dalam ilmu bahasa, inilah yg disebut gaya bahasa ‘oxymoron’ di mana dua ide yang berlawanan atau kontras dipadukan dan menciptakan efek yang sangat berkesan.
(Repost status facebook tanggal 13 Januari 12.33 am)
March 19, 2012 at 6:37pm · Like · 1

Rini Nurul Badariah Maaf belok sedikit Pak Arif, adakah rekomendasi kamus yang bisa jadi pegangan? Saya tak berani bilang superlengkap. Barangkali ada kamus tertentu yang kami belum tahu. Terima kasih.
March 19, 2012 at 6:38pm via mobile · Like

Arif Subiyanto Rini Nurul Badariah–saya ada 8 kamus yang saya install di laptop: Cambridge, Longman, Oxford, Collins Cobuild, MacMillan, Cambridge, Encarta, terus apa lagi ya? Lupa, hahaha. Kalau mbak Rini mau, saya bisa kirimkan CD kamus Cambridge untuk diinstal di laptop teteh. Kamus yang lain juga bisa, tapi saya musti buatkan dulu copynya di sekeping DVD. Mau?
March 19, 2012 at 6:41pm · Like · 2

Arif Subiyanto Q—Boleh tanya bhs Inggrisnya ‘mengusir’ itu apa?
A—Tergantung siapa mengusir apa, dan konteksnya apa!
*Mengusir atau mengasingkan orang yg tak disukai penguasa, atau mengusir pikiran buruk dari otak = banish / expel.
*Mengusir diplomat yg memata2i suatu negara atau mengeluarkan murid yg bandel = expel.
*Mengusir warga asing = deport.
*Mengusir penyewa gedung yg menyalahi aturan atau mengusir musuh = evict. *Mengusir nyamuk atau mengusir pengemis dari rumah = repel.
*Phrasal verb (informal) untuk mengusir = drive out / kick out / send out.
* Mhs harus telaten membaca dan buka kamus, dosen harus kreatif dan jangan mudah berpuas diri.
(Repost status facebook tanggal 21 Desember 2011, 09.53 am)
March 19, 2012 at 6:42pm · Like · 1

Arif Subiyanto Ada yg tanya: bhs Inggrisnya ‘mendiamkan’ itu apa? Krn maksudnya gak jelas, saya beri bbrp alternatif. Mendiamkan krn marah dlm bhs Inggris = “giving silent treatment.” (Why are you giving me that silent treatment?). Kalau saling mendiamkan, putus silaturahmi krn pertengkaran, bhs Inggris = “estranged” (These two old friends have been estranged from each other following their irreconcilable conflict). Tapi diam ada yg positif. Diam dlm pengertian saling tdk mengganggu. Bhs Inggrisnya: “companionable silence.” (They just sat opposite each other, looking into each others’ eyes in companionable silence). Bhs Inggris bisa cantik juga, kan?

(Repost status facebook tanggal 17 Desember 04.32 pm)
March 19, 2012 at 6:44pm · Like · 1

Arif Subiyanto “he glowered back and mouthed a silent curse…” Ha ha ha… Bgm kalian mau terjemahkan kalimat edan itu? Intinya: dia balas melotot, lalu mulutnya berkomat-kamit mengucapkan sumpah serapah tapi tanpa suara. Hayo, siapa bisa terjemahkan kalimat ini? Holy shit, how I love my bloody translation job, hahaha. (Repost status facebook tanggal 28 November 12.19 pm)

OK, stop sampai di sini dulu bagi-bagi informasinya (saya tidak menganggap ini ilmu yang berguna). Dilanjut besok, Sekarang waktunya mencumbui malam, bergumul dengan kalimat, bercanda dengan fantasi, ditemani Yanni, George Benson, Francis Goya, Ikke Nurjanah, Chaka Khan, dan kalian semua yang tentunya senasib dengan saya, yang rela mengorbankan tidur yang nyenyak demi rasa cinta pada suatu profesi
March 19, 2012 at 6:52pm · Like · 1

Tika Sofyan *menyimak dan mencatat* Thanks a million, Pak Arif Subiyanto
March 19, 2012 at 7:16pm · Like · 1

Arif Subiyanto Tika Sofyan–my pleasure. Mbak Tika tinggal di Solo ya? Duhhh, jadi pengin mudik ini, hmmm. Kangen nyruput wedang ronde di Slamet Riyadi
March 19, 2012 at 7:17pm · Like

Tika Sofyan Arif Subiyanto iya, Pak. Hehehe… Bapak asli Solo juga ternyata?
March 19, 2012 at 7:25pm · Like

Arif Subiyanto Tika Sofyan–Asli, limited edition pula. Saya sejak TK, SD, SMP, sampai kuliah di Solo (UNS, Sastra Inggris). Mulai 1992 merantau dan tidak kembali lagi, tapi reguler masih pulang ke rumah ibu saya di Petoran, Jebres… masih mbok-mboken
March 19, 2012 at 7:27pm · Like

Tika Sofyan Arif Subiyanto ooalah ternyata… :)) saya malah balik kampung setelah merantau lama. (lho kok malah jagongan di sini..) *kembali buka buku catatan, ambil potlot* Pak, kalau “His eyes gleamed with amused impatience.” Supaya tidak terjadi “…ketidaksabaran yang geli” diterjemahkannya bagaimana ya Pak?
March 19, 2012 at 7:37pm · Like

Arif Subiyanto Tika Sofyan–Kita pahami dulu kalimatnya. Kalau pakai istilah saya di kelas Translation: let us reconstruct this sentence using our imagination: matanya berkilat-kilat, orangnya setengah tidak sabar, tapi geli juga… kan begitu? Nah sekarang kita terjemahkan dengan baik (menerjemahkan dengan baik itu belum tentu harus akurat. kadang bisa kita tambah-tambahi sedikit, atau kadang kita hilangkan bagian yang tidak mungkin diterjemahkan). Kalau versi saya: “Matanya berkilat-kilat, menahan kesal dan geli.” Ini versi saya. Bisa juga: “Matanya berkilat-kilat, setengah jengkel, setengah geli.” Kalau diberi konteks atau dikutipkan paragrafnya pasti bisa ditemukan pembenarannya, misalnya saat seseorang berhadapan dengan orang yang menjengkelkan tapi juga lucu. Terjemahan yang saya buat biasanya saya sertai catatan (footnote atau endnote) yang berisi alternatif2nya atau penjelasan supaya editor paham. Sejauh ini saya sudah berhadapan dengan editor hebat dan inspirational, salah satunya adalah mbak Ambhita Dhyaningrum. Ada juga editor yang ngeselin dan bikin saya ngamuk-ngamuk, tapi tidak etis dibahas di sini, hehehe, entar disemprit bu moderator
March 19, 2012 at 7:50pm · Like · 2

Arif Subiyanto Tika Sofyan–saya kutipkan nasehat saya untuk murid2 di kelas Translation saya: “English and Indonesian are different languages originating from different countries with different historical and cultural backround, located oceans apart, nurtured and used by people embracing different faiths and having different ways of looking at the world.” Masing-masing bahasa punya roh dan kekhasan sendiri yang kadang sulit disandingkan satu sama lain. So, prinsip yang paling penting adalah: menerjemahkan ke dalam bahasa sasaran dengan ekspresi atau ungkapan yang paling natural, wajar, fasih, enak dibaca/didengar tanpa mengubah isi pesan atau roh cerita.
March 19, 2012 at 7:55pm · Like · 6

Linda Boentaram mba Tika Sofyan : alternatif lain “dng tidak sabar bercampur geli”
March 19, 2012 at 8:03pm · Unlike · 3

Linda Boentaram aduh liat wejangan2nya pak Arif Subiyanto serasa balik kuliah (buka notepad…copas…)
March 19, 2012 at 8:04pm · Like · 1

Arif Subiyanto Linda Boentaram–hehe, saya memang lebih suka ceramah online begini, sebab saya tidak melihat mahasiswa yang bisik-bisik sendiri dan membuat saya tersinggung, haha…
March 19, 2012 at 8:05pm · Like · 2

Linda Boentaram klo boleh saran pak…mba Femmy Syahrani punya blog Catatan Penerjemahan yg sering kita pakai sbg referensi, bgm klo bapak ikutan jd kontributor di sana? jd semua catatan penerjemahan khususnya yg berhubungan dng buku bs kumpul di 1 tempat. tp ini usul aja lho ya…maaf klo ada yg kurang berkenan
March 19, 2012 at 8:07pm · Like

Arif Subiyanto Linda Boentaram–bisa dipertimbangkan, why not?
March 19, 2012 at 8:10pm · Like · 1

Linda Boentaram ^ asyikk…oh iya, ttg yg ini: “Holy shit, how I love my bloody translation job, hahaha” – “ebuset, gw demen banget kerjaan ini hahaha” *lari sblm dikeplak*
March 19, 2012 at 8:13pm · Like · 1

Arif Subiyanto Linda Boentaram–kalaupun pada akhirnya jawabannya adalah tidak, alasannya hanya satu: kemungkinan besar kami punya gaya bahasa dan interpretasi yang berbeda dalam menyikapi teks. Ada orang yang suka menerjemahkan dengan singkat-singkat, ada yang suka berbunga-bunga, ada yang taat azas dan masih terpasung di pemahaman grammatikal tanpa peduli konteks… Ini sekaligus menegaskan bahwa apa yang saya posting di sini belum tentu benar dan mutlak. Kadang saya terbawa perasaan, kadang dipengaruhi oleh suasana hati atau sentimen tertentu. Jadi untuk sementara lebih baik kita sendiri-sendiri dulu saja
March 19, 2012 at 8:14pm · Like · 2

Femmy Syahrani Linda, terima kasih menyebutkan blog saya di sini. Sebenarnya ada beberapa blog penerjemahan serupa, kan? Ada blog Melody, Lulu, dan blog Linda sendiri

Pak Arif, silakan lihat blog tersebut di http://penerjemahan.wordpress.com untuk melihat-lihat isinya. Kalau Pak Arif berkenan menjadi kontributor di sana, saya sambut dengan senang hati.
March 19, 2012 at 8:48pm via · Like · 1

Arif Subiyanto Mbak Femmy Syahrani–siaap, nanti saya luangkan waktu untuk menyimak dan mengagumi blog anda. Makasih bangettt
March 19, 2012 at 8:54pm · Like

Linda Boentaram Femmy Syahrani : iya mba, cuma sy rasa blog mba plg tepat krn khusus membahas tips dan trik penerjemahan dan dikelola bbrp kontributor, lain dng blog saya yg terutama bicara pengalaman pribadi sbg penerjemah aja
March 19, 2012 at 9:09pm · Like · 2

Oktaviani Hastu Sudiyarto Pak Arif Subiyanto, izinkan ikut kuliah Bapak di dunia maya ini (issh, Maya jg nama teman saya). Minta izin pula untuk menyalinnya!
March 19, 2012 at 9:41pm · Like · 1

Arif Subiyanto Oktaviani Hastu Sudiyarto–dipersilakan, selagi baris depan belum sepenuhnya terisi, monggo monggo
March 19, 2012 at 9:43pm · Like

Oktaviani Hastu Sudiyarto Xixixi. Kuliah dunia maya …. Siap! [Asyiknya boleh ditinggal terlelap tanpa ketahuan dosen. Ups!]
March 19, 2012 at 9:51pm · Like · 1

Tika Sofyan *Catat* Terima kasih Pak Arif Subiyanto Linda Boentaram Iya, terima kasih Mbak jadinya kuterjemahkan begitu.
March 20, 2012 at 3:19am · Like · 1

Rini Nurul Badariah menerjemahkan dengan baik itu belum tentu harus akurat. kadang bisa kita tambah-tambahi sedikit, atau kadang kita hilangkan bagian yang tidak mungkin diterjemahkan-> Wah, saya serasa punya teman/pijakan ‘hukum’. Ini saya rasakan ketika menyunting. Mantap, Pak Arif Subiyanto
March 20, 2012 at 6:12am · Like · 2

Rini Nurul Badariah Oh ya Pak, izin copas beberapa kalimat untuk distatusFB-kan. Mohon tidak disemprit karena bikin istilah ngawur begini:)
March 20, 2012 at 6:13am · Like · 1

Advertisements